Berita Jakarta
Jelang Sembahyang Peh Cun, Warga Tionghoa Bikin Bacang dan Kwecang
Dia mengaku, setiap tahun selalu membuat bakcang dan kwecang sendiri. Hal tersebut merupakan warisan dari para leluhurnya.
Penulis: Yolanda Putri Dewanti | Editor: Feryanto Hadi
“Setelah itu, orang tua saya mengajarkan untuk membuat segitiga yang sebenarnya
Saya mencoba lagi dan hasilnya masih hancur. Dalam melipat bakcang untuk menjadi segitiga, memang bukan hal yang mudah bahkan bisa dibilang sangat rumit. Perlu latihan berulang kali hingga pelipatan bakcangnya menjadi segitiga yang sebenarnya. Hingga sekarang saya bisa karena terus mencoba,” jelas dia.
Susanti mengatakan, membuat bakcang membutuhkan waktu yang cukup lama. Sebab, pelipatannya membutuhkan kesabaran dan tidak boleh ada rongga di setiap sisinya, jadi harus benar-benar tertutup rapat.
Ketika bakcang sudah terbentuk dan siap direbus atau dikukus selama berjam-jam.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, nama bakcang sendiri memiliki arti bak yang diartikan sebagai daging dan cang yang diartikan sebagai berisi daging. Jadi, bakcang merupakan makanan yang berisi daging.
Bakcang ini terbuat dari nasi atau ketan yang umumnya berisikan daging ayam, babi, atau sapi.
Setiap tahunnya, etnis Tionghoa merayakan hari istimewa yakni Hari Bakcang atau perayaan festival makan bakcang. Hari Bakcang ini dirayakan pada tanggal lima bulan lima menurut kalender China.
Perayaan Hari Bakcang justru bukan untuk bersenang-senang, melainkan untuk memperingati tragedi tragis, mulai dari meninggalnya tokoh yang diagungkan oleh masyarakat etnis Tionghoa hingga tradisi melempar bakcang untuk mengusir roh-roh jahat.
Selain itu, masyarakat etnis Tionghoa mengadakan lomba perahu naga dengan pukulan drum.
Terdapat legenda yang diyakini oleh masyarakat etnis Tionghoa dan dipercaya sebagai latar belakang dari Hari Bakcang, yakni legenda tentang tokoh Qu Yuan dengan akhir hidupnya yang tragis.
Qu Yuan ini merupakan seorang pejabat dan juga penyair dari Negara Chu. Pada tahun 328 SM hingga 299 SM, Qu Yuan memiliki pengaruh yang besar terhadap Negara Chu.
Namun pada suatu hari, Qu Yuan dituduh melakukan korupsi oleh Kaisar Huai. Kaisar Huai merupakan menteri di Negara Chu. Singkat cerita, Qu Yuan dikucilkan dan diasingkan.
Pada saat Qu Yuan diasingkan, Negara Chu diserang oleh Negara Qin. Negara Chu kalah pada saat itu, dan Qu Yuan menjadi salah satu penyebab kekalahan Negara Chu.
Qu Yuan merasa bersalah dan Ia menenggelamkan diri di sungai Miluo. Setelah masyarakat Negara Chu mengetahui pejabat kesayangan mereka meninggal, mereka beramai-ramai mencari tubuh Qu Yuan.
Mereka menggunakan perahu naga dengan pukulan drum yang bising pada saat mencari tubuh Qu Yuan, dan mereka juga melemparkan bakcang ke dalam air yang bertujuan supaya roh-roh jahat pergi dan tidak mengganggu tubuh Qu Yuan.
| Pemprov DKI Tindak Tegas Pedagang yang Olah Daging Ikan Sapu-sapu Jadi Makanan |
|
|---|
| Pemkot Jaktim Sosialisasi Kependudukan, Sasar Pendatang Baru |
|
|---|
| Sasar ASN, Bank Jakarta Gelar XPORIA 2026 di Balai Kota Jakarta |
|
|---|
| Didominasi Usia Produktif, 7.911 Warga Pendatang Baru Masuk Jakarta setelah Lebaran 2026 |
|
|---|
| Kali Ciliwung Meluap, 2.259 Warga di Kramat Jati dan Jatinegara Jakarta Timur Terdampak Banjir |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/Sembahyang-atau-perayaan-Hari-Bakcang.jpg)