Jumat, 17 April 2026

Berita Tangerang

Pasar Bintaro Darurat Sampah, Lapak Dagangan Amad Diserang Belatung

Status darurat sampah berakhir, namun tumpukan sampah masih menumpuk dan bikin pedagang merugi.

Penulis: Ikhwana Mutuah Mico | Editor: Dwi Rizki
Warta Kota/Ikhwana Mutuah Mico
SAMPAH - Kondisi Pasar Bintaro, Tangsel pada Selasa (6/1/2026). Sampah menggunung di Pasar Bintaro mengganggu aktivitas pedagang dan menurunkan omzet akibat bau menyengat serta lingkungan yang tidak nyaman 

WARTAKOTALIVE.COM, TANGSEL - Status tanggap darurat pengelolaan sampah telah berakhir pada 5 Januari 2026. Namun sehari berselang, tumpukan sampah masih terlihat menggunung di Pasar Modern Bintaro Mas, Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan, Selasa (6/1/2026).

Pantauan TribunTangerang.com (Warta Kota Network), tumpukan sampah terlihat berada tepat di depan lapak pedagang pisang. Gunungan sampah tersebut hampir menutupi lapak karena tingginya melebihi atap tempat berjualan.

Lalat tampak berterbangan dan menyerbu dagangan pisang milik seorang pedagang paruh baya bernama Amad.

Selain menimbulkan bau menyengat, tumpukan sampah itu juga mengeluarkan air lindi hitam yang telah mengalir hingga ke area tokonya.

Amad mengaku sampah di depan tempat ia berjualan sudah lama tidak diangkut.

Menurutnya, keterlambatan pengangkutan sampah terjadi karena lokasi pembuangan mengalami longsor sehingga proses pemindahan terhambat.

Meski tumpukan sampah berada sangat dekat dengan lapaknya, Amad menyebut dampak paling terasa adalah berkurangnya pembeli. 

Baca juga: Pramono Segera Resmikan Taman Bendera Pusaka di Jakarta Selatan

Bau menyengat dan munculnya belatung membuat pelanggan enggan mendekat.

Bahkan, belatung dari sampah tersebut kerap merambat hingga ke area dagangannya.

"Yang belanja jadi sepi, baunya menyengat, ada belatung juga,” ujar Amad kepada TribunTangerang.com, Ciputat Timur, Tangsel, Selasa (6/1/2026).

Ia menjelaskan, sebelumnya sampah masih bisa dibuang ke dalam area penampungan.

Namun karena kapasitas diperkecil dan terkendala listrik, sampah akhirnya dikeluarkan dan menumpuk di luar. 

Akibatnya, kondisi lingkungan sekitar menjadi tidak nyaman.

Dampak ekonomi pun tak terhindarkan. Amad mengungkapkan, sebelum adanya tumpukan sampah, omzet hariannya bisa mencapai Rp1,5 juta hingga Rp2 juta.

Kini, pendapatannya menurun drastis, hanya berkisar Rp500 ribu hingga Rp800 ribu.

Sumber: WartaKota
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved