Politisi Terjerat Narkoba dan Korupsi, Mana yang Lebih Berdampak ke Publik?

"Paten betul lembaga penegakan hukum kita. Dua jempol!" kata Pakar Psikologi Forensik Reza Indragiri Amriel kepada Warta Kota, Jumat (15/3/2019).

Politisi Terjerat Narkoba dan Korupsi, Mana yang Lebih Berdampak ke Publik?
Tribunnews.com
Pakar Psikologi Forensik Reza Indragiri Amriel. 

SEMANGGI, WARTAKOTALIVE.COM -- "Paten betul lembaga penegakan hukum kita. Dua jempol!" kata Pakar Psikologi Forensik Reza Indragiri Amriel kepada Warta Kota, Jumat (15/3/2019).

Ia mengatakan beberapa waktu lalu Mabes Polri sukses melakukan OTT pelaku penyalahgunaan narkoba Semakin 'seksi' karena yang diciduk adalah politisi dari salah satu kubu salah satu paslon capres dan cawapres.

"Di hari Jumat penuh berkah ini giliran KPK beraksi OTT pelaku korupsi. Semakin dahsyat karena--media mewartakan--yang diringkus adalah politisi dari kubu pendukung paslon capres dan cawapres lainnya," kata Reza.

Ia menjelaskan narkoba dan korupsi sama-sama bahaya.

"Sama-sama harus disikapi serius. Tapi saat terjadi OTT narkoba dan OTT korupsi, mana yang lebih besar skalanya?" kata Reza.

Faktanya, tambah dia, dalam kasus penyalahgunaan narkoba, perbuatan si pelaku disikapi Polri sebagai masalah kesehatan mental.

"Karena itulah dia direhabilitasi. Bukan pro-justitia. Penyalahgunaan narkoba, dengan demikian, dibingkai sebagai persoalan pribadi," katanya.

"Lain kisah dengan korupsi. Dalam kasus serius ini, tidak ada framework kesehatan mental. Korupsi oleh KPK dikunci sebagai masalah pidana, titik," kata Reza.

Karena pidana, tambah Reza, maka dia menjadi persoalan dengan kepentingan dan ramifikasi ke masyarakat luas.

"Jadi, mana yang lebih berdampak ke publik? Mana yang lebih dekat dengan social disorder? Silakan reka-reka sendiri, ya," ujarnya.(bum)

Penulis: Budi Sam Law Malau
Editor: Andy Pribadi
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved