Kamis, 7 Mei 2026

Liputan Khusus

Urbanisasi Tak Terkontrol Picu Kemiskinan, Kriminalitas hingga Masalah Kota

Urbanisasi pasca Lebaran berpotensi picu kemiskinan, kriminalitas, hingga tekanan infrastruktur jika tak dikelola.

Tayang:
Penulis: M. Rifqi Ibnumasy | Editor: Dwi Rizki
Istimewa
URBANISASI - Kepala Lembaga Demografi FEB UI, I Dewa Gede Karma Wisana mengingatkan dampak negatif urbanisasi tanpa kontrol. 

Ringkasan Berita:
  • Kepala Lembaga Demografi FEB UI, I Dewa Gede Karma Wisana, menyoroti dampak negatif urbanisasi tak terkendali, mulai dari kemiskinan, kawasan kumuh, hingga kriminalitas.
  • Ia menyebut fenomena “spillover” membuat pekerja memilih tinggal di kota penyangga. 
  • Pemerintah diminta fokus pada pemerataan ekonomi dan penguatan infrastruktur agar urbanisasi tetap menjadi pendorong pertumbuhan tanpa menimbulkan beban sosial.

WARTAKOTALIVE.COM, BEJI - Kepala Lembaga Demografi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI), I Dewa Gede Karma Wisana turut menyoroti tren urbanisasi pasca Lebaran.

Bagi Dewa, perpindahan penduduk secara besar-besaran dari desa ke kota besar tanpa kontrol memiliki dampak negatif.

Tanpa penanganan yang baik, urbanisasi hanya akan memunculkan kemiskinan dan masalah hunian.

Imbasnya, muncul daerah kumuh dan padat serta masalah keterjangkauan harga rumah/tanah yang terus meningkat.

Selain itu, Dewa mengingatkan, urbanisasi juga dapat memicu masalah sosial di perkotaan.

Baca juga: Tren Kerja Berubah, Jakarta Kini Tak Lagi Tujuan Utama Cari Kerja

“Agak kecenderungan angka kejahatan atau kriminalitas juga tinggi kalau urbanisasi tidak dikelola atau diantisipasi,” kata Dewa saat dihubungi wartawan Warta Kota, Minggu (26/4/2026).

Tak berhenti di situ, urbanisasi yang tidak terkontrol akan menjadi beban infrastruktur, tekanan pada kebutuhan dasar seperti air bersih, energi, kemacetan lalu lintas, dan kebutuhan transportasi publik meningkat.

Pergeseran Tren Urbanisasi

Menurut Dewa, secara administratif, jumlah penduduk yang masuk ke Jakarta cenderung menurun.

Namun, terjadi fenomena spillover (tumpahan), di mana penduduk tetap bekerja di Jakarta tetapi memilih tinggal di daerah penyangga seperti Depok, Tangerang, dan Bekasi.

Jakarta tetap menjadi pusat kegiatan ekonomi yang sangat tinggi meski pertumbuhan penduduknya menyebar ke wilayah sekitar.

“Jadi yang menarik dari urbanisasinya di Jakarta adalah bukan jumlah penduduk yang bertambah karena masuk secara administratif ke Jakarta, tapi karena ada spillover atau tumpahan,” jelasnya.

Bagi Dewa, urbanisasi masih sangat relevan sebagai penggerak ekonomi, namun cakupannya tidak bisa lagi dilihat hanya dari batas administratif kota, melainkan harus dilihat sebagai satu kesatuan area metropolitan.

Selain itu, sektor informal memegang peranan penting dalam menyelamatkan ekonomi di perkotaan, terutama bagi mereka yang tidak terserap di sektor formal.

Saran untuk Pemerintah 

Sumber: WartaKota
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved