Mitos Ketergantungan, Apa Itu?
Hakikat manusia adalah menjadi bagian dan bergantung kepada kehidupan manusia lain.
Palmerah, Wartakotalive.com
Pengertian ”dependency”, ketergantungan, memberikan kesan negatif. Banyak yang menganggap istilah ketergantungan lebih tepat dinyatakan dengan ”interdependensi”. Sebab, pada dasarnya dalam hidup ini kita semua memiliki ketergantungan kepada orang lain.
Hakikat manusia adalah menjadi bagian dan bergantung kepada kehidupan manusia lain. Meskipun bisa saja saat ini kita merasa dan bersikap seolah mandiri dan tidak bergantung kepada siapa pun, terutama bila kita masih muda, sehat, dan pekerjaan kita pun lancar.
Namun, nyatanya, bahkan pada saat segala hal berjalan baik, kehidupan kita sebenarnya tetap bergantung pada berbagai pelayanan, sistem, dan struktur yang khusus. Terkadang hal itu tak disadari, terutama bila kita merasa kita adalah orang sukses, segala hal dapat kita lalui dengan lancar, seperti apa yang terjadi pada kehidupan lapisan masyarakat menengah atas.
Padahal, bayangkan bila komputer kita rusak atau kita tiba-tiba terserang penyakit infeksi berat, sementara asuransi kesehatan kita belum sempat kita urus. Biasanya bila kita berada dalam keadaan krisis, baru kita sadari betapa kita hidup bergantung pada pelayanan orang lain.
Budaya kita sangat mengutamakan hal kemandirian atau ketidaktergantungan sehingga sering kita menjadi sangat malu kalau masih dikatakan sebagai orang yang bergantung kepada orang lain. Pada umumnya orang merasa dipermalukan bila diketahui memiliki kebutuhan emosional dan fisikal khusus sehingga kita cenderung lupa atau bahkan sengaja melupakan bahwa masalah tersebut.
Untuk itu, seorang pakar bernama Anne Finger menempatkan sekian ketergantungan yang masih dapat ditoleransi: ”Adalah oke kalau kita membutuhkan kendaraan untuk beraktivitas, adalah oke untuk pergi ke salon untuk menata rambu kita, tetapi adalah tidak oke bila kita membutuhkan pelayan untuk mencuci muka dan tangan kita sendiri”.
Hal lain lagi adalah orang biasanya pun malu bila harus menunjukkan penderitaannya atau mengutarakan kesulitannya, karena budaya kita kurang menghargai anggotanya, bila terlalu mudah mengungkapkan penderitaan yang dialaminya, apalagi menunjukkan melalui dalam ekspresi wajahnya.
Jadi, sering kita dituntut untuk mampu mengendalikan kehidupan kita yang sebenarnya. Kondisi tersebut dinyatakan sebagai ”harapan budaya terhadap sikap anggota masyarakatnya terhadap pengalaman yang sedang dihayati, yang bisa saja bagi budaya lain sebagai cara yang aneh”.
Ketergantungan dan penderitaan sebenarnya hal yang sangat esensial bagi kemanusiaan. Cepat atau lambat pengalaman yang menyakitkan akhirnya mengajarkan kita untuk saling membutuhkan satu sama lain.
Sebetulnya, gaya kehidupan yang benar- benar memalukan bagi diri kita adalah saat kita memiliki keyakinan sosial yang menetap bahwa setiap orang akan setiap waktu menggantungkan diri kepada orang lain agar memperoleh kebahagiaan, kesehatan, dan kekayaan. Jadi, sangat bergantung kepada orang lain itu tidak tepat, tetapi merasa diri terlampau percaya pada kemampuan diri tanpa menyertakan orang lain juga tidak tepat.
Pada kenyataannya, bila kita sesekali mendapat pengalaman dalam mengekspresikan kelemahan kita, kebutuhan-kebutuhan kita dan batas-batas kemampuan kita kepada orang lain adalah cara yang bijak, terutama bila situasinya tenang, apalagi bila hal itu kita lakukan sebelum lingkungan akhirnya memberi kita peringatan keras, tentang sejauh mana kita sebenarnya membutuhkan orang lain.
Pengayom
Biasanya, laki-laki cenderung merasa malu bila menunjukkan kelemahannya kepada orang lain. Tidak saja laki-laki, perempuan pun demikian, terutama bila dia anak sulung dalam urutan keluarga. Dalam posisi sebagai anak sulung, ia seolah dituntut untuk tidak menunjukkan kelemahannya karena biasanya mereka menduduki posisi sebagai pengayom dalam lingkungan keluarganya.
Jadi, dapat dipahami bahwa posisi sebagai laki-laki dan anak perempuan sulung membuat suatu kejutan besar bila akhirnya mereka sampai pada situasi berani mengungkapkan seperti contoh berikut ini: ”Saya menghadapi masalah besar, bolehkah saya meminta waktu untuk curhat?”
Bagaimanakah halnya dengan diri Anda?
Bagaimanakah keyakinan Anda yang mendasar tentang berbagi kelemahan yang Anda miliki? Apakah Anda merasa bahwa Anda menghormati orang-orang di sekeliling Anda bila Anda mengeluhkan sesuatu kepada mereka? Atau bahkan Anda merasa membuat mereka tempat sampah bila berbagi masalah emosional yang Anda rasakan kepada mereka?
Apakah Anda merasa bahwa orang yang tidak pernah mengeluh, tidak pernah berbagi masalah dan memiliki kecenderungan menyembunyikan kepahitan-kepahitan pengalamannya adalah orang terhormat? Ataukah Anda yakin bahwa orang yang terkuat di dunia adalah dia yang mampu terbuka dengan fakta-fakta yang mereka alami disertai oleh berbagai penyertaan emosi baik yang positif maupun yang negatif?
Ketahuilah bahwa setiap orang memiliki kekuatan dan kelemahan. Sejauh kita mampu menyeimbangkan kelemahan dan kekuatan dalam diri kita, kita dapat menjadi diri sendiri, maka kita dapat dikelompokkan sebagai seseorang yang sehat mental. Apakah benar demikian?
Sebenarnya kita juga dibenarkan untuk mengubah gaya kita dalam mengekspresikan pengalaman emosional kita, dengan harapan perubahan gaya tersebut justru memperluas keintiman relasi kita dengan lingkungan. Untuk itu, kita seyogianya mencari cara mengingatkan diri kita agar mampu mengenali berbagai versi yang ada dalam kepribadian kita sendiri.
Kebanyakan dari kita memang mengalami kesulitan untuk mengubah pola pikir otomatis yang sudah terbentuk dalam benak kita, apalagi untuk bisa mengubah cara bicara kita yang sebenarnya tidak produktif, dalam artian cara bicara kita justru sering mengesalkan orang yang kita ajak bicara. Untuk itu ada peribahasa, ”kebiasaan pada mulanya adalah seutas benang sutra, tetapi lama kelamaan bisa menjadi kabel yang kuat”. Pada dasarnya manusia dapat mengubah dirinya andai memang berniat untuk berubah.
Untuk Anda yang cenderung menempatkan diri di atas orang lain, mulailah berlatih mempraktikkan cara berbagi pengalaman dan perasaan Anda dengan cara yang lebih lunak, rendah hati, dan berlatih mengutarakan kelemahan diri Anda yang sebetulnya Anda rasakan.
Untuk Anda yang terbiasa dan cenderung menempatkan diri di bawah orang lain, mulailah berlatih bersikap sebaliknya dengan mengungkap kekuatan dan kompetensi yang sebenarnya Anda miliki, bahkan bila Anda merasa Anda tidak miliki kemampuan apa pun.
Apa pun dan bagaimanapun yang Anda rasakan mengenai diri Anda, suarakanlah kata hati Anda, sehingga pelan tetapi pasti Anda akan menjadi pribadi yang otentik, dalam konteks memiliki dan mengakui ketergantungan yang wajar dan sehat dengan lingkungan di mana kita berada. Jadi milikilah kemauan keras untuk mengungkap siapa diri Anda yang sebenarnya meskipun pada mulanya terasa seperti kurang alami (natural). Bravo.