Senin, 4 Mei 2026

Berita Internasional

Iran Bersumpah Balas Dendam, AS Sebut Serangan Demi Perubahan Rezim

Iran Bersumpah Balas Dendam, Amerika Serikat Sebut Serangan Demi Perubahan Rezim

Tayang:
Editor: Joanita Ary
Istimewa/Tidak Ada
IRAN BERSUMPAH BALAS DENDAM -- Tangis ribuan warga pecah di jalan-jalan utama Teheran, Minggu (1/3/2026), ketika prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei berlangsung di tengah suasana duka nasional yang berubah menjadi gelombang kemarahan publik. Lautan manusia memenuhi ibu kota Iran sejak pagi hari untuk memberikan penghormatan terakhir kepada sosok yang selama lebih dari tiga dekade menjadi pusat kekuasaan politik dan spiritual Republik Islam Iran. 

WARTAKOTALIVECOM — Ketegangan geopolitik di Timur Tengah memasuki fase paling berbahaya setelah Korps Garda Revolusi Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) menegaskan akan melancarkan serangan balasan besar terhadap Israel dan Amerika Serikat menyusul tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan militer di Teheran.

Dalam pernyataan resmi yang disampaikan melalui kanal Telegram pada Minggu (1/3/2026), IRGC menyebut kematian Khamenei sebagai “kejahatan besar” yang tidak akan dibiarkan tanpa respons militer.

Pasukan elite Iran itu menegaskan tengah menyiapkan operasi balasan yang disebut sebagai yang paling keras sepanjang sejarah konflik Iran dengan musuh-musuhnya.

“Korps Garda Revolusi Iran akan melancarkan operasi paling ganas dalam sejarah terhadap Israel dan pangkalan Amerika Serikat,” demikian pernyataan IRGC.

Pernyataan tersebut muncul sehari setelah serangan gabungan yang disebut melibatkan Amerika Serikat dan Israel menghantam sejumlah fasilitas strategis di Teheran pada Sabtu (28/2/2026).

Serangan itu tidak hanya menewaskan Khamenei, tetapi juga mengguncang struktur kepemimpinan militer Iran.

Sedikitnya tujuh pejabat senior keamanan dan pertahanan Iran dilaporkan tewas dalam operasi tersebut.

Di antara korban adalah Komandan IRGC Jenderal Mohammad Pakpour, sosok penting yang selama ini dikenal sebagai arsitek strategi pertahanan regional Iran.

Kehilangan sejumlah tokoh kunci sekaligus dalam satu serangan dinilai sebagai pukulan terbesar terhadap elite keamanan Iran dalam beberapa dekade terakhir.

Sumber-sumber internal Iran juga menyebutkan bahwa sejumlah anggota keluarga Khamenei turut menjadi korban, termasuk putri, menantu laki-laki, cucu, serta menantu perempuan.

Informasi ini memperdalam kemarahan publik domestik Iran sekaligus memperkuat narasi pemerintah bahwa serangan tersebut merupakan upaya penghancuran simbol kepemimpinan negara.

Di Washington, Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka mengonfirmasi tujuan strategis di balik operasi militer tersebut.

Ia menyebut sedikitnya lima sasaran utama yang ingin dicapai melalui serangan itu, yakni mencegah Iran memperoleh senjata nuklir, menahan pengembangan program rudal balistik, menghapus ancaman terhadap kepentingan Amerika Serikat dan sekutunya, menyoroti pelanggaran hak asasi manusia terkait kematian demonstran di Iran, serta membuka jalan bagi perubahan rezim.

“Ini adalah satu-satunya kesempatan terbesar bagi rakyat Iran untuk merebut kembali negara mereka,” ujar Trump dalam pernyataannya.

Pernyataan tersebut segera memicu reaksi keras dari Teheran.

Sumber: WartaKota
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved