Selasa, 2 Juni 2026

Lipsus Harga Plastik

Perang Timur Tengah Bikin Indonesia Krisis Plastik

Asosiasi Pedagang Kaki Lima, Ali Mahsun, menerangkan Indonesia perhari ini Jumat (10/4/2026) sudah masuk dalam kategori krisis plastik.

Tayang:
Penulis: Miftahul Munir | Editor: Feryanto Hadi
Warta Kota/Yolanda Putri Dewanti
KENAIKAN HARGA PLASTIK - Suasana Pasar Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat pada Kamis (2/4/2026). Harga berbagai jenis plastik di Jakarta melonjak hingga 50 persen akibat dampak konflik Timur Tengah yang memicu kenaikan bahan baku petrokimia. 

Kemudian, di warung kelontong serta pedagang di pasar rakyat, di pasar tradisional di seluruh tanah air telah memberikan imbauan kepada pembelinya untuk membawa kantung belanja sendiri demi menghemat pasokan plastik.

"Yang terakhir kalau terpaksa, mereka akan menggunakan daun pisang, daun jati, atau kertas-kertas yang bisa digunakan sebagai pembungkus atau mengemas begitu," terang Ali.

Kebutuhan Plastik di Indonesia

Ali tidak menampik, krisis plastik di Indonesia akibat perang Amerika-Israel dengan Iran.

Indonesia setiap tahunnya dikatakan Ali mendapat impor bahan plastik atau Nafta dari Timur Tengah sekira empat sampai lima ton.

"Hari ini terhambat, Selat Hormuz selama 41 hari masih ditutup dan tidak normal, sehingga bahan baku ini mengalami penyumbatan pasokan," terangnya.

Masih kata Ali, dari data Badan Pusat Statistik (BPS) RI, pada bulan Januari 2026 Indonesia masih mengimpor plastik senilai Rp 14,5 triliun dan Februari 2026 diangka Rp 14,76 triliun.

Seharusnya, pasokan plastik di Indonesia dalam kondisi aman karena dihulunya sangat berlimpah.

"Oleh karena itu rekomendasi saya kepada pemerintah, yang pertama ini masuk di ranah emergency, segera memanggil semua pabrik plastik di Indonesia. Ya. Kemudian yang kedua, lakukan investigasi karena ada kemungkinan besar terjadi penimbunan atau penyumbatan pasokan ke pasar," pinta Ali dengan tegas.

Investigasi kata Ali sangat penting dan harus dilakukan oleh pemerintah guna memastikan tidak terjadi penimbunan sehingga berdampak pada harga plastik.

"Memang banyak di media sosial itu viral plastik diganti daun pisang, plastik diganti daun jati, tapi merubah perilaku atau kultur dari plastik ke daun pisang ke daun jati seperti zaman dulu itu butuh waktu karena ini hal yang sangat emergency, itu menjadi pilihan yang terakhir," tandasnya. (m26)

Sumber: WartaKota
Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved