Minggu, 19 April 2026

resensi buku

Narasi Pergulatan Tradisi Lokal dan Budaya Global

Eksistensi nilai-nilai dan tradisi lokal di tengah gempuran kebudayaan global tergambar dalam buku kumpulan cerpen Anak-Anak Masa Lalu

KOMPAS/WISNU WIDIANTORO
Cover buku kumpulan cerpen Anak-Anak Masa Lalu karya Damhuri Muhammad. 

Sementara itu, konflik antara orang yang ingin menjaga kesakralan kawasan lokal dan orang-orang yang ingin menggunakannya sebagai sumber peruntungan tampak dalam cerpen ”Kepala Air”.

Penggunaan Lubuk yang sakral sebagai destinasi wisata dipandang para pemuka menguntungkan warga dan anak cucu. Sementara seorang sesepuh yang biasa dipanggil ”Ku Imam” menilai alih fungsi dan komersialisasi lubuk itu akan mendatangkan maksiat, petaka, dan menodai kesakralannya.

Sebelumnya, banyak korban yang telah mati misterius di Lubuk penuh kekuatan supernatural tersebut. Ironisnya, Ku Imam dianggap menghalangi pembangunan. Dia dikriminalisasi dan dipenjarakan.

Kekuatan konflik-konflik dalam cerpen Damhuri memang dikonstruksi melalui benturan antara nilai-nilai kearifan lokal, perilaku, dan pemikiran yang terpengaruh budaya global.

Dalam cerpen bertajuk ”Banun”, tokoh perempuan bernama Banun meyakini nilai-nilai lokal bertani. Tanah garapan harus dijaga dan digunakan sebagai basis swadaya.

Namun, tokoh-tokoh antagonis di desanya justru memandang Banun pelit, kolot, dan tidak terbuka dengan spirit globalisasi.

Bagi mereka, sawah bisa dijual untuk bekal mencari laba dengan cepat, atau modal menjadi TKI di negeri-negeri yang lebih menjanjikan secara ekonomi.

Politik, pembangunan, dan kekuasaan
Tema politik di dalam buku ini juga dibalut dengan narasi mistis yang banyak dipercayai oleh masyarakat di daerah rural. Cerpen ”Luka Kecil di Jari Kelingking” mengisahkan pemuda kampung yang oleh penguasa dituduh PKI karena dia membaca buku-buku kiri yang dikoleksi ibunya.

Ketika pemuda ini menjadi buronan, sang ibu mengalami luka kecil di jari kelingking.

Banyak orang dulu percaya bahwa musibah atau bencana ditandai dengan peristiwa tertentu yang korelasinya kadang tak bisa dicerna oleh akal. Isu kekerasan 1965 diracik Damhuri secara semiotik sebagai peristiwa yang melukai tidak hanya fisik, tapi juga psikis.

Sementara isu pembangunan yang penuh dengan rumus dan kalkulasi matematis didekonstruksi oleh Damhuri melalui unsur mistis.

Cerpen ”Anak-Anak Masa Lalu” menuturkan pembangunan jembatan oleh seorang insinyur yang logikanya akan bertumpu pada hitungan-hitungan mekanistik untuk menghasilkan jembatan tangguh dan awet melalui bahan dan konstruksinya harus tepat.

Ternyata sang insinyur memiliki kepercayaan mistis bahwa untuk membangun jembatan kuat, kepala-kepala bocah harus dimasukkan dalam adonan bahan material sebagai tumbal.

Perilaku ini menjungkirbalikkan rasionalitas dan logika eksakta yang selama ini dijunjung tinggi oleh para peneliti dunia teknik dan ilmu alam. Ketika malam arwah-arwah anak-anak yang dikorbankan itu menjerit dan merintih kesakitan.

Sementara itu, narasi kekuasaan lokal yang didapatkan melalui kekuatan mistis tecermin dalam cerpen ”Badar Besi”. Cerita ini menjadi relevan dan menarik di era yang penuh dengan pasar akik. Badar besi merupakan batu yang dianggap memiliki kekuatan mistis.

Sumber: KOMPAS
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved