Sabtu, 18 April 2026

Rizal Hafid: Usaha Serabutan Menghidupi Sepak Bola

Nama Rizal Hafid bagi pencinta sepak bola di wilayah Jakarta Utara tentu bukan nama yang asing. Maklum saja, dia adalah Ketua Umum Persitara periode 2010-2014.

|

"Namanya juga masih muda, duit mudah diperoleh habisnya juga gampang. Gaya hidupnya sudah seperti bos saja," ujarnya.

Artis lawas

Rizal masih ingat betul siapa saja artis yang pernah diajaknya show ke daerah ataupun hotel berbintang. Dia menyebutkan nama Dorce, Darto helm, Bagio, grup lawak Dono, Kasino, Indro adalah contohnya.

Belum lagi penyanyi senior Iis Sugianto, Betharia Sonata, sampai Rinto Harahap dibawanya ke penjuru Indonesia. Hanya saja, kebanyakan pertunjukan musik atau show itu digelar di Pulau Jawa dan hotel di Indonesia.

"Dorce itu dulu belum ngetop sudah kita ajak keliling-keliling," ujarnya.

Rizal mengatakan, dirinya masih ingat kegiatan show itu memuncak pada tahun 1991 sampai 1996. Dia masih ingat honor penyanyi solo terkenal waktu itu berkisar Rp 200.000 sampai Rp 300. 000 per penampilan.

"Seperti Iis Sugianto itu dulu bayarannya Rp 250. 000, saat itu kurs dolar masih Rp 2.700 per 1 dolar AS. Muchsin plus Titik Sandora, pasangan terkenal saat itu tarifnya Rp 450.000," ujarnya mengenang masa-masa jayanya.

Hanya saja kegiatan itu pun meredup saat terkena krisis moneter. Rizal, yang menikahi Rachmawati tahun 1994 mulai meninggalkan dunia penyelanggaraan show. Namun bisnis EO-nya masih berjalan sampai saat ini, namun bukan lagi menyelenggarakan konser musik atau acara hiburan, melainkan berkutat pada penyelenggaraan kegiatan seminar, pendidikan, dan pelatihan atau sosialisasi peraturan pemerintah daerah.

Dalam bisnis EO yang berkaitan dengan pendidikan ini, Daeng mengatakan dirinya bekerja sama dengan pemerintah daerah ataupun organisasi masyarakat. Bahkan dia memiliki dua lembaga yang didirikannya, yakni Lembaga Studi Managemen Anggaran Publik dan Pusat Informasi SDM Indonesia.

Karena aktivitasnya di dunia pendidikan ini, Daeng pun diangkat sebagai Ketua Umum APEPSIDO (Asosiasi Pengembangan Penyelenggara Pengembangan SDM Indonesia). "Kegiatannya penyelenggaraan pembinaan teknik (bintek), diklat, seminar, workshop, yang mensosialisasikan program pemerintah terutama di daerah. Seperti anggota DPR, DPRD, pemprov," ujarnya.

Terkecoh

Kembali ke dunia sepak bola, Daeng mengatakan hobinya di sepak bola ternyata sama sekali tidak mendatangkan keuntungan bagi bisnis yang dilakukannya. Nama besarnya di klub Persitara Divisi Utama sama sekali tidak mampu mendongkrak usaha yang dijalaninya itu.

Justru Rizal mengaku terkecoh dengan pemikirannya selama ini, di mana dia menduga bakal menemukan banyak kemudahan dalam berbisnis saat menjadi orang nomor satu di klub Persitara.

Selama ini dia mengira, dengan menjabat sebagai ketua umum tentu jauh lebih mudah bertemu dengan pejabat dan pengusaha tanpa dipusingkan dengan birokrasi. Tapi setelah meraih kursi itu semuanya jauh panggang dari api.

"Dulu saya berpikirnya begitu. Namanya sudah duduk sebagai ketua umum Persitara pasti kenalannya dengan pembesar, sehingga (proyek) itu mudah. Tapi nggak demikian, semua itu sudah ada jalur-jalurnya," ujarnya.

Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved