Rabu, 15 April 2026

Rizal Hafid: Usaha Serabutan Menghidupi Sepak Bola

Nama Rizal Hafid bagi pencinta sepak bola di wilayah Jakarta Utara tentu bukan nama yang asing. Maklum saja, dia adalah Ketua Umum Persitara periode 2010-2014.

|

Palmerah, Wartakotalive.com

Nama Rizal Hafid bagi pencinta sepak bola di wilayah Jakarta Utara tentu bukan nama yang asing. Maklum saja, dia adalah Ketua Umum Persitara periode 2010-2014. Kecintaannya terhadap sepak bola membuat dia rela jatuh-bangun dan kehilangan materi demi Persitara. Meski pun pada akhirnya dia dilengserkan dari klub sepak bola tersebut baru-baru ini.

Bermain bola sudah menjadi bagian hidup dari Rizal Hafid. Sejak kecil di kampungnya di Makassar, Sulawesi Selatan, bermain bola adalah kegiatan yang tidak bisa terpisahkan..

"Ini semua demi kepuasan batin. Tidak ada keuntungan mengurus bola. Hanya orang gila yang mau pegang bola," ujar pria berusia 47 tahun ini saat ditemui di restoran Atrium Mal, medio November lalu.

Hanya saja hobi "merumputnya" itu terhenti karena dia memperjuangkan keinginannya untuk menjadi polisi. Namun jalan hidup Rizal ternyata tidak membawanya menjadi penegak hukum. Dua kali dia mengikuti tes ujian masuk Akademi Polisi (Akpol), Rizal yang sering disapa Daeng ini selalu mengalami kegagalan. Kegagalan itu membuatnya frustasi dan hijrah ke Jakarta.

Di kota metropolitan ini Rizal berkenalan dengan dunia baru yang belum pernah dikenalnya, yakni usaha ekspor-impor furniture. Selama dua tahun, 1987-1988, karier Daeng di bisnis furnitur melesat. Dia pun dipercaya menjadi wakil direktur di PT Mahkota Maju Sejahtera, perusahaan furniture dengan gaji Rp 5 juta per bulan waktu itu.

Sejak memegang perusahaan furniture ini Daeng menjadi percaya diri dan mulai merambah berbagai bidang. Usahanya apa saja selama menghasilkan uang. Dengan kata lain, dia menjadi pengusaha serabutan.

Misalnya, dia pernah melakoni bisnis batubara dan menjadi broker besi tua. Hanya saja kedua bidang ini tidak bertahan lama. Alasannya, karena persaingan yang membuat dia memutuskan untuk berhenti sebagai broker besi tua.

"Kalau besi tua itu kita kalah sama pesaing yang memang usahanya berkelompok dan kompak. Karena dilawan dengan kelompok, ya nyerah juga. Belum lagi saya nggak punya lahan untuk menampung limbah besinya itu. Jadi hanya sebatas broker saja," ujar Daeng.

Penyelenggara musik

Di perusahaan ekspor-impor furnitur Daeng tidak sampai menduduki posisi tertinggi. Dia memutuskan keluar dan mendirikan perusahaan event organizer (EO) bersama beberapa temannya asal Makassar yang merantau ke Jakarta. Usaha barunya yang diusung dengan memakai bentuk CV itu membawanya menggelar show atau konser musik yang melibatkan artis terkenal Ibu Kota ke berbagai daerah, dengan menjual karcis masuk.

Kegiatan ini berjalan sampai dua tahun dengan keuntungan yang luar biasa. Dalam satu bulan dirinya bisa membawa para artis ke tiga sampai empat daerah berbeda. Saat itu, kata Rizal, perusahaan EO itu menggunakan nama Camar karena didirikan secara berkelompok.

Camar sudah bisa mempekerjakan 20 orang karyawan yang digaji berdasarkan bagi hasil. Puluhan pekerja itu memiliki tugas berbeda-beda, mulai dari mencari peserta, pengurusan izin, sampai mencari sponsor.

"Satu bulan kita bisa dapat Rp 100 juta lho. Saat itu mencari uang di EO begitu indahnya karena memang belum ada pesaingnya. Kalau sekarang wah, paling (dapat) setengahnya juga sudah hebat," ujarnya.

Nama Camar, kata Daeng, merupakan nama buah pikirannya yang disetujui oleh lima rekan lainnya. Camar itu merupakan akronim dari "Cari Makan Ramai-ramai". Lantaran waktu itu hampir seluruh anggotanya masih lajang, sehingga duit puluhan juta itu tidak terasa.

Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved