Kabar Artis
Pengamat Minta Warganet Cerdas Tanggapi Laporan Maia Estianty ke Ahmad Dhani
Pengamat komunikasi menilai polemik Ahmad Dhani dan Maia Estianty menunjukkan publik mudah terjebak instant judgment.
Penulis: Arie Puji Waluyo | Editor: Dian Anditya Mutiara
Ringkasan Berita:
- Ahmad Dhani kembali membahas masa lalunya dengan Maia Estianty, termasuk mengunggah dokumen SP3 terkait kasus dugaan KDRT yang sempat dilaporkan mantan istrinya tersebut.
- Pengamat Komunikasi Agustina Widyawati menilai ramainya respons publik terhadap polemik itu menunjukkan budaya instant judgment, ketika masyarakat cepat menyimpulkan sesuatu berdasarkan narasi viral.
WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Pengamat komunikasi menyoroti kembali mencuatnya polemik antara Ahmad Dhani dan Maia Estianty usai unggahan dokumen penghentian penyidikan kasus dugaan KDRT.
Publik diminta lebih cerdas dan bijak dalam menyikapi informasi yang beredar agar tidak terjebak pada penghakiman sepihak.
Diketahui, Ahmad Dhani kembali membahas masa lalunya dengan Maia Estianty, yang jadi alasan mereka harus bercerai di tahun 2008.
Setelah membahas kabar dugaan perselingkuhan, Dhani juga mengunggah berkas polisi tentang Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3), atas kasus dugaan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).
Dhani dilaporkan oleh Maia Estianty ke polisi, atas kasus dugaan KDRT. Namun polisi mengeluarkan surat SP3, karena pentolan grup band Dewa 19 itu tidak terbukti melakukannya.
Baca juga: Ahmad Dhani Terbukti Tak Bersalah Kasus KDRT, Terungkap Alasan Haru Tak Laporkan Balik Maia Estianty
Unggahan ayah dari Al Ghazali, El Rumi, dan Dul Jaelani membuat warganet memberikan komentar positif dan negatif, baik ke Dhani atau pun Maia.
Masalah ini menjadi sorotan dari Pengamat Komunikasi, Agustina Widyawati, S.Sos.,M.I.Kom.
Agustina Widyawati menyebut kondisi tersebut sebagai dampak budaya 'instant judgment' yang berkembang melalui platform digital.
Menurut Widya, publik saat ini cenderung membentuk kesimpulan tersendiri, berdasarkan narasi emosional yang viral dibanding memahami proses hukum secara menyeluruh.
"Padahal kita sering cuma lihat sebagian kecil dari sebuah persoalan. Apalagi kalau kasusnya menyangkut figur publik, emosi publik biasanya jauh lebih kuat dibanding keinginan untuk mencari fakta secara utuh," kata Agustina Widyawati kepada awak media, Senin (11/05/2026).
Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Sunan Gresik tersebut menjelaskan, unggahan Dhani tersebut menimbulkan adanya perbedaan antara persepsi publik dengan fakta hukum.
Menurut Widya, dalam ilmu komunikasi kondisi tersebut bisa terjawab lewat teori agenda setting dari Maxwell McCombs dan Donald Shaw.
Baca juga: Harapan Ahmad Dhani Cucunya Lahir di Jumat Kliwon Pupus, Usulan Nama Juga Ditolak Al Ghazali
"Teori ini menjelaskan bahwa media tidak selalu menentukan apa yang harus kita pikirkan, tetapi media sangat kuat dalam menentukan isu apa yang dianggap penting oleh publik," ucapnya.
"Jadi ketika media dan media sosial terus menerus menyoroti konflik Ahmad Dhani dan Maia Estianty, publik akhirnya ikut fokus pada sisi-sisi tertentu yang paling sering dimunculkan," sambungnya.
| Cerita Acha Septriasa Rela Bolak-balik Jakarta-Sydney untuk Bekerja dan Demi Anak |
|
|---|
| Diduga Ditipu Rekan Bisnis Rp 2,3 Miliar, Bunga Zainal Temani Sukdhev Singh Lapor ke Mabes Polri |
|
|---|
| Hentikan Nafkah Bulanan, Ruben Onsu Akui Kesulitan Menemui Anak-anaknya Sejak Awal Tahun 2026 |
|
|---|
| Acha Septriasa Dijodohkan dengan Baim Wong setelah Syuting Film 'Suamiku Lukaku', Begini Reaksinya |
|
|---|
| Ruben Onsu Kesulitan Bertemu Anak, Minola Sebayang Minta Sarwendah Lebih Peka |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/Ahmad-dhani-dan-maia-berseteru34.jpg)