Selasa, 21 April 2026

Bantu Raih Potensi, Ribuan Anak dan Remaja Bisa Identifikasi Risiko Eksploitasi Seksual Daring

Eksploitasi seksual dan kekerasan online terhadap anak (Online Sexual Exploitation and Abuse towards Children/OSEAC) merupakan masalah kompleks.

Editor: Junianto Hamonangan
Istimewa
KEKERASAN SEKSUAL - Eksploitasi seksual dan kekerasan online terhadap anak merupakan masalah kompleks yang menghalangi anak-anak dan kaum muda menggapai potensi mereka. Ribuan anak dan pemuda diajak untuk bisa mengidentifikasi dan merespon risiko online. 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Eksploitasi seksual dan kekerasan online terhadap anak (Online Sexual Exploitation and Abuse towards Children/OSEAC) merupakan masalah kompleks.

Pasalnya masalah kompleks tersebut yang menghalangi anak-anak maupun kaum muda menggapai potensi mereka. 

Hal itu diungkap dalam sebuah diskusi yang bertajuk Berdaya Summit 2025: Melindungi Anak & Remaja di Era Digital. 

Program Swipe Safe kolaborasi ChildFund International di Indonesia dan ChildFund Australia memungkinkan lebih dari 8 ribu anak dan pemuda dapat mengidentifikasi dan merespon risiko online.

Reny Haning, Child Protection & Advocacy Specialist ChildFund International di Indonesia mengatakan pihaknya telah mengembangkan program ini sejak tahun 2023 silam.  

“Inisiatif Swipe Safe kami kembangkan di Indonesia sejak Januari 2023 di Kupang & Semarang untuk mencegah kekerasan dan eksploitasi daring bagi anak sekaligus menumbuhkan ekosistem yang mendukung keamanan online," jelasnya lewat keterangan, Minggu (15/6/2025). 

Sementara Ansy Damaris Rihi Dara, SH dari LBH Apik NTT mengatakan di Kota Kupang, belum banyak LSM yang benar-benar peduli dan berfokus pada isu-isu kekerasan dan risiko di ranah daring. 

"Tapi ChildFund International di Indonesia hadir melalui program Swipe Safe, mengajak anak-anak untuk lebih sadar, lebih berani bersuara, dan tidak menjadi 'silent killer' di ruang daring," ujarnya. 

Country Director ChildFund International di Indonesia Husnul Maad mengatakan pihaknya menggagas implementasi Swipe Safe di Indonesia berdasar temuan-temuan yang ada. 

“Kajian ChildFund International di Indonesia pada tahun 2022 menunjukkan hampir 50 persen siswa sekolah menengah dan universitas telah melakukan intimidasi terhadap orang lain secara online dan 59 % siswa menjadi korban perundungan online dalam tiga bulan terakhir,” ujarnya. 

Swipe Safe merupakan inisiatif ChildFund Australia yang dikembangkan di 7 negara di Asia Pasifik, termasuk Indonesia.

Baca juga: Pembangkit Terapung Buatan Putra-Putri Bangsa Beroperasi, Pasok Kelistrikan Hampir 60 MW 

Swipe Safe Coordinator ChildFund Australia Muhammad Nuzul mengatakan program ini membangun ekosistem perlindungan anak di ranah daring melalui beberapa 4 langkah. 

“Pertama, pelatihan keamanan daring untuk anak dan pemuda. Kedua, sesi-sesi pengasuhan daring dan perlindungan anak di dunia online untuk orang tua dan pengasuh.,” jelas 

Pendekatan ketiga adalah peningkatan kapasitas tenaga perlindungan anak profesional, aparat penegak hukum, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dan kepolisian. 

Keempat, advokasi untuk integrasi sistem modul Swipe Safe ke dalam pendidikan nasional dan kerangka kerja perlindungan anak. 

Sumber: WartaKota
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved