Berita Jakarta

Tak Seperti Tahun Ajaran Baru Biasanya, Pedagang Seragam di Pasar Kopro Tomang Sepi Pembeli

Sesekali mereka merapikan tumpukkan seragam-seragam sekolah yang dijajakan, meski jarang ada yang membelinya.

Penulis: Nuri Yatul Hikmah | Editor: Feryanto Hadi
Warta Kota/Nuri Yatul Hikmah
Suasana sepinya pembeli seragam di Pasar Tomang Barat, Jakarta Barat. 

Laporan Wartawan Wartakotalive.com, Nuri Yatul Hikmah


WARTAKOTALIVE.COM, GROGOL PETAMBURAN — Jika biasanya tahun ajaran baru identik dengan kegiatan membeli seragam baru untuk sekolah, kini pemandangan ramainya jual beli itu tidak lagi nampak di Pasar Tomang Barat, Tanjung Duren, Jakarta Barat.

Sejumlah pedagang seragam sekolah justru banyak yang duduk di depan lapaknya sembari mengipas-ngipas tubuhnya yang kegerahan.

Sesekali mereka merapikan tumpukkan seragam-seragam sekolah yang dijajakan, meski jarang ada yang membelinya.

Baca juga: Ini Alasan KPU RI Enggan Minta Maaf atas Pelanggaran Etik yang Dilakukan Hasyim Asyari

Mereka juga kerap menyapa segelintir pengunjung yang berlalu lalang di sekitar lapaknya, berharap mereka bisa melipir dan membeli seragam di tempatnya.

"Boleh bu, seragamnya dilihat dulu aja," kata salah satu pedagang seragam sekolah dari tempat duduknya. 

Namun, beberapa pengunjung itu tidak menggubrisnya. Mereka hanya melewati pedagang tersebut, dengan pandangan mata yang melirik ke arah barang dagangannya.

Menurut salah satu pedagang seragam sekolah bernama Leni (54), pemandangan sepi pengunjung itu memang lumrah terjadi selama dua tahun terakhir ini.

Bahkan menurutnya, sehari-hari ia hanya melayani pelanggan paling banyak 10 orang sejak toko dibuka pukul 08.00 WIB hingga 17.00 WIB.

"Kalau dulu saya sampai enggak bisa duduk sampe sore, ramai terus. Kalau sekarang sepi, begini aja dan akan tetap begini," kata Leni saat ditemui di Pasar Tomang Barat, Jakarta Barat, Jumat (5/6/2024).

Menurut Leni, sepinya pembeli sekarang ini lantaran efek pandemi Covid-19.

Baca juga: Kolaborasi Rayen dan Oliver, Dua Pelukis Penyandang Autisme dalam Pameran Lukisan Be My Friend

Selain itu, banyak yang terkendala keuangan serta pencairan Kartu Jakarta Pintar (KJP) yang macet. 

Sehingga, banyak para orang tua yang menunda pembelian seragam sekolah untuk anaknya.

"Kan dulu KJP lagi ramai-ramainya, agak lumayan ya ramai, sejak sekarang KJP dipersulit, diturunin, aturan dia dapat jadi enggak dapat, jadi banyak yang nunda beli," kata Leni.

"Atau beli nanti pas udah masuk yang kurang-kurangnya, pas udah gajian," imbuh dia.

Di samping itu, menurut Leni, keberadaan pasar online yang menjual seragam juga menjadi salah satu dampak sepinya pembeli di pasar tradisional.

"Kadang online juga harganya lebih murah. Tapi kan enggak tahu gimana ukuranya, enggak bisa dicoba kan," ungkap Leni.

Di akhir, Leni menyampaikan bahwa dampak terbesar yang dia rasakan adalah menurunnya omzet per-hari.

Jika dahulu dia bisa mengantongi Rp 20 juta sehari, kini ia hanya mendapat Rp 5 juta per-hari. (m40)

Baca berita WartaKotalive.com lainnya di Google News 

Ikuti saluran WartaKotaLive.Com di WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaYZ6CQFsn0dfcPLvk09

Sumber: Warta Kota
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved