Sabtu, 18 April 2026

Kesehatan

Mengenal Retrograde Intrarenal Surgery, Metode Operasi Batu Ginjal dengan Minimal Invasif

Metode Retrograde Intrarenal Surgery efektif mengatasi masalah batu ginjal melalui proses pembedahan sayatan luka kecil.

istimewa
Ilustrasi batu ginjal. 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Salah satu masalah utama urologi yang diderita oleh masyarakat di Indonesia adalah batu ginjal dan saluran kencing.

Saat ini, metode RIRS (Retrograde Intrarenal Surgery) telah menjadi terobosan dalam dunia bedah untuk pengobatan batu ginjal.

Metode minimal invasif atau proses pembedahan dengan sayatan luka kecil ini tidak hanya efektif mengatasi masalah batu ginjal, tetapi juga memberikan sejumlah keunggulan dibandingkan dengan metode bedah lainnya.

Dokter Spesialis Urologi dari RS Siloam ASRI, Prof. DR. dr. Nur Rasyid, Sp.U (K), mengatakan, bahwa metode RIRS bermanfaat untuk melakukan diagnosis sekaligus tindakan pengobatan kelainan di saluran kencing mulai ureter hingga ke ginjal.

"Singkatnya, metode RIRS menjadi metode yang efektif dan efisien untuk menyelesaikan permasalahan pada batu ginjal dengan satu prosedur tindakan," ujar Prof. Nur Rasyid seperti dikutip dalam keterangan resmi, Kamis (1/2/2024).

Prinsip kerja RIRS

Prof. Nur Rasyid menjelaskan, secara prinsip, metode ini dilakukan dengan memasukkan teropong kecil melalui saluran kemih bagian bawah hingga ke kandung kemih.

Selanjutnya, teropong kecil akan terus masuk melalui saluran kemih bagian atas (ureter) dan masuk ke ginjal.

"Dokter urologi dapat menggunakan laser untuk memecah batu ginjal menjadi fragmen kecil bahkan sampai menjadi pasir dan debu, kemudian alat penghisap dengan mudah mengeluarkannya atau bisa sisanya melalui urine," ujarnya.

Lebih lanjut dikatakan, prinsip yang digunakan dalam metode RIRS ini terbilang menguntungkan karena pendekatan minimal invasif dapat mengurangi risiko komplikasi dan mempersingkat waktu pemulihan pasien.

"Prosedur ini juga memungkinkan dokter untuk memvisualisasikan dan mengobati batu ginjal bahkan lokasi yang sulit dijangkau dalam sistem kemih tanpa harus melakukan sayatan atau operasi terbuka," sebut Prof. Nur Rasyid.

Sebelum melakukan metode ini, pastikan pasien sudah menjalani laboratorium apakah mengalami infeksi, apabila diperlukan maka harus diobati infeksinya terlebih dahulu dan toleransi operasi untuk memastikan aman selama prosedur.

"Dengan CT Scan dipastikan lokasi, ukuran dan kekerasan batu pada ginjal dan saluran kemih lainnya," ungkap Prof. Nur Rasyid.

Adapun perkiraan waktu yang diperlukan adalah kurang dari atau maksimal dua jam guna menghindari risiko terjadinya komplikasi seperti sepsis atau pengaruh panas dari Laser yang berlebihan.

Biasanya dokter spesilais urologi yang menangani pasien batu ginjal ini akan melakukan penjadwalan lagi, jika diperlukan penanganan lebih lanjut.

Sumber: WartaKota
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved