Senin, 11 Mei 2026

Berita Nasional

Ulang Tahun Kopassus ke-72, Ini Sepak Terjang dan Prestasinya

Pendirian KOPASSUS sendiri dilatarbelakangi peristiwa yaitu pemberontakkan yang terjadi di Maluku yang dilakukan kelompok Republik Maluku Selatan

Tayang:
istimewa
Ultah Kopassus pada 16 April 2024, ini sejarahnya 

WARTAKOTALIVE.COM - Hari ini Komando Pasukan Khusus (KOPASSUS) berulang tahun pada Selasa 16 April 2024. Simak sejarah pembentukan hingga prestasi yang diraih

Komando Pasukan Khusus (KOPASSUS) merupakan pasukan elite bagian dari Komando Utama (KOTAMA) tempur milik TNI Angkatan Darat (AD) 

Setiap tanggal 16 April ditetapkan sebagai Hari Ulang Tahun (HUT) KOPASSUS ke-72.

HUT KOPASSUS diputuskan jatuh tanggal 16 April karena mengacu pada Instruksi Panglima Tentara dan Teritorium III Nomor 55/Instr/POS/52 tanggal 16 April 1952.

Pendirian KOPASSUS sendiri dilatarbelakangi oleh sebuah peristiwa yaitu pemberontakkan yang terjadi di Maluku yang dilakukan oleh kelompok Republik Maluku Selatan (RMS) pada Juli 1950.  

Sebagai reaksi atas pemberontakan tersebut, Pimpinan Angkatan Darat segera melakukan tindakan untuk menumpas pemberontakan tersebut dengan menunjuk Panglima Tentara Teritorium III, Kolonel A.E. Kawilarang sebagai pimpinan dan  Letkol Slamet Riyadi sebagai Komandan Operasi.

Dalam operasi ini Pasukan TNI akhirnya berhasil melumpuhkan kelompok RMS, meskipun pada awal mula operasi ini dilakukan, serangan yang dialncarkan oleh Pasukan TNI masih belum mampu menyudutkan kelompok RMS.

Baca juga: Eks Danjen Kopassus Soenarko: Indonesia Tidak Boleh Dipimpin Komplotan Penipu dan Rampok

Tercatat beberapa kali Pasukan TNI melancarkan serangan. Namun, selalu mampu dibendung oleh Kelompok RMS, Walaupun dari segi jumlah dan persenjataan mereka kalah unggul dibandingkan dengan Pasukan TNI.

Hal ini disebabkan kelompok RMS memiliki kemampuan untuk menembak tepat sasaran, penguasaan terhadap medan, serta rasa ambisi yang tinggi.

Hal tersebut itulah yang membuat mereka mampu mengungguli Pasukan TNI, meskipun kalah dari segi jumlah dan persenjataan. 

Berkaca dari peristiwa ini, Letkol Slamet Riyadi kemudian menginisiasi perlunya didirikan sebuah pasukan khusus dengan satu-satuan pemukul yang mampu bertempur secara cepat dan tepat serta mampu menghadapi berbagai macam sasaran dan kekuatan.

Inisiasi dari Slamet Riyadi inilah yang menjadi cikal bakal dari adanya KOPASSUS.

Awal pendirian Kopassus

Pasca gugurnya Letkol Slamet Riyadi dalam penumpasan Kelompok RMS, gagasan beliau mengenai perlunya pembentukan pasukan cepat tanggap dilanjutkan  dan direalisasikan oleh Kolonel A.E. Kawilarang.

Tepat pada tanggal 16 April 1952 melalui sebuah instuksi Panglima Tentara dan Teritorium IIII No.55/Instr/PDS/52 dibentuklah unit pasukan khusus Angakatan Darat yang pertama dengan nama Kesatuan Komando Teritorium III/Siliwangi (Kesko TT) dengan Mayor Moch. Idjon Djanbi yang merupakan seorang mantan Kapten KNIL (Kononklijk Nederlandsch Indische Leger) sekaligus mantan  Korps Speciale Troopen pada perang dunia II  sebagai  pemimpin dari kesatuan komado tersebut. 

Baca juga: Eks Tim Mawar Kopassus Sebut Penilaian Anies dan Ganjar Soal Kinerja Menhan Salah, Dukung Prabowo

Dalam perjalanannya sendiri, tercatat beberapa kali unit pasukan khusus milik angkatan darat itu melakukan pergantian nama dari yang semula bernama Kesatuan Komando Teritorium III/Siliwangi (Kesko TT)  hingga akhirnya ditetapkan dan bertahan sampai saat ini dengan nama Komando Pasukan Khsus (KOPASSUS).

Berikut merupakan perubahan – perubahan nama dari unit pasukan khusus Angkatan Darat yang terjadi dari waktu ke waktu :

1. Korps Komando Angkatan Darat (KKAD)

Pada 18 Maret 1953 Kesko TT resmi beralih nama menjadi Korps Komando Angkatan Darat (KKAD) ketika diambil alih oleh Mabes ABRI.

2. Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) dan Para Komando Angkatan Darat (PKAD)

RPKAD merupakan hasil pengembangan dari KKAD yang menjadi sebuah resimen yaitu Resimen Pasukan Komando Angkatan Darat (RPKAD) yang terbentuk  pada tahun 1955.

3. Pusat Pasukan Khusus Angkatan Darat (Puspassus AD)

Pada tahun 1966, resimen ini ditingkatkan kembali menjadi Pusat Pasukan Khusus (Puspassus AD). Namun, perubahan nama ini hanya bertahan selama 5 tahun mulai dari 1966 hingga 1971 .

4. Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopassanda)

Pada tanggal 17 Februari 1971 resimen sebelumnya yang bernama Puspassus AD berganti nama menjadi Kopassanda atau Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopassanda).

5. Komando Pasukan Khusus (Kopassus)

Kopassanda kemudian beralih nama menjadi Kopassus (Komando Pasukan Khusus). Kopassus merupakan sebuah hasil dari reorganisasi dari ABRI pada tahun 1985 yang kemudian disahkan pada 26 Desember 1986.

Perubahan nama ini kemudian tetap bertahan selama lebih dari 30 tahun dan tercatat masih bertahan sampai saat ini, meskipun Kopassus telah mengalami beberapa kali perubahan dalam struktur organisasi  sejak 25 Juni 1996.

Prestasi Kopassus

Dalam perjalanannya pasukan khusus dari angakatan darat ini telah berhasil menorehkan prestasi lewat serangkaian misi yang telah dilakukannya dalam upaya menjaga stabilitas dan integrasi bangsayang diantaranya ialah:

1. Penumpasan RMS

RMS atau Republik Maluku Selatan merupakan sebuah organisasi saparatis yang didirikan oleh masyarakat Maluku dan dipimpin oleh Manusama.

RMS lahir dilatarbelakangi oleh perasaan dan presepsi adanya kesenjangan sosial antara wilayah Indonesia Timur dengan Pulau Jawa mendorong munculnya gerakan memisahkan diri dengan Negara Indonesia di wilayah Maluku.

Gerakan ini berlangsung antara tahun 1950 hingga 1966. RMS menyebabkan Maluku terpecah menjadi dua.

Satu sisi mendukung Suomokil rekan Manusama dan sisi lain mendukung Soekarno.

Kemudian terbentuk sebuah pasukan Komando Kesatuan Territori. Kementerian Pertahanan Republik Indonesia Serikat menyatakan, peristiwa berdirinya RMS diselesaikan secara militer, dipimpin oleh Kolonel A.E Kawilarang.

Keputusan ini dilakukan setelah perundingan damai tidak disetujui oleh pihak RMS. Kemudian dikirim 850 orang personel TNI yang dipimpin oleh Komandan Mayor Pellupessy.

Mereka berlayar dari 14 Juli dan sampai di Maluku Selatan pada 24 Juli 1950. Kemudian tepat pada 21 Agustus terjadi “Operasi Fajar” dipimpin oleh Letnan Kolonel Slamet Riyadi dengan sasaran utamanya menduduki Kota Piru di Pulau Seram.

Walaupun mereka pernah sedikit kuwalahan karena ambisi anggota RMS yang kuat akan tetapi mereka berhasil menumpas RMS yang berakhir pada tahun 1966.

Pemerintah RI mengambil tindakan tegas dengan melaksanakan hukuman mati terhadap sisa-sisa gerombolan RMS.

2. Penumpasan PRRI/PERMESTA

Pergolakan PRRI/Permesta berawal dari konflik internal Angkatan Darat (AD). Kekecewaan atas minimnya kesejahteraan anggota AD di daerah berujung pada tuntutan otonomi daerah serta upaya melepaskan diri dari Pemerintahan Republik Indonesia.

Misi penumpasan PRRI ini, RPKAD bekerjasama dengan Angaktan Udara Republik Indonesia (AURI). Pasukan RPKAD diternjunkan di Lanud Simpang Tiga, Pekanbaru setelah AURI membombardir Lanud tersebut.

Para Serdadu PRRI menggunakan Arhanud tetapi mereka melarikan diri, mereka tidak mengira akan adanya serangan dadakan oleh RPKAD sehingga mereka lari ke dalam hutan.

Pertempuran tersebut hanya terjadi beberapa menit saja dan RPKAD berhasil menguasai Lanud Simpang Tiga.

3. Operasi TRIKORA

TRIKORA merupakan sebuah singkatan dari Tri Komando Rakyat. TRIKORA merupakan sebuah konflik antara Indonesia dan Belanda. Belanda mengklaim bahwa Irian Barat merupakan satu provinsi kerajaan Belanda.

Operasi Infiltrasi dilakukan oleh personil gabungan PGT (Pasukan Gerak Tjepat) dan RPKAD diterjunkan di tengah hutan belantara di Irian Barat.

Pasukan terbagi menjadi dua tim yakni banteng 1 di Fak-fak dan Banteng 2 di Kaimana. Setelah terjun dilaksanakan mereka melaporkan keadaan bahwa banyak desa dibakar oleh Belanda dan tidak ada tanda-tanda penduduk, dalam beberapa hari mereka bertemu dengan Marinir Belanda dan kontak senjata terjadi, tetapi sesuai dengan instruksi jika kekuatan tidak imbang maka harus segera kembali ke hutan lagi.

Tujuan utama dari infiltrasi ini adalah untuk mengacaukan situasi sekaligus menarik perhatian belanda. Dengan adanya kehadiran sukarelawan karena operasi infiltrasi dan pasukan Khusus Indonesia, Belanda terlihat goyah.

4. Operasi Pengintegrasian Timor Timur

Awal mula terjadinya operasi ini dilatar belakangi oleh adanya ketegangan politik yang didalangi oleh kelompok Fretilin. Ketegangan inipun kemudian memunculkan isu pendisintegrasian Timor Timur dari Indonesia.

Karena hal inilah, kemudian Presiden Soeharto menginstruksikan agar dilakukan operasi pengintegrasian Timor Timur ke Indonesia. Operasi ini kemudian dikenal juga dengan nama Operasi Seroja. Kopassanda sendiri ditugaskan untuk melakukan operasi khusus yang bertujuan  mengintegrasikan Timor Timur dengan Indonesia.

Pada tanggal 7 Desember 1975, pasukan ini berhasil melakukan infiltrasi ke Dili. Setelahnya Kopassanda ditugaskan untuk mengamankan lapangan udara.

Sementara Angkatan Laut dan Angkatan Udara mengamankan kota. Semenjak saat itu peran pasukan ini terus berlanjut dan membentuk sebagian dari kekuatan udara yang bergerak (mobile) untuk memburu tokoh Fretilin yaitu Nicolau dos Reis Lobato yang diduga sebagai dalang dari peristiwa tersebut.

5. Operasi Pembebasan Sandera

Operasi ini merupakan salah satu prestasi yang melambungkan nama pasukan khsusus dari TNI. Pada waktu itu Kopassandha melakukan operasi pembebasan sandera yaitu para awak dan penumpang pesawat DC-9 Woyla Garuda Indonesian Airways yang dibajak oleh lima orang yang mengaku berasal dari kelompok ekstrimis Islam “Komando Jihad”, yang dipimpin Imran bin Muhammad Zein pada 28 Maret 1981.

Pesawat yang tengah menerbangi rute Palembang-Medan itu sempat didaratkan di Penang, Malaysia dan akhirnya mendarat di Bandara Don Mueang, Bangkok.

Di bawah pimpinan Letkol Sintong Panjaitan, pasukan Kopassandha mampu membebaskan seluruh sandera dan menembak mati semua pelaku pembajakan.

Korban yang jatuh dari operasi ini adalah Capa (anumerta) Achmad Kirang yang meninggal tertembak pembajak serta pilot Kapten Herman Rante yang juga ditembak oleh pembajak. Imran bin Muhammad Zein ditangkap dalam peristiwa tersebut dan dijatuhi hukuman mati.

Sumber : Undip.ac.id

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved