Kemensos
Kisah Difabel Tuli Perdana Dengar Suara Takbiran: Dulu Duniaku Sangat Sunyi
Isra menerima bantuan alat bantu dengar dari STIS Kemensos. Untuk pertama kalinya ia mulai mengenal suara.
WARTAKOTALIVE.COM, BOGOR - Tekad Isra (29), seorang difabel tuli asal Padang, Sumatera Barat sangatlah kuat untuk memperbaiki hidupnya.
Ia rela merantau hingga menjadi peserta pelatihan di Sentra Terpadu Inten Soeweno (STIS), Cibinong, Kabupaten Bogor, binaan Kementerian Sosial RI.
“Aku tidak mau pulang sebelum bisa bawa uang untuk orang tuaku,” ungkap Isra melalui bahasa isyarat, beberapa waktu lalu.
Isra meninggalkan rumah dan kedua orang tuanya demi satu tujuan, yaitu menjadi mandiri. Lulusan SLB YPPLB Padang pada 2016 lalu itu merupakan penyandang disabilitas tuli sejak lahir.
Sejak kecil, ia hidup dalam dunia yang sunyi, mengandalkan penglihatan dan bahasa isyarat untuk memahami lingkungan sekitar.
Namun keterbatasan tidak membuatnya berhenti. Isra dikenal sebagai pribadi yang tekun dan disiplin.
Di lingkungan pelatihan, ia menjalani setiap aktivitas dengan sungguh-sungguh, mulai dari workshop hingga kehidupan di asrama.
Ia juga aktif membantu teman-teman sesama tuli, khususnya dalam mengatasi kesulitan komunikasi.
Sebagai anak tunggal, Isra ingin membalas perjuangan orangtuanya. Ayahnya bekerja sebagai buruh, sementara ibunya membuka warung kecil.
Dukungan keluarga menjadi alasan kuat baginya untuk terus melangkah, meski harus merantau jauh.
Sebelum mengikuti pelatihan, Isra pernah bekerja di pusat perbelanjaan sebagai staf gudang yang menangani stock opname di Kota Padang.
Pengalaman itu menjadi bekal awal, sekaligus memperkuat keinginannya untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dan stabil.
Perjalanannya menuju titik ini tidak singkat. Isra harus menunggu hingga tiga tahun untuk mendapatkan kesempatan mengikuti pelatihan vokasional dalam penyelenggaraan rehabilitasi sosial dan pelatihan vokasional bagi penyandang disabilitas. Isra pun mengambil jurusan contact center, sembari menyiapkan diri untuk masuk ke dunia kerja.
Titik balik itu datang ketika Isra menerima bantuan alat bantu dengar dari STIS Kemensos. Untuk pertama kalinya ia mulai mengenal suara, sesuatu yang sebelumnya hanya ia pahami melalui gerakan dan ekspresi.
“Dari yang biasanya cuma bisa melihat gerakan, sekarang sudah lebih lancar komunikasi,” katanya.
| Tanggapi Amien Rais, Agus Jabo: Jangan Gunakan Kebencian Alat Politik untuk Gagalkan Program Rakyat |
|
|---|
| Mensos Gus Ipul: Operator Data Desa Kunci Keberhasilan Pengentasan Kemiskinan |
|
|---|
| Sekolah Rakyat Siap Sambut Siswa Baru, Penjangkauan Bebas Titipan |
|
|---|
| Gus Ipul: Perhatian Presiden untuk Buruh dan Rakyat Berpenghasilan Rendah Sangat Besar |
|
|---|
| Anggota Komite Eksekutif Pembangunan Otonomi Khusus Papua Siap Dukung Program Sekolah Rakyat |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/Isra-teman-tuli-saat-berdoa-di-musala-STIS-Cibinong-saat-malam-takbiran.jpg)