Ketoprak Dor Lakon Joko Pantang Menyerah
Para pelaku seni tradisi ketoprak tak berpretensi memperkaya diri dalam berkesenian
Upah manggung semalam suntuk Sabtu malam lalu rata-rata pemain hanya mendapatkan Rp 100.000.
Itu termasuk lumayan karena biasanya hanya setengah dari upah itu. Namun, belum tentu dalam sepekan sekali ketoprak dor manggung.
Bahkan, pernah Jumadi dan Aseng harus berjalan kaki menyusuri jalan sepanjang 9 kilometer lantaran sehabis main tak dibayar penanggap. Padahal, sejak dari rumah mereka tidak membawa uang cukup untuk naik angkutan kota.
"Awalnya saya mengira Kang Jumadi sudah dibayar. Rupanya Kang Jumadi mengira saya yang menerima. Padahal, kami sama- sama belum dibayar. Sementara rombongan lain sudah pulang ke rumah masing-masing. Terpaksa jalan kaki," kata Aseng.
Kelompok ketoprak dor yang dipimpin Jumadi termasuk laris. Setidaknya dalam dua bulan mereka manggung dua sampai tiga kali. Bandingkan dengan kelompok ketoprak Langen Margi Agawe Rukun Santoso yang dipimpin Suriat (65).
Sudah setahun lebih kelompok ketopraknya tak manggung. Sempat ditawari manggung oleh sebuah kepanitiaan perayaan HUT RI tahun lalu, tetapi batal tanpa alasan jelas.
"Regenerasi penonton ketoprak dor ini tidak ada. Terlalu banyak hiburan di televisi dan kibor (organ tunggal)," kata Suriat.
Suriat sendiri bertahan hidup dengan bekerja sebagai buruh pada pabrik cat tak jauh dari rumahnya di Kelurahan Tanjung Mulia, Kecamatan Medan Deli, Kota Medan.
Anggota ketoprak lainnya bekerja sebagai kuli bangunan, dukun beranak, penjual kue keliling, dan tukang cuci baju.

Bertahan
Sejak awal, para pemain ketoprak tidak berpretensi mencari hidup di atas panggung. Dorongan mementaskan lakon-lakon ketoprak dor lebih pada upaya menghibur diri dan, tentu saja, menghibur penonton.
"Tiap hari pencet-pencet kenthol (betis) orang ya bosan juga. Pas manggung begini kan bisa joget, nyanyi, teriak-teriak ha-ha-ha. Jadi happy, senang," kata Waris (61).
Waris yang tinggal di daerah Bulu Cina, Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang, ini sehari-hari bekerja sebagai tukang pijat bagi warga yang baru melahirkan.
Juga pijat untuk para bayi. Dalam sepekan, tiga sampai lima warga dia pijat. Kadang mereka datang ke rumah Waris, tetapi lebih sering Waris yang mendatangi mereka.
Bayarannya pun seikhlasnya dan tak selalu berupa uang. Keahlian memijat dia dapat dari neneknya, Ponyen, yang pindah ke Tanah Deli dari Jawa mengikuti suaminya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/20151228ketoprak-dor-lakon-joko-pantang-menyerah1_20151228_144530.jpg)