Sabtu, 25 April 2026

Gerhana Bulan

Gerhana Bulan “Blood Moon” 7–8 September 2025, Begini Cara Menyaksikannya

Gerhana Bulan “Blood Moon” 7–8 September 2025, Begini Cara Menyaksikannya dan Simak Jadwalnya

Editor: Joanita Ary
Tribunnews.com
GERHANA BULAN -- Minggu malam (7/9/2025) ini langit Indonesia berpeluang menampilkan fenomena gerhana bulan total atau yang populer disebut “blood moon”. Peristiwa itu berlangsung pada rentang malam Minggu (7/9/2025) hingga dini hari Senin (8/9/2025) dan dapat disaksikan dari seluruh wilayah Indonesia bila kondisi cuaca mendukung. 

WARTAKOTALIVECOM, JAKARTA -- Minggu malam (7/9/2025) ini langit Indonesia berpeluang menampilkan fenomena gerhana bulan total atau yang populer disebut “blood moon”.

Peristiwa itu berlangsung pada rentang malam Minggu (7/9/2025) hingga dini hari Senin (8/9/2025) dan dapat disaksikan dari seluruh wilayah Indonesia bila kondisi cuaca mendukung.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu Setyoajie Prayoedhie menjelaskan bahwa durasi keseluruhan gerhana, dari fase penumbra awal hingga penumbra akhir, sekitar 5 jam 29 menit 48 detik.

Saat Bulan benar-benar berada dalam bayangan inti (umbra) dan berubah warna kemerahan, fase total diperkirakan berlangsung sekitar 1 jam 22 menit.

BMKG menekankan fenomena ini dapat dinikmati publik asalkan langit cerah.

Untuk pengamat di Jakarta (WIB) BMKG dan perhitungan astronomi internasional mencatat fase-fase utama berlangsung kira-kira sebagai berikut

  • Gerhana penumbra mulai sekitar pukul 22.26–22.28,
  • Gerhana sebagian mulai memasuki umbra sekitar pukul 23.26–23.27,
  • Fase total diperkirakan dimulai sekitar 00.30
  • Mencapai puncak pada sekitar 01.11 WIB,
  • Seluruh rangkaian gerhana diperkirakan selesai menjelang pukul 03.55–03.56 WIB.

Perhitungan serupa, yang disusun oleh lembaga internasional, menegaskan bahwa hampir seluruh Indonesia berada di wilayah pengamatan dengan perbedaan hitungan beberapa menit muncul karena perbedaan lokasi dan metode perhitungan.

Masyarakat disarankan mengikuti jadwal resmi lokal BMKG untuk lokasi masing-masing.

Mengapa Bulan Tampak Merah?

Warna kemerahan pada puncak gerhana bukan akibat perubahan fisik pada Bulan, melainkan akibat hamburan cahaya Matahari oleh atmosfer Bumi (Rayleigh scattering).

Sinar matahari yang melewati lapisan atmosfer dibelokkan ke dalam bayangan Bumi.

Gelombang panjang (merah) lebih banyak menembus sehingga yang sampai ke permukaan Bulan dominan bernuansa kemerahan.

Penjelasan ilmiah dan panduan umum tentang gerhana bulan tersedia dari lembaga antariksa internasional yang menjelaskan bahwa fenomena ini aman disaksikan tanpa alat pelindung khusus.

Berbeda dengan gerhana matahari, pengamatan gerhana bulan dapat dilakukan dengan mata telanjang.

Agar pengalaman mengamati lebih optimal, BMKG dan komunitas astronomi merekomendasikan memilih lokasi dengan cakrawala yang bersih dari bangunan tinggi dan polusi cahaya, serta menyiapkan teropong atau teleskop sederhana bila tersedia untuk melihat detail permukaan Bulan.

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved