Senin, 11 Mei 2026

Pameran Batu Akik

Warga Bekasi Berburu Batu Akik di Pasar Sinpasa

Dengan memiliki banyak koleksi, Richard mengaku jadi lebih tahu keunikan dan sifat setiap jenis batu.

Tayang:
Penulis: |

WARTA KOTA, BEKASI - Memiliki koleksi 70-an cincin batu akik, rupanya belum cukup bagi Richard (30). Warga Jalan Banteng, Kranji, Bekasi Barat, Kota Bekasi itu masih saja ‘berburu’ batu akik di Pameran Batu Akik (Gemstone) yang digelar di Pasar Sinpasa, Summarecon Bekasi, Jumat (20/2) siang.

Bersama tiga rekannya, lelaki berkacama minus itu terlihat sibuk mengarahkan senter kecil ke arah batu giok Aceh di stand Original Aceh Gemstone, milik Juanda. “Saya mulai suka koleksi batu sejak tiga tahun lalu, kesini mau lihat-lihat dulu, kalau ada yang cocok ya dibeli. Sekarang lagi suka batu giok Aceh. Koleksi batu mulia baru 20-an, kalau yang sudah bentuk cincin ada 70-an,” tuturnya.

Richard pun mengeluarkan sebagian cincin koleksinya dari tas kecil, diantaranya jenis Batu Pandan, Batu Garut, Kladen (Pacitan), Bacan Doko. Di rumahnya, dia menyebut masih menyimpan akik dari Batu Lavender, Red Raflesia (Bengkulu), Indocrase (Aceh), Biosolar (Aceh), Sungai Dare (Padang), Klawing (Purbalingga), dan Black Oval/Kalimaya (Banten). Untuk jenis batu mulia, dia baru mengoleksi jenis zamrud Kolombia dan blue safir.

Dengan memiliki banyak koleksi, Richard mengaku jadi lebih tahu keunikan dan sifat setiap jenis batu. Soal harga, kata dia, itu relatif. Tergantung jenis dan bentuk kristal maupun motifnya. Pernyataan Richard itu dibenarkan Juanda, penjual batu khas Aceh. “Semakin tinggi tingkat kekerasan batunya, semakin mahal harganya,” sebut Juanda.

Di pameran itu, harga batu akik yang ditawarkan bervariasi, dari ratusan ribu hingga ratusan juta. Batu jenis pancawarna yang ditawarkan Agung Kurniawan dari Mania Gems misalnya, harganya antara Rp150.000 hingga Rp1 juta, tergantung motif gambarnya.

Batu itu masih dalam bentuk potongan, belum diolah menjadi bentuk batu akik. Dia membeli batu itu dari Lampung dalam satuan kiloan. “Ini baru pengenalan saja, masih banyak yang belum dibawa kesini,” kata Egenk, panggilan akrab Agung Kurniawan.

Harga yang lebih tinggi, ditawarkan oleh Gerry Andilles untuk jenis batu akik Kecubung Kalimantan Amethyst dan Bacan Doko. Untuk tipe big size, Bacan Doko koleksinya ditawarkan Rp22 juta, sementara Kecubung Kalimantan Amethyst ditawarkan Rp18 juta.

“Kecubung Kalimantan ini warnanya natural, hasil tes menunjukkan nggak ada treatment apapun, jadi memang aslinya begini. Kalau ada bukti hasil tes seperti ini, batu yang sudah dibeli bisa dijual lagi disini,” tuturnya sembari menunjukkan kartu identifikasi untuk batu seberat 59,84 Cts itu.

Cts adalah singkatan dari Carats atau Carat, yaitu ukuran baku untuk berat batu mulia dan mutiara. Ukuran berat batu mulia 1 Carat itu sama dengan seperlima gram atau 200 miligram. Jadi batu mulia seberat 5 Carat sama artinya dengan memiliki berat 1 gram.

Batu yang lebih berharga lagi adalah Batu Bacan Doko koleksi Dimas Astadi. Harga termahal adalah Batu Bacan Doko yang masih dalam bentuk bongkahan alias belum dipotong sekira lebih dari 1 kilogram. Batu warna hijau asal Pulau Bacan, Halmahera Selatan, Maluku Utara itu dihargai Rp500 juta. Sementara dalam bentuk cincin dan liontin dibanderol Rp15 juta hingga Rp30 juta.

Esra Dewayani, Koordinator Pasar Sinpasa mengatakan, ada 80-an stand yang mengikuti pameran batu akik tersebut hingga Sabtu (28/2) depan. Mereka bukan hanya menjual batu akik dalam bentuk jadi, tapi juga ada yang masih dalam bentuk bahan, maupun “iketan”, aksesoris berupa cincin maupun kalung yang menjadi tempat batu akik tersebut.

“Awalnya pameran ini kami buka antara pukul 08.00-17.00 setiap hari. Tapi baru hari pertama pembukaan saja pengunjungnya antusias, kami putuskan untuk memperpanjang sampai pukul 20.00 setiap harinya. Pengunjung bisa langsung transaksi disini,” tutur Esra. (Ichwan Chasani)

Sumber: WartaKota
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved