Rupiah Melemah, Darmin Nasution: Jangan Dibandingkan dengan 20 Tahun Lalu

"Memang ini agak besar tapi enggak setinggi 2014 (desifitnya), tidak setinggi tahun 1994 hingga 1995," tutur Darmin Nasution.

Rupiah Melemah, Darmin Nasution: Jangan Dibandingkan dengan 20 Tahun Lalu
TRIBUNNEWS/SENO TRI SULISTIYONO
Menko Perekonomian Darmin Nasution di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (4/8/2018). 

MENKO Perekonomian Darmin Nasution mengaku heran dengan sejumlah pihak yang membandingkan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS‎), dengan masa krisis ekonomi pada 1998 silam.

"Jangan dibandingkan Rp 14 ribu sekarang dengan 20 tahun lalu. Membandingkannya yang fair (adil)," ujar Darmin Nasution di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (4/8/2018).

Darmin Nasution menjelaskan, pelemahan rupiah pada 20 tahun lalu sangat drastis, di mana sebelumnya berada di posisi Rp 2.800, menjadi Rp 14 ribu per dolar AS‎.

Baca: Nikita Mirzani: Kayaknya Dipo Latief Enggak Sanggup Pisah Sama Gua

"Sekarang dari Rp 13 ribu ke Rp 14 ribu per dolar AS. Tahun 2014 itu dari Rp 12 ribu ke Rp 14 ribu. Maksud saya, cara membandingkan dijelaskan," kata Darmin Nasution.

Menurut Darmin Nasution, fundamental perekonomian Indonesia saat ini masih dalam kondisi baik, yang tercermin dari inflasi di kisaran 3 persen dan pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen.

"Kelemahan kita hanya transaksi berjalan yang defisit 3 persen, itu pun lebih kecil dari tahun 2014 sebesar 4,2 persen, masih lebih kecil juga dari Brazil, Turki, Argentina," tuturnya.

Baca: Pedagang Pasar Bunga Rawa Belong: Tanggal Muda Atau Tua, Tetap Saja Sepi Pembeli

Darmin Nasution menilai, persoalan defisit transaksi berjalan bukan suatu penyakit baru yang dihadapi Indonesia, tetapi sudah terjadi‎ sejak 40 tahun lalu.

"Memang ini agak besar tapi enggak setinggi 2014 (desifitnya), tidak setinggi tahun 1994 hingga 1995," tutur Darmin Nasution.

Pelemahan rupiah yang saat ini di atas Rp 14.800, kata Darmin Nasution, lebih disebabkan faktor eksternal, yaitu krisis keuangan di Argentina yang berdampak terhadap nilai tukar mata uang semua negara.

Baca: Nikita Mirzani Ungkap Habiskan Rp 3 Miliar untuk Biayai Hidup Dipo Latief

Meski nilai tukar rupiah terhadap dolar AS saat ini mengalami pelemahan yang cukup dalam, Darmin Nasution menilai tidak perlu diciptakan gerakan cinta rupiah, mengingat kondisi fundamental ekonomi Indonesia masih terbilang baik.

Dengan adanya gerakan cinta rupiah yang didorong pemerintah, nantinya dapat menimbulkan kesan bahwa kondisi perekonomian saat ini mengalami keparahan.

"Jangan lah, nanti dibilang sudah gawat," ucap Darmin Nasution.

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia, hari ini nilai tukar rupiah melemah ke posisi Rp 14.840 per dolar AS, dari posisi kemarin Rp 14.767 per dolar AS. (Seno Tri Sulistiyono)

Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help