Kamis, 11 Juni 2026

Berita Jakarta

FSGI Desak Evaluasi Total Program MBG, Kasus Keracunan Makanan sebagai Alarm Kegagalan Sistem

FSGI prihatin atas kasus dugaan keracunan makanan yang menimpa 72 siswa SD dan SMA di Pondok Kelapa, Jakarta Timur.

Tayang:
Instagram @lbj_jakarta
MBG - Foto ilustrasi makanan gratis. Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) menyampaikan keprihatinan atas kasus dugaan keracunan makanan yang menimpa 72 siswa SD dan SMA di Pondok Kelapa, Duren Sawit, Jakarta Timur. 

Ringkasan Berita:
  • Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) menyampaikan keprihatinan atas kasus dugaan keracunan makanan yang menimpa 72 siswa SD dan SMA di Pondok Kelapa, Jakarta Timur
  • Para siswa diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG) berupa spageti yang disediakan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG)
  • Kejadian tersebut bukan sekadar insiden tunggal, melainkan indikasi adanya persoalan mendasar dalam pelaksanaan program MBG

 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) menyampaikan keprihatinan atas kasus dugaan keracunan makanan yang menimpa 72 siswa SD dan SMA di Pondok Kelapa, Duren Sawit, Jakarta Timur.

Para siswa diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG) berupa spageti yang disediakan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Ketua Dewan Pakar FSGI serta Pemerhati Anak dan Pendidikan, Retno Listyarti, menilai kejadian tersebut bukan sekadar insiden tunggal, melainkan indikasi adanya persoalan mendasar dalam pelaksanaan program MBG.

Menurut FSGI, pemerintah selama ini cenderung menonjolkan capaian angka sebagai indikator keberhasilan program, namun kurang mendalami analisis ketika terjadi kasus keracunan.

Baca juga: BGN Minta Maaf atas Dugaan Keracunan MBG yang Dialami Puluhan Siswa di Pondok Kelapa Jakarta Timur

Padahal, meningkatnya jumlah korban justru menjadi sinyal adanya masalah serius yang belum tertangani secara menyeluruh.

FSGI menilai kondisi ini sangat mengkhawatirkan, mengingat program MBG menyasar kelompok rentan seperti anak-anak sekolah, balita, ibu hamil, dan ibu menyusui.

Program yang seharusnya meningkatkan kualitas gizi justru berpotensi menimbulkan risiko kesehatan dalam skala besar.

"Jika kasus keracunan terjadi berulang dan melibatkan ribuan orang, ini menunjukkan masalah dalam pengawasan, kualitas bahan makanan, kebersihan, hingga distribusi," kata Retno saat dihubungi, Sabtu (4/4/2026).

Baca juga: Santap Spageti, Ratusan Siswa di Duren Sawit Jakarta Timur Diduga Keracunan Menu MBG

FSGI menegaskan, evaluasi tidak boleh berhenti pada perbandingan angka bulanan semata.

Tren peningkatan rata-rata korban menjadi indikator penting bahwa persoalan mendasar belum terselesaikan.

Oleh karena itu, Badan Gizi Nasional (BGN) diminta melakukan evaluasi total serta membangun sistem pencegahan yang menyeluruh.

Selain itu, FSGI juga menekankan, penanganan tidak cukup hanya dengan menanggung biaya pengobatan korban.

Baca juga: Mahfud MD Soroti MBG: Ada Kasus Lele Mentah dan Potensi Korupsi, Pemerintah Diminta Evaluasi

Pemerintah perlu memastikan adanya perbaikan sistem yang konkret agar kejadian serupa tidak terus berulang.

"Program yang menyangkut makanan dan kesehatan tidak boleh dijalankan setengah hati, setiap korban adalah bukti adanya celah dalam sistem," katanya.

Sumber: WartaKota
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved