Dari Jual Equipment hingga Konsultan Kitchen, Ini Perjalanan Bisnis GTK di Industri F&B
Founder PT Guataka Makmur Horecaba Indonesia, Tjokro Husni, menceritakan perjalanan GTK yang dulunya adalah bisnis penyedia peralatan dapur.
WARTAKOTALIVE.COM - Perkembangan dunia kuliner seolah tak pernah berhenti. Berbagai konsep usaha makanan dan minuman terus bermunculan, mulai dari kafe kecil, rumah makan sederhana, hingga restoran dengan konsep yang semakin beragam.
Fenomena ini menunjukkan bahwa industri makanan dan minuman atau food and beverage (F&B) masih menjadi salah satu sektor usaha yang terus berkembang dan tidak pernah sepi peminat.
Namun di balik tingginya ketertarikan pada industri F&B, ada satu elemen penting yang sering luput dari perhatian, yakni mutu dapur sebagai pusat produksi. Padahal, dapur memegang peran penting dalam memastikan proses produksi berjalan efisien sekaligus menjaga kualitas makanan dan minuman yang disajikan kepada pelanggan.
Melihat kebutuhan tersebut, PT Guataka Makmur Horecaba Indonesia (GTK) hadir menawarkan solusi bagi pelaku usaha kuliner, yakni jasa konsultasi dalam merancang dan membangun dapur yang profesional. Menariknya, perjalanan bisnis perusahaan ini tidak langsung dimulai sebagai konsultan dapur profesional.
Dalam podcast Tribun Corner bertajuk “Di Balik Dapur Ngebul Dunia FNB”, Founder dan Direktur PT Guataka Makmur Horecaba Indonesia, Tjokro Husni, menceritakan perjalanan GTK yang pada awalnya berangkat dari bisnis penyedia peralatan dapur sebelum akhirnya berkembang menjadi konsultan rancang bangun dapur profesional.
Berawal dari Hobi Makan dan Jalan-Jalan
Perjalanan Tjokro di industri F&B tidak bermula dari latar belakang pendidikan kuliner. Ia mengaku menempuh pendidikan di bidang komputer di Universitas Bina Nusantara (Binus). Sebelum mendirikan GTK, ia juga sempat berkarier sebagai profesional di beberapa perusahaan yang bergerak di bidang pendidikan serta industri peralatan dan mesin.
Namun, dirinya yang memiliki hobi makan dan bepergian justru membuatnya sering memperhatikan bagaimana restoran beroperasi di balik layar.
“Saya memang hobi makan dan jalan-jalan. Dari situ akhirnya saya banyak melihat bagaimana restoran bekerja di balik layar,” ujarnya.
Dari berbagai pengalaman tersebut, ia mulai melihat peluang bisnis yang berkaitan dengan operasional dapur restoran. Pada 2018, ia bersama rekan bisnisnya memutuskan mendirikan PT Guataka Makmur Horecaba Indonesia.
Terinspirasi dari Kondisi Dapur Restoran
Ide untuk terjun lebih dalam ke industri dapur profesional muncul dari pengalaman sederhana ketika Tjokro mengunjungi sebuah hotel.
Saat melewati area dapur, ia melihat suasana yang menurutnya cukup kacau. Aktivitas di dalam dapur terdengar seperti “orkestra” dengan berbagai suara peralatan, percakapan staf, hingga piring yang jatuh.
“Suasananya ramai sekali. Ada suara pisau beradu dengan talenan, suara kompor, orang teriak-teriak, sampai piring jatuh,” kata dia.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan betapa sibuknya aktivitas di dapur restoran. Namun di sisi lain, ia juga melihat masih banyak dapur yang belum dirancang dengan sistem kerja yang efisien.
Selain itu, kondisi kebersihan dapur juga menjadi perhatian. Bagi Tjokro, dapur yang tidak tertata dengan baik dapat berdampak pada kenyamanan pekerja sekaligus kualitas makanan yang dihasilkan.
Pengalaman itu membuatnya berpikir bahwa dapur restoran seharusnya dirancang dengan sistem kerja yang lebih terstruktur.
“Orang yang bekerja di dapur harus bisa bekerja dengan nyaman. Kalau workflow-nya rapi dan dapurnya bersih, makanan yang dihasilkan juga lebih terjaga kualitasnya,” ujarnya.
Perjalanan GTK: Importir Peralatan Dapur
Ketika pertama kali berdiri pada 2018, GTK berfokus pada impor berbagai peralatan dapur profesional.
Perusahaan menyediakan beragam peralatan yang umum digunakan dalam industri kuliner, mulai dari kompor industri, oven, mixer, hingga mesin vakum yang banyak digunakan oleh restoran maupun usaha bakery.
Menurut Tjokro, sejak awal ia menekankan kepada timnya untuk memahami fungsi setiap peralatan dapur yang dijual.
Dengan pemahaman tersebut, perusahaan dapat membantu pelanggan memilih peralatan yang paling sesuai dengan kebutuhan operasional mereka.
Pandemi Jadi Titik Balik Bisnis GTK
Perjalanan bisnis GTK kemudian mengalami perubahan besar saat pandemi COVID-19 melanda.
Ketika banyak restoran terpaksa menutup usaha karena pembatasan aktivitas, GTK justru memiliki stok peralatan dapur yang cukup banyak.
Di sisi lain, pandemi memunculkan tren baru di masyarakat, yaitu meningkatnya usaha makanan rumahan. Banyak orang mulai menerima pesanan makanan dari rumah sebagai sumber penghasilan.
Dalam kondisi tersebut, kebutuhan terhadap peralatan dapur yang lebih besar dan efisien pun meningkat karena dapur rumah tangga tidak lagi hanya digunakan untuk memasak bagi keluarga.
GTK kemudian membantu para pelaku usaha rumahan memilih peralatan dapur yang mampu meningkatkan kapasitas produksi mereka.
“Kalau di rumah kita masak untuk lima sampai enam orang mungkin cukup dengan kompor dua tungku. Tapi kalau tiba-tiba ada pesanan 30 sampai 40 porsi, tentu butuh equipment yang lebih mumpuni,” kata Tjokro.
Transformasi GTK Menjadi Konsultan Rancang Bangun Dapur
Pandemi juga membuka perspektif baru bagi GTK. Hal ini bermula ketika Tjokro mengunjungi Bali, ia melihat banyak restoran yang tutup cukup lama. Kondisi ini membuat sejumlah fasilitas dapur mengalami kerusakan akibat korosi, hama, hingga peralatan yang tidak terawat.
Dari situ, ia melihat peluang baru bagi GTK untuk tidak hanya menyediakan peralatan dapur, tetapi juga membantu pelaku usaha merancang dapur secara lebih menyeluruh.
Sejak saat itu, GTK mulai bertransformasi menjadi konsultan rancang bangun dapur profesional.
Perusahaan tidak hanya menyediakan peralatan dapur, tetapi juga membantu klien merancang tata letak dapur, mengatur alur kerja staf, hingga memastikan sistem infrastruktur seperti air, gas, ventilasi, dan pengaturan temperatur dapat berfungsi dengan baik.
Menurut Tjokro, dapur restoran sebenarnya merupakan sistem yang cukup kompleks karena melibatkan banyak peralatan serta tim yang bekerja secara cepat dan terkoordinasi.
“Mereka seperti pasukan khusus. Harus cepat, tidak boleh salah, dan makanan harus tetap enak. Dapur harus dirancang agar bisa mendukung kinerja mereka,” ujarnya.
Potensi yang Dimiliki Industri F&B Indonesia
Dalam sesi perbincangan, Tjokro turut menilai industri F&B di Indonesia masih memiliki potensi yang sangat besar untuk terus berkembang. Ia melihat semakin banyak pelaku usaha kuliner muda yang menghadirkan inovasi menu serta konsep bisnis yang kreatif.
Dengan perkembangan tersebut, kebutuhan terhadap dapur profesional yang efisien dan higienis pun semakin meningkat.
Menurutnya, dapur yang dirancang dengan baik tidak hanya membantu menjaga kualitas makanan, tetapi juga membuat proses produksi menjadi lebih efisien dan mampu memenuhi permintaan pelanggan dalam jumlah besar.
“Dengan rancangan dapur yang tepat, workflow bisa berjalan paralel sehingga produksi makanan bisa lebih cepat dan tetap konsisten,” kata dia.
Ingin mengetahui cerita lengkap perjalanan bisnis GTK serta bagaimana pentingnya perancangan dapur dalam industri F&B? Tonton perbincangan selengkapnya dalam podcast Tribun Corner “Di Balik Dapur Ngebul Dunia FNB” di kanal YouTube Tribunnews.
Baca juga: Pelaku Usaha Kuliner Diajak untuk Bangun Ekonomi Kreatif Digital saat Bulan Ramadan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/podcast-Tribun-Corner-bertajuk-Di-Balik-Dapur-Ngebul-Dunia-FNB.jpg)