Warta Pendidikan
UMN Hadirkan Program Studi Kecerdasan Buatan, Fokus Teknologi hingga Etika
Peluncuran Program Studi Sarjana Kecerdasan Buatan menjadi selaras dengan visi UMN, yakni unggul di bidang berbasis ICT
Penulis: Ikhwana Mutuah Mico | Editor: Feryanto Hadi
Meski teknologi terus berkembang pesat, ia menegaskan manusia tetap memiliki keunggulan yang tidak dapat digantikan mesin. Kemampuan seperti empati, kreativitas, serta pemikiran kritis menjadi nilai penting yang harus terus dikembangkan.
“Human skill seperti komunikasi, empati, critical thinking, dan kreativitas itu tidak bisa digantikan oleh AI. Itu yang menjadi kekuatan manusia,” katanya.
Untuk itu, UMN didorong menjadi inkubator talenta yang mampu melahirkan lulusan adaptif. Selain kompetensi akademik, mahasiswa juga dibekali kemampuan kewirausahaan dan pengalaman internasional agar siap bersaing di tingkat global.
Dengan berbagai langkah tersebut, ia berharap UMN tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga ruang pengembangan inovasi yang relevan dengan kebutuhan masa depan.
“Kampus harus menjadi living lab, tempat mahasiswa belajar tidak hanya di kelas, tetapi juga melalui pengalaman nyata,” ujarnya.
Langkah konkret tersebut diwujudkan UMN dengan meluncurkan Program Studi Sarjana (S1) Artificial Intelligence (AI). Peluncuran ini dilakukan oleh jajaran rektorat dalam sebuah acara di Ascott Menteng.
Program studi ini menjadi bagian dari komitmen UMN sebagai perguruan tinggi yang berfokus pada bidang Information and Communication Technology (ICT), sekaligus menjawab kebutuhan industri akan talenta AI yang terus meningkat.
Andrey Andoko, menyampaikan langkah ini merupakan respons terhadap perkembangan teknologi yang kian pesat.
Peluncuran Program Studi Sarjana Kecerdasan Buatan menjadi selaras dengan visi UMN, yakni unggul di bidang berbasis ICT, salah satunya adalah Kecerdasan Buatan.
"Teknologi ini merupakan teknologi baru yang hadir di masyarakat dan berkembang cukup pesat. Hal ini mendorong kami untuk membuka Program Studi Kecerdasan Buatan,” ungkapnya.
Ia menambahkan, AI tidak hanya membawa peluang, tetapi juga disrupsi di berbagai sektor. Karena itu, penguasaan teknologi ini menjadi bekal penting bagi lulusan.
“Pengetahuan mengenai kecerdasan buatan menjadi penting untuk dikuasai secara mendalam, agar lulusan UMN dapat berkontribusi dalam pengembangan kecerdasan buatan serta penerapannya di masa depan,” tambahnya.
Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Internasionalisasi UMN, Friska Natalia, menjelaskan pendekatan tersebut menjadi pembeda utama program studi AI di UMN.
“Program studi ini tidak semata-mata mempelajari konsep dan teori Artificial Intelligence saja, tetapi juga menekankan Sustainable Artificial Intelligence. Teknologi AI digunakan tidak hanya karena kemajuan dan kecanggihannya, tetapi juga menekankan tanggung jawab serta kode etik,” ujar Friska.
Ia berharap pendekatan tersebut dapat menghasilkan lulusan yang mampu memberikan dampak berkelanjutan bagi masyarakat, baik secara sosial maupun lingkungan.
| Tak Lolos SNBP, Muncul Kekhawatiran Baru: Apakah Kuliah Masih Menjamin Masa Depan? |
|
|---|
| Guru Besar FIK UI Ungkap Kompetensi Kultural sebagai Transformasi Ilmu Keperawatan di Indonesia |
|
|---|
| Program Beasiswa Luar Negeri Diwacanakan, Politisi PSI Minta KJP dan KJMU Tak Terganggu |
|
|---|
| Rektor UI Temui Pramono Anung Bahas Pengembangan Rumah Sakit dan Hunian Hijau |
|
|---|
| Siswa SMK Jakarta Borong Gelar di Ajang Virtual Company 2026 |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/Universitas-Multimedia-Nusantara-meluncurkan-Program-Studi-AI.jpg)