Kamis, 30 April 2026

Mitos Ketergantungan, Apa Itu?

Hakikat manusia adalah menjadi bagian dan bergantung kepada kehidupan manusia lain.

Tayang: | Diperbarui:

Bagaimanakah halnya dengan diri Anda?

Bagaimanakah keyakinan Anda yang mendasar tentang berbagi kelemahan yang Anda miliki? Apakah Anda merasa bahwa Anda menghormati orang-orang di sekeliling Anda bila Anda mengeluhkan sesuatu kepada mereka? Atau bahkan Anda merasa membuat mereka tempat sampah bila berbagi masalah emosional yang Anda rasakan kepada mereka?

Apakah Anda merasa bahwa orang yang tidak pernah mengeluh, tidak pernah berbagi masalah dan memiliki kecenderungan menyembunyikan kepahitan-kepahitan pengalamannya adalah orang terhormat? Ataukah Anda yakin bahwa orang yang terkuat di dunia adalah dia yang mampu terbuka dengan fakta-fakta yang mereka alami disertai oleh berbagai penyertaan emosi baik yang positif maupun yang negatif?

Ketahuilah bahwa setiap orang memiliki kekuatan dan kelemahan. Sejauh kita mampu menyeimbangkan kelemahan dan kekuatan dalam diri kita, kita dapat menjadi diri sendiri, maka kita dapat dikelompokkan sebagai seseorang yang sehat mental. Apakah benar demikian?

Sebenarnya kita juga dibenarkan untuk mengubah gaya kita dalam mengekspresikan pengalaman emosional kita, dengan harapan perubahan gaya tersebut justru memperluas keintiman relasi kita dengan lingkungan. Untuk itu, kita seyogianya mencari cara mengingatkan diri kita agar mampu mengenali berbagai versi yang ada dalam kepribadian kita sendiri.

Kebanyakan dari kita memang mengalami kesulitan untuk mengubah pola pikir otomatis yang sudah terbentuk dalam benak kita, apalagi untuk bisa mengubah cara bicara kita yang sebenarnya tidak produktif, dalam artian cara bicara kita justru sering mengesalkan orang yang kita ajak bicara. Untuk itu ada peribahasa, ”kebiasaan pada mulanya adalah seutas benang sutra, tetapi lama kelamaan bisa menjadi kabel yang kuat”. Pada dasarnya manusia dapat mengubah dirinya andai memang berniat untuk berubah.

Untuk Anda yang cenderung menempatkan diri di atas orang lain, mulailah berlatih mempraktikkan cara berbagi pengalaman dan perasaan Anda dengan cara yang lebih lunak, rendah hati, dan berlatih mengutarakan kelemahan diri Anda yang sebetulnya Anda rasakan.

Untuk Anda yang terbiasa dan cenderung menempatkan diri di bawah orang lain, mulailah berlatih bersikap sebaliknya dengan mengungkap kekuatan dan kompetensi yang sebenarnya Anda miliki, bahkan bila Anda merasa Anda tidak miliki kemampuan apa pun.

Apa pun dan bagaimanapun yang Anda rasakan mengenai diri Anda, suarakanlah kata hati Anda, sehingga pelan tetapi pasti Anda akan menjadi pribadi yang otentik, dalam konteks memiliki dan mengakui ketergantungan yang wajar dan sehat dengan lingkungan di mana kita berada. Jadi milikilah kemauan keras untuk mengungkap siapa diri Anda yang sebenarnya meskipun pada mulanya terasa seperti kurang alami (natural). Bravo.

Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved