Berita Internasional
Amerika Serikat Merasa Ditinggalkan NATO Dalam Perang Iran
Amerika Serikat (AS) merasa telah ditinggalkan sekutu Organisasi Pertahanan Atlantik Utara (NATO) saat berperang dengan Iran.
WARTAKOTALIVE.COM - Amerika Serikat (AS) merasa telah ditinggalkan sekutu Organisasi Pertahanan Atlantik Utara (NATO) saat berperang dengan Iran.
Kekecewaan tersebut disampaikan Sekretaris Luar Negeri AS Marco Rubio setelah hampir satu bulan perang AS-Israel dengan Iran.
Perang dengan Iran sendiri di luar prediksi AS lantaran rezim Republik Islam tidak bubar setelah digempur pada Sabtu (28/2/2026).
Padahal sejumlah jenderal Republik Islam hingga pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei meninggal dalam serangan AS-Israel.
Namun hingga kini yang dipastikan oleh Presiden AS Donald Trump bahwa rezim Republik Islam masih berdiri kuat.
AS pun sempat meminta bantuan sekutu negara-negara Eropa yang tergabung dalam NATO untuk membantu.
Namun respon negara-negara NATO justru angkat tangan dan ogah terlibat dalam perang tersebut.
Hal ini membuat AS kecewa yang disampaikan oleh Marco Rubio pada Jumat (27/3/2026).
Dalam pernyataannya Rubio mengatakan bahwa AS selama ini selalu membantu sekutu dalam berperang.
Namun ketika saat ini AS membutuhkan bantuan, ternyata mereka ditinggalkan oleh NATO.
“AS terus-menerus diminta untuk membantu dalam perang dan kami telah melakukannya. Tetapi ketika kami membutuhkan bantuan, kami tidak mendapatkan respon positif dari NATO,” jelasnya.
Rubio juga kecewa dengan pernyataan beberapa pemimpin negara di Eropa yang menyebut bahwa perang ini bukanlah perang Eropa sehingga tidak mau ikut campur.
Rubio kemudian membuat perandaian dengan perang Ukraina yang di luar geografis benua Amerika namun negara Paman Sam tersebut tetap membantu.
Baca juga: Perdana Menteri Malaysia Berhasil Bujuk Iran untuk Melintas di Selat Hormuz
“Beberapa pemimpin mengatakan bahwa Iran bukanlah perang Eropa. Nah, Ukraina bukanlah perang kita, namun kita telah memberikan kontribusi lebih besar dalam perang itu daripada siapa pun,” jelasnya.
Selain itu Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan kritik tajam terhadap sekutu tradisionalnya, Inggris, dalam pernyataan terbaru terkait konflik di Timur Tengah.