Senin, 8 Juni 2026

Berita Kesehatan

BRIN Gandeng BPOM RI, Targetkan 5 Fitofarmaka Baru dan Kembangkan Vaksin Malaria hingga Kanker

BRIN dan BPOM RI percepat fitofarmaka dan vaksin kanker di Jakarta Jumat 27 2 2026 demi kedaulatan kesehatan Indonesia

Tayang:
Editor: Mohamad Yusuf
Tribunnews
SINERGI KESEHATAN - (Ilustrasi) Kepala BRIN Arif Satria mengunjungi BPOM RI di Jakarta, Jumat (27/2/2026). Pertemuan membahas percepatan fitofarmaka dan pengembangan vaksin nasional. 

WARTAKOTALIVE.COM, PALMERAH - Upaya memperkuat kedaulatan kesehatan nasional kian digencarkan pemerintah.

Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN menggandeng Badan Pengawas Obat dan Makanan RI untuk mempercepat lahirnya obat dan vaksin karya anak bangsa.

Kolaborasi itu mengemuka saat Kepala BRIN Arif Satria bersama jajaran berkunjung ke kantor BPOM RI pada Jumat (27/2/2026).

Baca juga: Sinergitas Pemangku Kebijakan dan APH Perkuat Pengawasan Bahan Radioaktif di Indonesia

Dalam pertemuan tersebut, kedua lembaga membahas langkah konkret memperbanyak jumlah fitofarmaka dan mendorong inovasi vaksin.

Arif mengungkapkan, Indonesia sebenarnya memiliki kekayaan hayati luar biasa.

Spesies tanaman yang berpotensi menjadi obat bahkan masuk dalam seribu besar dunia, namun jumlah fitofarmaka di dalam negeri masih tergolong minim.

Baca juga: Astra International Raup Pendapatan Rp323,4 Triliun Tahun 2025

“Oleh karena itu kami sepakat untuk mempercepat peningkatan jumlah fitofarmaka. Dengan bertambahnya obat herbal yang naik kelas menjadi fitofarmaka, ketergantungan kita terhadap obat impor akan semakin menurun,” kata Arif kepada awak media usai kunjungan, Jumat (27/2/2026).

Menurutnya, penguatan fitofarmaka bukan hanya soal kesehatan, tetapi juga berdampak pada ekonomi nasional.

Semakin banyak produk dalam negeri yang tersertifikasi, semakin besar pula peluang Indonesia mandiri di sektor farmasi.

Percepatan Fitofarmaka dan Uji Klinis

Arif menjelaskan, riset terkait fitofarmaka akan dilakukan BRIN dengan pendampingan BPOM sejak tahap awal.

Dengan pengawalan sejak fase riset, proses menuju uji klinis hingga registrasi diharapkan bisa berjalan lebih cepat dan terukur.

“Dalam waktu dekat ada sekitar empat hingga lima jenis fitofarmaka yang akan kami dorong. Kami berkomitmen mempercepat proses registrasinya,” ujarnya.

Ia menilai sinergi ini penting agar hasil riset tidak berhenti di laboratorium, tetapi benar benar sampai ke masyarakat.

Hilirisasi menjadi kunci agar inovasi bisa dirasakan manfaatnya secara luas.

Baca juga: Ringankan Beban Warga saat Ramadan, Ketua Fraksi PAN DKI Bagikan Ratusan Paket Sembako Gratis

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved