Pembunuhan Angeline
Miris, Bocah Mirip Engeline Hidup Serba Kekurangan di Bali
Tampak seorang bocah perempuan manis mirip mendiang Engeline ke luar dari rumahnya saat mendengar suara motor.
Untuk menyiasati kebutuhan sehari-hari, Sudika memprioritaskan untuk membeli beras. Sayur-sayuran ia petik dari kebun milik saudaranya.
"Bisa beli beras saja saya sudah senang. Kalau saya lagi tidak punya uang, saya akali dengan singkong. Bahkan kadang kami satu keluarga hanya makan singkong saja," tandasnya.
Sudika juga tidak memiliki tempat untuk mandi, cuci, dan kakus. Untuk itu biasanya keluarganya numpang di tetangga.
Terkadang, karena merasa tidak enak, ia memilih mencari air lalu mandi di belakang kamarnya tersebut. "Air belum ada, listrik sudah. Mandinya di belakang sana sambil jongkok," ujarnya.

Ni Wayan Sintia Diana Wati (5) bersama kedua orangtuanya dan adiknya yang saat itu baru berumur 10 hari, di Desa Landih, Kintamani, Bangli, Rabu (1/7/2015). (Foto: Tribun Bali/I Putu Darmendra)
Sudika mengaku, sampai saat ini ia tidak memiliki kartu kesehatan, baik itu JKBM ataupun Jamkesmas.
Alhasil setiap keluarganya sakit, Sudika selalu kesulitan untuk mencari biaya pengobatan. "Saya tidak pernah diberikan JKBM atau Jamkesmas. Tidak pernah ada sampai saat ini," jawabnya.
Saat Sintia, yang mirip Engeline, lahir lima tahun lalu, Sudika terpaksa meminjam uang di sebuah koperasi di desanya sebesar Rp 2 juta untuk biaya persalinan.
Utang itu baru bisa dilunasinya lima tahun berselang tepat saat Sintia berusia lima tahun.
Untuk dua anaknya yang lain, ada orang yang membantu biaya persalinan istrinya. Ia hanya diminta menunjukkan KTP dan KK. "Kalau untuk adik-adiknya Sintia, ada yang bantu. Jadi saya merasa sangat tertolong," ucapnya.
Sudika dan Setiani bersyukur memiliki anak yang pengertian seperti Sintia. Di umurnya yang baru lima tahun, Sintia seakan seperti paham betul dengan kondisi keluarga.
Yang namanya anak kecil, rasa ingin memiliki mainan atau membeli makanan pasti selalu ada. Namun, Sintia hanya cukup diberikan nasihat hingga ia berhenti menangis.
"Mungkin dia mengerti ibu dan ayahnya tidak punya uang. Kami cuma bilang, jangan Sin, bapak dan ibu tidak punya uang," kata Setiani.
Ada satu permintaan Sintia yang membuat hati pasangan suami istri ini sedih. Sintia ingin sama seperti teman-temannya yang lain, yaitu masuk Taman Kanak-kanak (TK).
Namun kembali faktor ekonomi menjadi masalah utama. Keinginan Sintia pun belum bisa mereka wujudkan.
"Tapi saya tetap berusaha agar anak-anak saya bisa sekolah. Saya tidak ingin nasib anak-anak seperti kami," kata Sudika. (I Putu Darmendra)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/20150703-ni-wayan-sintia-diana-wati-mirip-engeline_20150703_204119.jpg)