Ramadan 2018

Masjid Attaqwa Gogodalem, Jejak Sejarah Siar Islam di Semarang

Masjid Attaqwa ini berupa joglo dengan empat soko guru. Uniknya, umpak atau alas soko gurunya berupa balok utuh.

Masjid Attaqwa Gogodalem, Jejak Sejarah Siar Islam di Semarang
Kompas.com/Syahrul Munir
KITAB Blawong atau Al Quran tulisan tangan Simbah Jamaludin, salah satu peninggalan kuno di Masjid Attaqwa Desa Gogodalem. Kitab suci bersampul kulit ini dibuka dan dibaca setiap tanggal 20 Syaban. 

MASJID-masjid tua banyak bertebaran di wilayah Kabupaten Semarang. Itu menandakan jejak penyebaran agama Islam di Bumi Serasi ini mempunyai akar sejarah yang kuat.

Salah satunya di Desa Gogodalem, Kecamatan Bringin, Kabupaten semarang. Masjid di desa yang berbatasan dengan wilayah Grobogan ini, sebagian masih mempertahankan konstruksi aslinya, yakni kayu jati.

Masjid At-Taqwa Gogodalem namanya. Konon merupakan masjid tertua di Kabupaten Semarang.

Baca: Melintas Tol Batang-Semarang, Silakan Salat Id di Masjid Ini

Meski nampak luar bangunan masjid sudah mendapatkan sentuhan modern berupa struktur dinding tembok, namun bangunan inti masjid masih asli.

"Kalau ditanya tahunnya, kami tak bisa menjawab. Tapi bangunan masjid ini masih asli dan sudah lama sekali berdirinya," Kata Ahsin (60), Imam Masjid At-Taqwa, Rabu (13/6/2018).

Seperti halnya bagunan masjid Jawa kuno, Masjid Attaqwa ini berupa joglo dengan empat soko guru. Uniknya, umpak atau alas dari soko guru tersebut adalah balok kayu utuh.

Pada salah satu sisinya, terdapat sebuah tangga kayu menuju puncak Mustaka. Pada puncak mustaka inilah terdapat jendela pada keempat sisinya yang dulu berfungsi sebagai tempat mengumandangkan azan.

Ahsin mengungkapkan, dahulu dinding masjid seluruhnya terbuat dari papan kayu jati. Namun sekarang sudah berganti menjadi tembok.

Sedangkan papan-papan kayu jati digunakan untuk lantai eternit ruangan mustaka masjid.

Wilayah Desa Gogodalem sejak dulu memang dikelilingi hutan jati, sehingga kayu menjadi unsur utama sebuah bangunan.

Halaman
123
Editor: Fred Mahatma TIS
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help