Jumat, 10 April 2026

Berita Jakarta

Jelang Sembahyang Peh Cun, Warga Tionghoa Bikin Bacang dan Kwecang

Dia mengaku, setiap tahun selalu membuat bakcang dan kwecang sendiri. Hal tersebut merupakan warisan dari para leluhurnya.

Warta Kota/Yolanda Putri Dewanti
PEHCUN- Sembahyang atau perayaan Hari Bakcang (Peh Cun) pada tahun 2025 akan jatuh pada hari Sabtu, 31 Mei. Perayaan ini biasanya dirayakan dengan berbagai tradisi, seperti makan bakcang, lomba perahu naga, dan sembahyang untuk menghormati nenek moyang.(Foto: Yolanda Putri Dewanti) 

Laporan wartawan wartakotalive.com Yolanda Putri Dewanti

WARTAKOTALIVE.COM JAKARTA — Sembahyang atau perayaan Hari Bakcang (Peh Cun) pada tahun 2025 akan jatuh pada hari Sabtu, 31 Mei.

Perayaan ini biasanya dirayakan dengan berbagai tradisi, seperti makan bakcang, lomba perahu naga, dan sembahyang untuk menghormati nenek moyang. 

Sebelum perayaan Hari Bakcang tiba, warga etnis Tionghoa mulai sibuk membuat bakcang dan kwecang.

Berdasarkan pantauan Wartakotalive.com Sabtu (30/5), salah satu warga Tionghoa asal Bekasi Susanti (45), tengah sibuk membuat bakcang dan kwecang di tempat tinggalnya.

Dia mengaku, setiap tahun selalu membuat bakcang dan kwecang sendiri. Hal tersebut merupakan warisan dari para leluhurnya.

Sejak beberapa hari lalu, Susanti sudah menyiapkan bahan-bahan membuat bakcang seperti beras ketan, daun bambu, olahan daging dan lain-lain.

Sedangkan , Kwecang (atau juga dikenal sebagai kicang) terbuat dari beras ketan yang dikukus dengan daun bambu. 

Beras ketan dicampur dengan air abu (atau air ki) sebelum dibungkus dan dikukus, menghasilkan tekstur yang lebih kenyal dan rasa manis. Beberapa variasi kwecang juga bisa menggunakan air gula merah. 

Kwecang adalah variasi Bakcang versi manis. Ia memiliki rasa manis yang khas dan sering dinikmati bersama dengan gula merah.

“Memang sekarang ini sudah jarang yang membuat bakcang, tetapi karena di keluarga saya diajarkan sejak kecil  sampai sekadang bisa membuat sendiri tanpa membeli,” ucap Susanti sembari membuat bakcang.

Susanti mengatakan, pada saat Hari Bakcang, masyarakat etnis Tionghoa melakukan sembahyang dengan menyajikan bakcang di meja.

“Setelah selesai sembahyang, keluarga baru diperbolehkan untuk mengkonsumsi bakcangnya,” ungkap dia.

Dia mengatakan, pembuatan bakcang ini memerlukan teknik dan harus berlatih, sebab pelipatan segitiga yang amat rumit.

Awalnya, kata dia, pas baru pertama kali mencoba melipat bakcang menjadi segitiga dan hasilnya hancur, bentuknya tidak seperti yang seharusnya.

Sumber: WartaKota
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved