Selasa, 7 April 2026

Inspeksi Mendadak

Menristek Naik Pitam di STEI Adhy Niaga Bekasi

Menristek Dikti Mohamad Nasir melakukan inspeksi mendadak ke Kampus STEI Adhy Niaga di Bekasi Barat, Kamis (21/5/2015) siang.

Penulis: Fitriyandi Al Fajri |
Warta Kota/Fitriyandi Al Fajri
Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir melakukan inspeksi mendadak ke Kampus STEI Adhy Niaga di Jalan Jenderal Sudirman, Kecamatan Bekasi Barat, Kota Bekasi pada Kamis (21/5/2015) siang. 

WARTA KOTA, BEKASI - Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti), Mohamad Nasir melakukan inspeksi mendadak ke Kampus Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STEI) Adhy Niaga di Jalan Jenderal Sudirman, Kecamatan Bekasi Barat, Kota Bekasi pada Kamis (21/5/2015) siang.

Setibanya di kampus berlantai empat itu, Nasir langsung mencari petugas administrasi di kampus tersebut. Kepada petugas, Nasir meminta sejumlah data yang terkait dengan biodata mahasiswa di sana.

"Bisa ditunjukan data-data mahasiswa dari tahun 2014 sampai 2011?" ujar Mohamad Nasir kepada Pembantu Ketua III Bidang Kemahasiswaan Faizi Michel.

Dihadapan sang menteri, Faizi tak mampu memenuhi permintannya. Dia berdalih, gedung kampus baru saja direnovasi, sehingga data yang diminta menteri belum bisa ditunjukkan. "Kami baru pindahan pak, jadi data-data belum kita rapikan semuanya," jelas Faizi.

Mendengar ucapan itu, Mohamad Nasir naik pitam. Pria yang kental aksen Kejawen ini, kemudian mengkritik kampus harus memiliki data yang lengkap terkait data mahasiswanya.

"Ndak benar ini, kok tidak bisa menunjukkan salinan datanya. Seharusnya pihak kampus punya salinan data terkait mahasiswanya," kata Mohamad Nasir.

Sekitar 10 menit kemudian, Ketua Yayasan Adhy Niaga Bekasi, Adhy Firdaus tiba ke kampus itu. Adhy berdalih, tidak bisa menunjukkan data yang diminta menteri karena Kepala Bagian Pendataan Kampus tengah berduka.

"Mohon maaf pak, Kepala Bagian Pendataan sedang berduka, karena orangtuanya ada yang meninggal dunia," ujar Adhy. "Tolong kasih kami waktu pak, untuk memberikan data-data itu," tambah Adhy.

Sang menteri kemudian beranjak ke lantai tiga, tempat di mana data-data mahasiswa tersimpan di sana. Nasir pun kembali meminta, agar pihak kampus memberi data terkait mahasisw tahun ajaran 2011 sampai 2014.

"Saya minta tunjukan data mahasiswa di sini," jelas Nasir.

Namun tetap saja, pihak kampus tidak bisa memberikan data yang diminta oleh Nasir. "Ini pak datanya," ujar salah seorang staf sambil memberikan beberapa dokumen. "Bukan ini data yang saya minta, tolong dicari dengan benar," kata Mohamad Nasir menjawab ucapan staf tersebut.

Usai mengunjungi kampus itu, kepada wartawan Nasir mengatakan, kunjungan ini dari pengaduan masyarakat yang diterima oleh instansinya. Berdasarkan laporan itu, kata Mohamad Nasir, pihak kampus STIE Adhy Niaga mengeluarkan ijazah tanpa mahasiswa yang mengikuti proses perkuliahan lazim di sebuah Perguruan Tinggi.

"Dalam pengaduan ini, STIE Adhy Niaga bisa memberikan ijazah sarjana tanpa mahasiswa ikut proses perkuliahan yang lazim. Masak tanpa kuliah, mahasiswa bisa memperoleh ijazah sarjana. Itu berarti ijazahnya asli tapi palsu," kata Nasir.

Nasir mengklaim, telah menerima pengaduan ini sejak pekan lalu. Adapun dugaan penjualan ijazah ini dilakukan oleh 18 kampus di daerah Jabodetabek dan Kupang, NTT.

"Kami sudah membentuk tim untuk melakukan investigasi terkait laporan ini. Bila ada perguruan tinggi yang terbukti melakukan itu, saya tidak segan-segan untuk mempidanakan pelakunya dan menutup kampusnya," kata Mohamad Nasir yang menilai kejadian ini bisa mencoreng pendidikan tinggi di Indonesia.

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved