resensi buku

Narasi Pergulatan Tradisi Lokal dan Budaya Global

Eksistensi nilai-nilai dan tradisi lokal di tengah gempuran kebudayaan global tergambar dalam buku kumpulan cerpen Anak-Anak Masa Lalu

Editor: Andy Pribadi
Narasi Pergulatan Tradisi Lokal dan Budaya Global
KOMPAS/WISNU WIDIANTORO
Cover buku kumpulan cerpen Anak-Anak Masa Lalu karya Damhuri Muhammad.

Oleh Yusri Fajar

Dalam jagat sastra, warna lokal menarik diperbincangkan bukan hanya karena keunikannya, melainkan juga karena warna lokal dapat membangun ciri khas dan identitas sebuah karya sastra.

Pengetahuan dan pengalaman pengarang ketika bersinggungan dengan nilai-nilai tradisi dari khazanah budaya Indonesia yang multikultur memengaruhi narasi-narasi yang dituturkannya.

Eksistensi nilai-nilai dan tradisi lokal di tengah gempuran kebudayaan global tergambar dalam buku kumpulan cerpen Anak-Anak Masa Lalu karya Damhuri Muhammad. Mitos, peristiwa supranatural, lanskap masyarakat rural (pedesaan) berdialektika dengan modernisasi, kepentingan global, dan perubahan cara pandang serta gaya hidup masyarakat.

Untuk menyibak dialektika nilai-nilai tradisional dengan ekspansi budaya global, Damhuri mengeksplorasi latar desa dan wilayah pinggiran dengan kearifan lokal yang mengakar.

Kota sebagai pusat hegemoni kekuasaan dan ekonomi ditampilkan sepintas untuk menunjukkan perbedaan dan menciptakan relasi dengan daerah-daerah di mana kearifan-kearifan lokal diamalkan.

Meskipun Damhuri menyimpan fakta latar ruang sesungguhnya, pembaca bisa mengaitkannya dengan wilayah di Indonesia yang mengalami dinamika serupa.

Perhatian Damhuri pada tradisi lokal bisa dilihat dari strategi racikan penceritaan yang memadukan alur maju dan mundur.

Alur mundur digunakan untuk menyingkap latar historis dan eksistensi tradisi lokal yang dioposisikan dengan kondisi kekinian yang dinarasikan melalui alur maju.

Benturan tradisi dan globalisasi
Dalam cerpen ”Orang-Orang Larenjang”, Damhuri bercerita tentang perkawinan sesama anggota suku yang menjadi pantangan bagi suku Larenjang.

Akibatnya, mereka dihapus dari silsilah dan ahli waris suku. Warga Larenjang juga dikucilkan dari pergaulan antarsuku. Di luar logika akal dan pembuktian ilmiah, para pelanggar perkawinan terlarang akan tertimpa musibah.

Para pelanggar aturan tradisi merepresentasikan kelompok terdidik, yang mengenyam pendidikan tinggi sebagai hasil budaya global, dengan kultur berpikir logis dan ilmiah.

Halaman
123
Sumber: KOMPAS
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved