Berita Nasional
WFH Jumat Dinilai Efektif Tekan Konsumsi Energi Nasional
Pakar nilai kebijakan WFH tiap Jumat efektif hemat energi tanpa naikkan BBM, dengan dampak minimal pada produktivitas kerja.
Penulis: Yolanda Putri Dewanti | Editor: Dwi Rizki
Ringkasan Berita:
- Kebijakan WFH setiap Jumat mulai 1 April 2026 dinilai pakar sebagai langkah strategis menekan konsumsi energi tanpa menaikkan harga BBM.
- Penghematan terjadi dari sektor gedung dan transportasi, dengan potensi penurunan beban listrik hingga 20 persen.
- Produktivitas kerja dinilai tetap terjaga melalui sistem kerja hybrid.
- Kebijakan ini juga membantu mengurangi biaya pekerja dan beban fiskal pemerintah di tengah krisis energi global.
WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Sejumlah pakar kebijakan publik mendukung kebijakan pemerintah yang menerapkan work from home (WFH) setiap hari Jumat mulai 1 April 2026.
Kebijakan ini dipandang sebagai upaya realistis pemerintah dalam menjaga stabilitas tanpa harus menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM).
Pengamat kebijakan publik Universitas Padjadjaran (Unpad), Bonti Wiradinata mengatakan, kebijakan tersebut sebagai bentuk manajemen permintaan energi yang cukup efektif.
Pemerintah, kata dia, memilih pendekatan yang lebih aman secara ekonomi dan politik dibandingkan opsi menaikkan harga BBM yang berisiko memicu inflasi.
“Kebijakan WFH Nasional setiap Jumat yang dimulai 1 April 2026 merupakan langkah strategis yang menarik untuk dibedah. Di tengah gejolak harga minyak mentah dunia yang tidak menentu, pemerintah terlihat memilih jalur 'manajemen permintaan' (demand management) daripada menaikkan harga subsidi yang berisiko memicu inflasi dan gejolak politik,” ujar Bonti dalam keterangan resminya, Kamis (2/4/2026).
Baca juga: Pertamina Pastikan Pasokan LPG Tidak Terganggu Imbas Kebakaran SPBE Cimuning
Potensi Penghematan Energi dari Sektor Gedung dan Transportasi
Bonti memaparkan, penurunan beban listrik di gedung-gedung pemerintahan dan swasta di Jakarta, Surabaya, dan Medan dapat mencapai 15-20 % imbas WFH pada hari Jumat. Hal ini mengurangi beban puncak PLN.
Selain itu, mengacu pada data historis mobilitas di 5 kota besar; Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan, dan Makassar, Bonti menyebut sektor transportasi menyumbang sekitar 46?ri total konsumsi energi final.
Dengan asumsi 20-30 % tenaga kerja melakukan WFH, Bonti mengatakan terdapat potensi penurunan konsumsi listrik perkantoran yang signifikan.
“Dari sisi kebijakan publik, langkah ini merupakan bentuk kebijakan konservasi energi sektoral. Penghematan energi terjadi pada dua titik utama, yaitu operasional gedung perkantoran dan konsumsi bahan bakar kendaraan,” kata dia.
Dari sisi produktivitas, Bonti menyebut kebijakan WFH satu hari dalam sepekan tidak akan mengganggu kinerja lembaga maupun perusahaan secara signifikan. Bahkan, dengan dukungan infrastruktur digital yang memadai, pola kerja hybrid justru berpotensi meningkatkan efisiensi kerja.
Bonti menambahkan, kebijakan ini juga memberikan manfaat ekonomi langsung bagi pekerja karena berkurangnya biaya transportasi dan operasional harian. Sementara bagi pemerintah, langkah ini menjadi instrumen pengendalian konsumsi energi yang relatif murah namun berdampak luas.
"Ditinjau dari perspektif politik dan manajemen organisasi sering kali mempertanyakan hal ini. Kuncinya bukan pada lokasi, melainkan pada infrastruktur digital sebagai backbone manajemen birokrasi," ujar Bonti.
Senada dengan Bonti, pakar kebijakan publik Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), Kristian Widya Wicaksono, menilai kebijakan WFH merupakan langkah rasional dalam merespons krisis energi global. Menurut dia, pendekatan ini memungkinkan pemerintah mengendalikan konsumsi energi tanpa membebani fiskal negara.
“Kebijakan pemerintah yang memberlakukan WFH setiap hari Jumat bagi ASN dan sebagian sektor swasta dapat dipandang sebagai langkah yang rasional dan relatif positif dalam konteks krisis energi global. Dari perspektif kebijakan publik, ini merupakan bentuk intervensi di sisi permintaan (demand-side management), yaitu upaya menekan konsumsi energi tanpa harus menambah beban fiskal melalui subsidi atau menaikkan harga BBM,” ujar Kristian.
| Dibongkar Orang Dekat, Ma'ruf Amin Tak Pernah Dilibatkan Jokowi saat Resuffle: Nggak Pernah Dihargai |
|
|---|
| Sultoni Resmi Jabat Ketua Umum DPP Pemuda LIRA Periode 2026–2031 |
|
|---|
| Terlibat Pembangunan, Jepang Prihatin dengan Kecelakaan di Stasiun Bekasi Timur |
|
|---|
| Penampakan SPPG Kelapa Gading yang Dinobatkan Sebagai Dapur MBG Terbaik |
|
|---|
| Politisi PDIP Sebut Pidato Prabowo Soal Yaman Berbahaya, Bisa Timbulkan Permusuhan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/DILEMA-WFH-JUMAT-Gambar-merupak.jpg)