Timnas Indonesia
Patrick Kluivert Dipecat PSSI, Bung Towel: Karena Tekanan Netizen
Patrick Kluivert Dipecat PSSI, Bung Towel: Karena Tekanan Netizen. Towel mengatakan Patrick Kluivert dipecat PSSI karena tekanan netizen.
"Tidak hanya mendengar omongan satu dua orang, terus diambil omongan itu, dijadikan dasar untuk mengganti pelatih. Berikan kesempatan pelatih-pelatih yang berminat itu presentasi dulu. Program besar PSSI ini apa? Piala Dunia 2030, Piala Asia. Itu mungkin target utamanya. AFF itu saya pikir enggak terlalu signifikan ya untuk seorang pelatih Timnas saat ini," papar Kusnaeni.
Karenanya menurut Kusnaeni, penting bagi PSSI mendengarkan dulu apa presentasinya, program, dan konsep dalam melatih Timnas Indonesia.
"Jadi, jangan buru-buru berpikir. Kemarin pelatihnya dari Belanda, harus diganti Belanda. Atau kemarin Kluivert gagal harus diganti lagi Shin Tae-yong. Enggak begitu cara berpikirnya. Evaluasi, lalu berikan kesempatan presentasi para pelatih baru. Tetapkan dengan hati-hati. Jangan mengulang kesalahan seperti ketika merekut Kluivert," kata Kusnaeni.
Kusnaeni mengatakan kebiasaan tergesa-gesa mengambil keputusan dalam memilih pelatih timnas yang berujung kesalahan jangan diulangi lagi oleh PSSI kali ini.
"Padahal, kemarin, kita sudah begitu dekat dengan Piala Dunia," ujar Kusnaeni.
Menurut Kusnaeni, cara yang lebih bagus mencari dan memilih pelatih timnas yang ditinggalkan Kluivert kali ini adalah dengan dibuat secara terbuka, bagi pelatih yang berminat.
"Saya pikir lebih bagus kalau dibikin terbuka. PSSI memberi ruang siapun, pelatih-pelatih berkualitas yang berminat. Dia harus memaparkan programnya, konsepnya menangani timnas untuk Piala Dunia itu seperti apa," katanya.
"Baru kita pilih di antara mereka yang dianggap layak dan sekaligus mau apa menunjukkan konsepnya itu. Jadi ini yang saya pikir harus diubah ke depannya," ujar Kusnaeni.
Sehingga kata Kusnaeni, rekrutmen pelatih timnas akan lebih baik.
"Lebih baik, lebih hati-hati. Dan kita berbasis konsep bukan berbasis nama besar semata," kata Kusnaeni.
Terkait sejumlah nama pelatih yang beredar di lini masa dan dianggap bisa menjadi pengganti Kluivert, Kusnaeni merasa hal itu tidak masalah.
"Kalau bursa sih enggak masalah, tapi masalahnya apakah mereka punya konsep untuk membenahi sepak bola Indonesia? Minimal untuk Timnas Indonesia konsepnya seperti apa? Apakah mau mereka mempresentasikan itu ke PSSI, dan kemudian mereka punya program apa untuk mewujudkan konsepnya itu? Dengarkan dulu," ujar Kusnaeni.
Menurut Kusnaeni yang menjadi problem saat ini karena kita ingin terburu-buru memilih pelatih setelah Kluivert dipecat.
"Kluivert dicoret harus ada penggantinya. Enggak seperti itu juga. Kita harus dengarkan dulu konsep masing-masing kandidat ini seperti apa. Nanti kita pilih yang paling baik. Dan itu nanti menurut saya harus melibatkan direktur tim nasional," katanya.
Kusnaeni menjelaskan paling tidak nantinya pelatih timnas yang dipilih harus punya program untuk mencapai Piala Dunia.
"Untuk mencapai itu jalannya seperti apa. Lalu yang kedua, dia juga harus punya tanggung jawab bagaimana melibatkan sebanyak mungkin talenta pemain dari kompetisi domestik," kata Kusnaeni.
Sehingga menurutnya, timnas tidak boleh tergantung terlalu besar kepada pemain-pemain diaspora.
"Diaspora oke kita butuhkan, tapi dia harus bisa memaksimalkan potensi pemain dari kompetisi domestik. Karena itu yang ada di depan mata. Nah, pemain yang berada di kompetisi domestik ini juga nanti berguna untuk event-event yang sifatnya regional. Seperti Piala AFF, karena sulit melibatkan pemain diaspora," katanya.
Sehingga kata Kusnaeni, pelatih timnas yang terpenting adalah memiliki konsep.
"Konsep bagaimana dia membuat timnasnya lebih kuat, bagaimana melibatkan lebih banyak potensi pemain lokal, bagaimana membuat sinergi antara jadwal kompetisi liga domestik dengan tim nasional. Itu juga harus dipikirkan oleh pelatih tim nasional. Berapa lama dia butuhkan, sehingga kompetisi tidak terganggu, tim nasional juga tidak terganggu," kata Kusnaeni.
Hal ini menurutnya bukan sesuatu yang sederhana.
"Tidak semudah kita memilih kucing dalam karung. Saya mau yang ini, saya mau yang itu, enggak seperti itu," katanya.
Kusnaeni mengatakan paling tidak sampai akhir tahun 2025, PSSI bisa memberi waktu bagi proses rekrutmen sampai ada pelatih baru Timnas Indonesia.
"Karena target besarnya buat saya Piala Dunia, 4 tahun ke depan, enggak boleh gagal lagi. Kita sekarang sudah begitu dekat, gagal. Jangan sampai terulang lagi. Jadi kita harus hati-hati memilih sampai dapat pelatih yang tepat, sampai akhir tahun lah" kata Kusnaeni.
Untuk jangka pendek dimana ada SEA Games, menurut Kusnaeni bisa ditetapkan pelatih sementara.
"Yang paling besar itu, target jangan sampai gagal lagi di Piala Dunia dan kalau bisa sukses juga di Piala Asia," kata Kusnaeni.
Baca berita WartaKotalive.com lainnya di Google News dan WhatsApp
| Lawan Oman dan Mozambik, Timnas Indonesia Siap Tampil Full Squad di SUGBK |
|
|---|
| Timnas U-17 Putri Jalani TC di Clairefontaine: Garuda Pertiwi Belajar di Pusat Sepakbola Dunia |
|
|---|
| 7 Pemain Diaspora Dipanggil Jelang Pemusatan Latihan Timnas U19 Indonesia untuk Piala AFF U19 2026 |
|
|---|
| Tunggu Putusan Komdis PSSI, Nova Arianto Buka Peluang Fadly Alberto Kembali ke Timnas U-20 |
|
|---|
| Film Dokumenter Timnas Indonesia 'The Longest Wait' Tayang di Bioskop, Shayne Pattynama: Emosional |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/TEKANAN-NETZEN-KLUIVERT-Persatuan-Sepa.jpg)