Rabu, 13 Mei 2026

Kemensos

Mensos Gus Ipul dan 12 Pemda Bahas Persoalan The Invisible People di Daerah

Mensos Gus Ipul melakukan audiensi dengan 12 Pemda bahas persoalan the invisible people di daerah.

Tayang:
Kemensos
Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menerima audiensi anggota DPRD, serta sejumlah kepala daerah membahas berbagai persoalan sosial, di Kantor Kementerian Sosial, Jakarta Pusat, Selasa (12/5/2026).  

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menerima audiensi anggota DPRD, serta sejumlah kepala daerah membahas berbagai persoalan sosial, di Kantor Kementerian Sosial, Jakarta Pusat, Selasa (12/5/2026). 

Audiensi dihadiri Wakil Ketua DPRD Provinsi NTT Kristien Samiyato Pati, Wakil Ketua DPRD Kota Mataram Istiningsih, Bupati Batang Muhammad Faiz Kurniawan, Bupati Jombang Warsubi, Bupati Solok Jon Firman Pandu, Bupati Simeulue Mohammad Nasrun Mikaris, Bupati Kepulauan Aru Timotius Kaidel, Plt Bupati Tulungagung Ahmad Baharudin, Wakil Bupati Kebumen Zaeni Miftah, Kepala Dinas Sosial Trisno dan Kepala Dinas Sosial Kabupaten Garut Marlinda.

Sementara Gus Ipul didampingi Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono, Sekretaris Jenderal Kemensos Robben Rico, Kepala Biro Umum Salahuddin Yahya, Kepala Pusat Data dan Informasi Joko Widiarto, serta jajaran staf khusus dan tenaga ahli menteri.

Gus Ipul membuka audiensi dengan menyinggung fenomena the invisible people, yaitu kelompok masyarakat miskin dan rentan yang selama ini luput dari perhatian negara karena tidak terdata dengan baik. Ia mencontohkan kisah Al-Jabbar, anak usia 12 tahun di Jakarta yang belum pernah sekolah meski tinggal tidak jauh dari pusat pemerintahan.

“Bisa jadi dia tetangga kita, bisa jadi tidak jauh dari kita. Tapi penderitaannya tidak tampak karena mereka tidak pernah menyampaikan apa yang jadi kebutuhan mereka,” kata Gus Ipul.

Menurutnya, persoalan serupa juga banyak ditemukan di berbagai daerah, termasuk wilayah kepulauan dan kawasan dengan keterbatasan akses layanan sosial. Karena itu, ia meminta pemerintah daerah aktif memperkuat pemutakhiran Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) agar warga rentan tidak lagi terlewat dari intervensi pemerintah.

Wakil Ketua DPRD Provinsi NTT Kristien Samiyato Pati menyampaikan bahwa masyarakat di wilayahnya menghadapi tekanan sosial berlapis, mulai dari kekeringan ekstrem, dampak perubahan iklim, kemiskinan, hingga persoalan PMI.

“Kami datang bukan meminta belas kasihan, tapi kami datang ingin memastikan negara hadir lebih kuat dan lebih adil bagi masyarakat di wilayah kepulauan Nusa Tenggara Timur,” ujar Kristien.

Ia menyoroti kondisi pekerja migran Indonesia (PMI) asal NTT yang kerap dipulangkan dalam kondisi meninggal dunia.

Menurutnya, banyak keluarga kesulitan membawa jenazah kembali ke desa asal karena keterbatasan biaya.

“Negara tidak boleh berhenti hadir di bandara debarkasi. Negara harus hadir sampai tahap terakhir, memastikan mereka pulang secara bermartabat ke kampung halamannya,” katanya.

Selain itu, ia juga meminta penguatan layanan rehabilitasi sosial bagi ODGJ, dukungan afirmasi untuk wilayah kepulauan dalam pemutakhiran data sosial, serta penguatan lumbung sosial bagi daerah rawan kekeringan.

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Kota Mataram Istiningsih menyampaikan persoalan penonaktifan hampir 10 ribu kepesertaan PBI-JK di Kota Mataram yang menjadi perhatian masyarakat.

Ia meminta kejelasan mekanisme reaktivasi dan pengawasan terhadap validitas data penerima bantuan sosial.

“Bagaimana pengawasan terhadap proses pencoretan yang hampir 10 ribu masyarakat Kota Mataram ini dari kepesertaan BPJS PBI agar tidak terjadi kesalahan data lagi,” ujar Istiningsih.

Sumber: WartaKota
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved