Ketoprak Dor Lakon Joko Pantang Menyerah
Para pelaku seni tradisi ketoprak tak berpretensi memperkaya diri dalam berkesenian
Di samping memijat, sejak muda, sekitar tahun 1970, Waris senang sekali menonton ketoprak dor di daerah Bulu Cina tak jauh dari perkebunan tembakau Helvetia.
Dia kerap ikut teriak-teriak ketika sinden menyanyi. Juga ikut terbahak ketika adegan lawak di sela-sela lakon ketoprak. "Karena sering melihat ketoprak dor, hampir tiap minggu, saya tertarik ikut main. Sampai sekarang," kata Waris.
Waris dibesarkan oleh lingkungan untuk menjadi seniman. Dia menghafal lakon dan tembang-tembang juga dari hasil menonton ketoprak dor. Dia biasanya memerankan tokoh ibu atau obyek penderita dalam lawakan ketoprak.
Jumadi tak memiliki keturunan darah seni. Tumbuh di daerah Sei Mencirim tak jauh dari Perkebunan Tembakau. Daerah yang sempat bernama Purwojati dihuni orang-orang Jawa perantauan.
Di sana tumbuh kembang seni tradisi Jawa yang sudah mengalami percampuran dengan berbagai budaya dan seni Tanah Deli, termasuk ketoprak dor.
Agak berbeda dengan Aseng yang terpengaruh ayahnya dalam bermain ketoprak. Darah seni itu yang membuatnya tertarik berkesenian.
Jumadi dan Aseng menjadi sahabat dekat dan merintis Langen Setyo Budi Lestari, kelompok ketoprak dor yang masih eksis di Sei Mencirim.
Beberapa tetangga ikut bergabung, salah satunya Parman (63), mantan pekerja perkebunan yang mahir memainkan bas dan drum. Dia banyak belajar dari pamannya.
Jumadi terkenal kreatif mencipta lakon ketoprak dor. Lakon yang banyak diingat warga antara lain Joko Bodo, Anak Durhaka, Ibu Tiri, dan Paman Berdosa.
Lakon-lakon itu dia ciptakan berdasarkan lagu atau dongeng seperti Malin Kundang.
"Kadang saya menonton TV terus kepikiran membuat lakon. Ya gitu saja," ujarnya.
Jumadi berharap kelak ada yang meneruskan kelompok ketopraknya. Dia senang ketika salah satu anaknya, Hartono (37), aktif berketoprak di samping bekerja sebagai sopir mobil operasional Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara (USU).
Miris
Para pemain ketoprak miris dengan makin sepinya penanggap ketoprak dor. Namun, mereka bersyukur dipertemukan dengan Yono (40), akademisi dari USU, Medan.
Yono yang memiliki perhatian khusus pada kesenian Jawa di Tanah Deli itu membantu pelaku seni tradisi bertahan dengan mencari penanggap. Malam tahun baru nanti, ketoprak dor akan main di halaman Masjid Raya Medan.
"Biaya operasional sudah ada, tinggal mencari uang untuk uang saku pemain," kata Yono yang melakukan semua itu secara pro bono.
Para pemain ketoprak dor yang kesulitan bertahan hidup itu tidak akan pernah menyerah mempertahankan hidup ketoprak dor.
"Kalau bukan kami para keturunan orang Jawa ini yang melestarikan, terus siapa lagi. Selama kami bisa bergembira, ya kami naik panggung," kata Jumadi. (Mohammad Hilmi Faiq)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/20151228ketoprak-dor-lakon-joko-pantang-menyerah1_20151228_144530.jpg)