Berita Jakarta
Terkenal Berandal saat Masih Sekolah, Asep Tak Menyangka Bisa Jadi Lurah Pejaten Barat
Lurah Pejaten Barat Asep Ahmad Umar memiliki masa lalu yang kelam, kini justru jadi teladan masyarakat.
Penulis: Nurmahadi | Editor: Valentino Verry
WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - "Boby, Boby, sini nak," panggil Asep Ahmad Umar, kepada kukang jawa kesayangannya di mini zoo, yang terletak persis di pinggir kantor Kelurahan Pejaten Barat, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.
Sore itu, Jumat (19/1/2024), Asep tampak sibuk memberi pakan koleksi hewan di mini zoonya.
Dari satu kandang ke kandang lainnya, tangan Asep terampil dalam mengurus satwa, baik hewan rumahan hingga hewan buas, seperti kobra dan piton.
Setelah mengurus seluruh satwanya, ayah empat anak itu lantas duduk di sebuah papan kayu, seraya menyeruput kopi, sambil mendengar kicuan burung di mini zoonya.
Baca juga: Jadi Sarang Prostitusi Online, Indekos di Pejaten Barat Digerebek Polisi, Ada Pasangan Sesama Jenis
Sesekali, Asep menelepon stafnya, guna memastikan tugasnya sebagai Lurah Pejaten Barat, berjalan lancar.
"Kalau sore saya memang suka duduk sambil melihat satwa di mini zoo ini, suasannya tenang, mengurangi stres kala bekerja," ujar Asep sambil tersenyum, saat diwawancarai Wartakotalive.com.
Di balik tugasnya menjadi seorang Lurah di Pejaten Barat, ternyata Asep Ahmad Umar memiliki sejarah hidup yang menarik untuk diulas.
Asep Ahmad Umar, lahir di Pati, Jawa Tengah. Meski demikian, sebagian besar hidupnya, dijalani Asep di Kota Jakarta.
Sejak SD hingga masuk perguruan tinggi, semuanya berada di Jakarta.
Baca juga: Pengendara Motor Tewas Usai Tabrak Tembok di Pejaten Barat
Asep mengaku, telah menjadi seorang piatu, sejak kelas 6 SD.
Semenjak ditinggal ibunya, hidup Asep bisa dibilang tak memiliki tujuan dan terkesan tak karuan.
Duka ditinggal sang ibu, membuat Asep tumbuh jadi seorang anak yang terkenal nakal di sekolah.
Saking nakalnya, hari-hari yang dilalui Asep di sekolahnya, pasti diwarnai dengan adu jotos dengan siswa lain.
"Saya dulu waktu kecil itu badung (nakal), kalau seminggu enggak berantem rasanya gatel aja gitu, waktu itu," kata dia.
Bahkan, ketika melihat siswa lain sedikit serampangan, itu dapat dijadikan Asep sebagai alasan untuk berkelahi.
Menjalani kehidupan berandalan itu, dilakukan Asep selama tiga tahun bersekolah di SMPN 77 Cempaka Putih, Jakarta Pusat.
Hampir setiap minggu, Asep selalu dipanggil Polsek Cempaka Putih, lantaran kerap terlibat perkelahian.
Bahkan, Asep mengatakan dirinya sampai dibawa ke psikiater, lantaran guru BK di sekolahnya, sudah tak sanggup lagi menghadapi Asep.
"Hampir tiap minggu saya dipanggil ke Polsek Cempaka Putih. Bahkan, karena guru BK saya enggak kuat lagi, saya sampai dibawa ke psikiater," ujar Asep.
Meski terkenal sebagai siswa berandal, namun Asep merupakan siswa yang cukup berprestasi.
Baik nilai mata pelajaran, maupun nilai Ujian Nasional (UN), selalu menjadi yang tertinggi, dari siswa lainnya.
"Meski nakal, nilai saya selalu yang tertinggi, mungkin itu yang menjadi alasan sekolah enggak bisa mengeluarkan saya," ujar dia.
Asep mengatakan, kehidupan berandalannya itu, masih terus berlanjut sampai dia masuk SMA.
Ternyata, sikap berandal itu, dilakukan Asep lantaran tidak mendapat perhatian dari orangtuanya.
Terlebih, dia sudah ditinggal sang ibu, saat baru masuk SMP.
Hingga pada saat dia melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi, kehidupan Asep pun perlahan mulai berubah.
Asep berkuliah di Universitas Borobudur, dengan mengambil jurusan Ekonomi.
Kehidupan Asep mulai mengalami perubahan, saat dirinya masih memasuki semester 2 perkuliahan.
Pada suatu malam kata Asep, dia merenung dan bertanya kepada dirinya sendiri, akan seperti apa masa depannya.
"Saat masuk semester 2, suatu malam saya merenung, sambil bertanya kepada diri sendiri, 'saya mau jadi apa', kalau saya terus berkelahi, apakah kuliah saya juga harus berantakan," ujar Asep.
Satu moto hidup yang selalu menjadi pegangan Asep, yang merubah 180 derajat kehidupannya.
Moto itu adalah, dirinya tak ingin jadi masyarakat "kelas kambing".
Kata "masyarakat kelas kambing" itu ujar Asep, terinpirasi dari film Rano Karno, di salah satu adegan filmnya.
"Moto hidup yang jadi pegangan, saya enggak mau jadi masyarakat kelas kambing. Jadi saat itu saya terinspirasi dari salah satu adegan di film Rano Karno, di situ dia menyebut tentang masyarakat kelas kambing, artinya saya enggak mau jadi orang yang menyusahkan," ujar Asep.
Dari moto hidup itulah, dia selalu ingin bermanfaat bagi banyak orang, dan tak ingin menyusahkan.
Ada suatu momen yang tak pernah terlupakan Asep hingga saat ini, yakni ketika dirinya menjual mobil Kijang Super milik ayahnya.
Mobil ayahnya itu terjual seharga Rp 19.500.000, sekira tahun 1993.
Lantas, dari hasil penjualan itu, dia belikan satu unit taxi seharga Rp 9,5 juta. Sisanya, dia kembalikan ke sang ayah.
"Bapak dan ibu tiri jelas marah saat tahu itu, tapi saat itu saya bilang, saya akan tanggungjawab, tiap bulan saya akan cicil Rp 500 ribu," ujar Asep.
Setelahnya, Asep pun mulai menjadi sopir taxi sambil berkuliah.
Pagi hingga siang hari, dia akan mangkal di stasiun dan Pasar Senen, untuk mengantarkan penumpang.
Sorenya, dia pun akan kembali ke kampus untuk melakukan proses perkuliahan.
"Sehari saya bisa dapat Rp 50 ribu, dari penghasilan menarik taxi," ujar dia.
Menjadi sopir taxi saat berkuliah pun berjalan cukup lama, yakni saat dirinya masih semester 3, hingga menjelang wisuda.
Semua itu, dilakukan Asep lantaran tak ingin menyusahkan orangtuanya.
Dia mengaku, bisa membayar uang kuliah, dan makan sehari-hari, dari penghasilannya sebagai sopir taxi.
"Dari situ saya udah enggak minta uang lagi ke orangtua saya, bukan minta tapi justru saya bisa nyicil Rp 500 ribu ke ayah saya tiap bulan," ungkap Asep.
Singkat cerita, Asep mulai bergabung menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN), pada tahun 1999.
Saat itu, Asep ditugaskan di Kantor Wilayah (Kanwil) Dinas Pendidikan, di bagian keuangan.
Dia pun mulai bertugas di sana hingga tahun 2008.
Selama periode itu, Asep mengatakan telah melakukan beragam terobosan, salah satunya membuat sebuah sistem di Dinas Pendidikan.
Dengan sistem buatannya itu, dia dapat dengan mudah mendata seluruh pengeluaran hingga aset semua sekolah, baik SD, SMP maupun SMA di DKI Jakarta.
"Saya buat sistem saat itu, karena saya berada di bagian keuangan, saya undang semua sekolah di DKI saat itu, saya ajari saya kasih password, sehingga tiap sekolah dapat memasukkan data aset yang dimilikinya ke sistem tersebut, jadi sekali klik, data semua sekolah bisa saya akses," ungkap Asep.
Setelah bertugas di Dinas Pendidikan, Asep pun mulai mendaftar sebagai calon lurah, pada tahun 2016.
"Saat itu ada lelang lurah, saya coba ikut tes, dari 700 orang, hanya 200 orang yang terpilih, dan saya salah satunya," ungkap Asep.
Setelahnya, dia pun ditugaskan di Kelurahan Lenteng Agung, sebagai Kepala Seksi Kesejahteraan (Kasi Kesra).
Saat menjadi Kasi Kesra, Asep pun mulai melakukan beragam inovasi, untuk menghidupkan ekonomi masyarakat, dan menghidupkan Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK).
Satu di antaranya, yakni menciptakan sentra usaha batik, bernama Batik Kolalen, pada tahun 2018.
"Sentra usaha batik itu, dikerjakan oleh ibu-ibu PKK, tujuannya untuk meningkatkan ekonomi mandiri, alhamdulillah peminatnya banyak saat itu," ujar Asep.
Pada tahun 2019, dia pun pindah tugas ke Kelurahan Bangka sebagai Kepala Seksi Pemerintahan.
Hingga pada 13 Juni 2022, dia pun mulai bertugas sebagai Lurah di Pejaten Barat, Pasar Minggu, sampai saat ini.
Asep mengatakan, menjadi seorang ASN atau seorang Lurah, bukanlah cita-cita masa kecilnya.
Namun, dia mengaku menjadi seorang ASN adalah bentuk sumbangsihnya, agar dapat bermanfaat bagi banyak orang.
"Jadi ASN apalagi jadi Lurah, bukan keinginan masa kecil saya, semuanya berjalan mengalir begitu saja, namun tentunya, dengan menjadi lurah, keinginan saya untuk bermanfaat bagi orang banyak, bisa tercapai," ujar Asep.
Baca berita Wartakotalive.com lainnya di Google News
Pramono Diminta Revisi Pergub KJMU untuk Jangkau Mahasiswa dari Kampus Akreditasi B dan C |
![]() |
---|
Kebutuhan Mendesak, Golkar DKI Jakarta Dukung Pembangunan RS Royal Batavia Cakung |
![]() |
---|
Meninggal Dilindas Rantis Brimob, Cerita Affan Kurniawan Tinggal di Balik Megahnya Gedung Jakarta |
![]() |
---|
BPJS Ketenagakerjaan Mampang Tekankan Pentingnya Perlindungan Jaminan Sosial bagi Siswa Magang |
![]() |
---|
Affan Kurniawan Tulang Punggung Keluarga, Pramono Janji Berikan KJP untuk Adik Almarhum |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.