Lebaran 2018
Masjid Menara Kudus, Bukti Ajaran Toleransi Sunan Kudus (1)
Dalam berdakwah, Sunan Kudus lebih menekankan pada kearifan lokal dengan mengapresiasi budaya (Hindu-Budha) setempat saat itu.
MASJID Menara Kudus yang berlokasi di Kelurahan Kauman, Kecamatan Kudus, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, telah menjadi saksi "hidup" kerukunan antar umat beragama yang sudah berlangsung lama.
Masjid ini didirikan oleh Sunan Kudus atau Sayyid Ja'far Shadiq Azmatkhan pada tahun 956 Hijriaj atau 1549 Masehi.
Baca: Masjid Menara Kudus, Nilai Sejarahnya Tercetak di Uang Kertas Rp 5.000 (2)
Baca: Masjid Menara Kudus, Pejabat Ngga Jujur Ngga Bakal Berani Lewat Gapura Masjid (3)
Hal ini merujuk pada inskripsi berbahasa Arab yang tertulis di prasasti batu berukuran lebar 30 cm dan panjang 46 cm yang terletak pada mihrab masjid.
Konon, prasasti batu itu didatangkan dari Baitul Maqdis di Palestina sehingga masjid ini kerap pula disebut Masjid Al Aqsa.
Baca: Masjid Attaqwa Gogodalem, Jejak Sejarah Siar Islam di Semarang
Sunan Kudus merupakan salah satu tokoh penyebar agama Islam yang tergabung dalam Wali Songo. Dia dikenal sebagai seorang ahli agama, terutama dalam disiplin ilmu tauhid, hadis, dan fikih.
Dari sembilan wali yang diakui di Tanah Jawa, hanya beliau yang disebut bergelar 'Waliyyul Ilmi', gelar untuk wali yang berpengetahuan luas.
Tepa Selira
Nilai toleransi Masjid Menara Kudus terlihat berbeda dengan penampakan masjid pada umumnya. Yang paling mencolok adalah bangunan menara yang berdiri menjulang di sebelah tenggara masjid.
Menara berkonstruksi susunan batubata merah itu bentuknya menyerupai bangunan candi khas Jawa Timur. Bahkan ada yang menyebut menara itu mirip dengan Bale Kulkul atau bangunan penyimpan kentongan di Bali.
Ciri khas inilah yang menjadi keunikan tersendiri dari Masjid Menara Kudus.
Ternyata, di balik karakteristik Masjid Menara Kudus tersirat makna perwujudan sikap "tepa selira" atau tenggang rasa pada masa itu.
Baca: Sejarah Mudik, Sudah Ada Sejak Majapahit dan Mataram
Dalam berdakwah, Sunan Kudus lebih menekankan pada kearifan lokal dengan mengapresiasi terhadap budaya setempat dan berusaha menyesuaikan diri demi memasuki masa kejayaan Hindu-Budha.
Denny Nur Hakim, Staf Dokumentasi dan Sejarah Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) mengatakan, kesohoran Sunan Kudus terletak pada kepiawaiannya dalam melakukan pribumisasi ajaran Islam di tengah masyarakat yang sudah punya budaya mapan.
"Dalam menyebarkan agama Islam, Sunan Kudus membaur dan melakukan pendekatan budaya. Islam mengajarkan santun dan saling menghormati," katanya saat ditemui Kompas.com, Rabu (30/5/2018).
Dilarang Menyembelih Sapi