Minggu, 19 April 2026

Berita Nasional

Paradigma Baru Pertanian, Ada Peran Besar Haji Isam Saat Panen Perdana di Merauke

Peran Besar Haji Isam Dalam Paradigma Baru Swasembada Pangan di Balik Suksesnya Panen Perdana di Merauke

Editor: Dodi Hasanuddin
Istimewa
PANEN PADI PERDANA - Panen perdana padi yang berhasil dilakukan di Distrik Wanam, Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan, pada Jumat (16/5/2025). Program cetak satu juta hektare sawah di Papua Selatan digagas Presiden Prabowo Subianto. 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Panen perdana padi yang berhasil dilakukan di Distrik Wanam, Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan, pada Jumat pekan lalu (16/5/2025), membuat banyak pihak terkejut.

Bukan hanya karena hasilnya yang mencapai 2,5–2,8 ton per hektare meskipun baru menggunakan metode tanam sederhana (hambur) tanpa teknologi modern, tetapi karena peristiwa ini telah membantah satu narasi lama yang terlanjur mapan, yakni bahwa Papua bukan kawasan pertanian. 

Baca juga: Haji Isam Ikut Dampingi Presiden Prabowo Subianto Temui Bill Gates di Istana

Pengamat ekonomi dan kebijakan publik UPN Veteran Jakarta (UPNVJ) Freesca Syafitri menilai program cetak satu juta hektare sawah di Papua Selatan sebagai proyek nasional yang digagas Presiden Prabowo Subianto itu telah membuka lembaran baru. 

"Tidak hanya dalam ketahanan pangan nasional, tetapi juga dalam politik pembangunan nasional yang lebih adil secara spasial dan sosial," tutur Freesca saat dihubungi  di Jakarta, Jumat (23/5/2025).

Keberhasilan panen perdana itu tak lepas dari peran besar pengusaha pribumi asal Kalimantan Selatan, Andy Syamsuddin Arsyad atau biasa disapa Haji Isam yang sejak awal berkontribusi sangat banyak mewujudkan gagasan pemerintah menjadikan Papua Selatan sebagai salah satu lumbung pangan di Tanah Air.

Pemilik Jhonlin Group itu tahun lalu memesan 2.000 unit ekskavator dari China guna mendukung program cetak satu juta hektare sawah. 

Menurut Freesca, keberhasilan panen perdana tersebut mematahkan pesimisme sebagian kalangan bahwa Papua Selatan dapat dijadikan lumbung pangan. 

Baca juga: Panen Perdana Lumbung Pangan Kampung Wanam Papua Selatan, Petrus Kahol: Habis Gelap Terbitlah Terang

Freesca menyebutkan bahwa selama bertahun-tahun, determinisme ekologis telah membentuk persepsi pembangunan bahwa hanya wilayah-wilayah tertentu yang layak digarap untuk sektor pangan.

Namun, survei tanah dan air membuktikan bahwa kawasan Wanam memiliki kesesuaian tinggi untuk pertanian

"Dengan pemilihan varietas adaptif seperti Inpara dan metode tanam sederhana, hasilnya mampu menandingi kawasan sentra pertanian konvensional. Hal ini menjadi kritik penting terhadap pendekatan pembangunan yang terlalu bergantung pada input modern dan sering mengabaikan potensi lokal," kata Freesca.

Menurut Freesca, lebih dari sekadar keberhasilan teknis, panen di Papua Selatan juga menandai transformasi sosial yang fundamental.

Baca juga: Jadikan Halmahera Timur Lumbung Pangan Nasional, Jadi Strategi Jitu Farrel Tuntaskan Keluhan Warga

Masyarakat yang sebelumnya menggantungkan hidup pada pola berburu kini mulai dikenalkan pada pertanian.

Bukan dengan pemaksaan, tetapi melalui pendekatan edukatif yang pelan namun menyentuh akar. 

"Hal ini menunjukkan bahwa pembangunan sejati bukan hanya soal investasi fisik, melainkan juga pembentukan agricultural citizenship, warga negara yang sadar akan peran mereka dalam sistem pangan," ujar Freesca.

Distribusi Geografis dan Sosial yang Adil

Sumber: WartaKota
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved