Pilpres 2024

Jawaban Jokowi saat Dituding Sedang Jalankan Politik Dinasti Buntut Isu Gibran Jadi Cawapres Prabowo

Kritikan soal politik dinasti bahkan berasal dari para pendukung Ganjar Pranowo yang tidak suka dengan langkah politik keluarga presiden Joko Widodo

Editor: Feryanto Hadi
Dok Sekretariat Presiden
Presiden Jokowi 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA-- Beberapa hari terakhir Presiden Joko Widodo diserang dengan isu Politik Dinasti.

Serangan tersebut muncul jelang pembacaan keputusan oleh Mahkamah Konstitusi soal batas usia capres-bacawapres.

Kritikan soal politik dinasti bahkan berasal dari para pendukung Ganjar Pranowo yang tidak suka dengan langkah politik keluarga presiden Joko Widodo yang diisukan dengan dengan bakal calon presiden Prabowo Subianto.

Apalagi, dari pihak Prabowo mulai mengalir aspirasi agar Gibran menjadi calon wakil presiden mendampingi Prabowo

Presiden Joko Widodo (Jokowi) pun memberikan tanggapan soal isu gejala politik dinasti.

Presiden Jokowi menyebut dirinya menyerahkan pada masyarakat untuk menilai sendiri.

Baca juga: Tak Ada Konstitusi yang Dilanggar, Teddy Gusnaedi Ingatkan Loyalis Ganjar Jangan Sok Mengatur Jokowi

Jokowi juga menyebut dirinya mengaku tak ada komunikasi dengan Gibran soal tawaran Cawapres.

Informasi lengkap dan menarik lainnya di GoogleNews TribunJatim.com

Menanggapi hal tersebut, Presiden Jokowi memilih untuk menyerahkan kepada masyarakat untuk menilai sendiri. 

"Serahkan masyarakat saja," ujar Jokowi di Indramayu, Jawa Barat,  Jumat (13/10/2023). 

Jokowi mengaku hingga saat ini tak berkomunikasi dengan Gibran soal tawaran jadi cawapres Prabowo. 

Jokowi mengatakan bahwa dirinya sudah beberapa bulan tak bertemu dengan Wali Kota Solo itu.

"Beberapa bulan enggak pernah ketemu," tuturnya, dikutip dari TribunJabar.id.

Untuk diketahui isu, Gibran menjadi bacawapres muncul seiring dengan uji batas usia capres cawapres di Mahkamah Konstitusi (MK).

Dalam aturan tersebut diatur bahwa batas usia capres-cawapres adalah minimal 40 tahun.

Sementara usia Gibran saat ini baru menginjak 36 tahun.

MK sendiri akan memutus perkara batas usia capres dan cawapres, pada Senin, 16 Oktober 2023 mendatang.

Gibran Disebut Sosok Paling Kuat jadi Cawapres Prabowo

Putra sulung Presiden Joko Widodo, Gibran Rakabuming Raka digadang menjadi sosok cawapres paling potensial untuk mendampingi Prabowo. 

Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Fadli Zon mengutarakan, nama Gibran termasuk salah satu opsi penting dalam pembahasan internal Koalisi Indonesia Maju (KIM). 

Hal itu didasari karena kata Fadli Zon, nama Gibran kerap diusulkan beberapa pihak di koalisi termasuk juga organisasi lainnya.

"Termasuk Mas Gibran, ini juga opsi yang paling penting gitu, yang sudah jadi aspirasi juga di dalam koalisi ada juga yang lain-lain," kata Fadli Zon, Selasa (10/10/2023).

Baca juga: Jokowi Banjir Kritik dari Pendukung Ganjar, Islah: Jangan Kecewakan Kami yang Mendukungmu dari Awal

Fadli Zon mengatakan, saat ini KIM masih menunggu putusan MK terkait gugatan batas usia capres-cawapres.

Menurutnya, gugatan itu menjadi suatu hal yang paling menentukan bagi KIM dalam menentukan siapa cawapres untuk Prabowo Subianto.

"Kalau hal itu (putusan MK) saya kira merupakan bagian dari pembicaraan juga gitu, karena itu juga sangat menentukan gitu ya ada opsi-opsi tentu," katanya. 

Respon Gibran soal sindiran warganet tentang MK

Sindiran warganet soal Mahkamah Konstitusi (MK) menjadi Mahkamah Keluarga ditanggapi santai oleh Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka.

Putra Presiden Jokowi itu menyebut kalau sindiran itu adalah penilaian dari warga.

Diketahui sebelumnya, gugatan soal aturan batas usia Capres-Cawapres akan dibacakan oleh MK pada (16/10/2023).

Bermunculan tudingan soal gugatan itu adalah untuk memuluskan langkah Gibran jadi Cawapres.

Terlebih, sosok Ketua MK sekarang dijabat Anwar Usman, paman Gibran.

Baca juga: Ratusan Pemuda di Situbondo Solid Dukung Gibran Rakabuming Raka Jadi Cawapres di Pilpres 2024


Informasi lengkap dan menarik lainnya di GoogleNews TribunJatim.com

"Kalau itu biar warga yang menilai," kata Gibran, Kamis (12/10/2023).

Bagi Putra Sulung Presiden Joko Widodo (Jokowi) itu, sindiran Mahkamah Keluarga adalah masukan dari masyarakat.

"Monggo kalau itu kan masukan dan penilaian dari warga. Tidak tersinggung," sambungnya.

Gibran juga tidak mau memberikan tanggapannya terhadap gugatan batas usia Capres-Cawapres yang diajukan PSI.

"Itu monggo, para-para penggugat yang ditanya. Jangan ditanya ke saya, tanya penggugatnya," urai Gibran.

Terkait dengan ambisi di dunia politik, Gibran menyebut dirinya tidak memiliki ambisi apapun meski banyak gelombang dukungan yang memintanya menjadi mendampingi Ketum Gerindra Prabowo Subianto untuk Pilpres 2024.

"Kalau saya mengalir saja," pungkasnya.

Teddy Gusnaedi Ingatkan Loyalis Ganjar Jangan Sok Mengatur Jokowi

Sebelumnya, Juru Bicara Partai Garuda, Teddy Gusnaedi mempertanyakan sikap sejumlah pendukung bakal calon presiden Ganjar Pranowo yang menyerang Presiden Joko Widodo dan keluarganya.

Joko Widodo dan keluarga diserang di tengah gencarnya desakan agar Gibran Rakabuming menjadi calon wakil presiden mendampingi Prabowo Subianto.

Teddy Gusnaedi yang juga sebagai pendukung Pranowo heran kenapa baru sekarang pendukung Ganjar melabeli Jokowi sedang membangun dinasti politik.

Apalagi, pihak-pihak yang menggaungkan itu mayoritas adalah pendukung Jokowi di dua pilpres sebelumnya

"Para pendukung @ganjarpranowo mulai mempermasalahkan Jokowi dan keluarganya, mulai melabelkan Dinasti Politik. Terlebih ketika Gibran mulai digadang-gadangkan menjadi Cawapres Prabowo," tulis Teddy dikutip Warta Kota dari sosial media X, Jumat (13/10/2023)

Baca juga: Jokowi Banjir Kritik dari Pendukung Ganjar, Islah: Jangan Kecewakan Kami yang Mendukungmu dari Awal

Teddy menyebut bahwa para pendukung Ganjar itu mau mengatur Jokowi agar supaya bisa sesuai dengan keinginan mereka.

Padahal, menurut Teddy, mereka mendukung Jokowi tanpa pernah jokowi minta.

"Mereka memuja Jokowi tanpa pernah jokowi minta, tapi anehnya mereka merasa memiliki dan merasa berhak mengatur Jokowi dan keluarganya untuk begini dan begitu," sesal Teddy

Teddy menambahkan, Ketika Jokowi bersikap tidak sesuai dengan keinginan mereka, mereka marah dan menyerang Jokowi.

"Padahal apa yang dilakukan Jokowi dan keluarganya sama sekali tidak melanggar aturan dan dilindungi oleh konstitusi, tapi karena mereka melihat bahwa arah politik Jokowi tidak mengarah ke mereka, tidak bisa mereka atur, maka Jokowi akhirnya menjadi musuh mereka," tandasnya

Kritik bentuk sayang

Sebelumnya, Tokoh Islam Liberal yang juga pendukung Ganjar Pranowo, Islah Bahrawi menyebut bahwa kritik yang dilayangkan dirinya dan para teman sejawatnya kepada Presiden Joko Widodo adalah bentuk sayang.

Jokowi banjir kritik dari pendukung Ganjar terkait isu kedekatannya dengan bakal calon presiden Prabowo Subianto.

Bahkan, aroma dukungan menguat setelah sejumlah pihak di kubu Prabowo mendorong Gibran Rakabuming Raka menjadi cawapres mendampingi Jokowi apabila Mahkamah Konstitusi mengabulkan soal batasan usia capres cawapres.

Jika benar Gibran menjadi cawapres Prabowo, akan semakin mempersulit langkah Ganjar untuk memenangi kontestasi Pilpres lantaran diprediksi sebagian pendukung Jokowi akan mengalihkan dukungannya kepada Prabowo.

"Karena kami sayang. Kami hanya ingin pak Jokowi mengakhiri jabatan seperti ketika bapak mengawalinya," tulis Islah Bahrawi dikutip dari Twitter pribadinya, Kamis (12/10/2023)

Baca juga: Runtuhnya Wibawa Pak Kades Tonjong saat Dijebloskan ke Sel, Diduga Tilep Dana Pembangunan Desa

Islah menyebut, di saat banyak negara bangkrut karena badai pandemi, pak Jokowi bersama kabinetnya berhasil mengatasi angka kontraksi.

Infrastruktur terus dibangun, meski ada saja yang menghujat dan mempertanyakan.

"Toh, faktanya semua ikut menikmati. Kalau belakangan ini kami banyak mengritik langkah politik yang bapak jalani, karena kami sayang kepada pak Jokowi. Kami hanya takut kehilangan pak Jokowi yang dulu. Kami khawatir bapak yang dulu mengawali sebagai egaliter yang tegar, lalu harus mengakhiri dengan menjadi totaliter samar samar," papar Islah

Islah pun meminta agar Jokowi tidak mengecewakan para pendukungnya.

"Pak Jokowi, jangan kecewakan kami yang mendukungmu sejak awal. Mari kita lanjutkan bersama cita-cita reformasi dalam menegakkan demokrasi berbasis supremasi sipil. Kami hanya ingin bapak tetap menjadi negarawan, bukan tipikal pemimpin yang gamang untuk menjauh dari kekuasaan," tandas Islah

Islah sebelumnya menjadi bahan perbincangan di media sosial X lantaran memberikan pernyataan soal 'Jokowi dilihat seperti setengah berhala' oleh pendukungnya.

Sejumlah loyalis bakal calon presiden Ganjar Pranowo terang-terangan mengungkapkan kekecewaannya kepada Presiden Joko Widodo.

Kekecewaan itu mencuat jelang pembacaan keputusan Mahkamah Konstitusi soal gugatan batas usia capres dan cawapres.

Mereka curiga, gugatan itu untuk mengakomodir Gibran Rakabuming Raka untuk menjadi bakal calon wakil presiden mendampingi Prabowo Subianto.

Salah satu loyalis Ganjar, Denny Siregar bahkan memberikan kritik keras dengan menyinggung soal isu "politik dinasti.'

Dia curiga ada lobi-lobi kepada Mahkamah Konstitusi agar gugatan itu dikabulkan.

Bahkan, Denny harus menanggung akibat dari kritikan itu.

Baca juga: Gibran Jujur Soal Cawapres Prabowo: Tunggu Putusan MK saja, Pengamat: Anwar Usman Harus Hati-hati

Dia mengumumkan sudah tidak bergabung dengan channel Cokro TV usai videonya di take-down.

Cokro TV dikenal sebagai corong pendukung Ganjar.

Sejumlah pendukung Ganjar lain yang umumnya menggunakan akun anomin, bahkan mulai menyerang keluarga Jokowi.

Di sisi lain, jurnalis senior Goenawan Muhammad membandingkan karier politik Jokowi dan putra sulungnya,Gibran.

Menurut Gunawan dalam cuitannya, "Jokowi naik ke puncak dari lapis bawah. Gibran naik ke puncak dari…puncak."

Cuitan itu ditanggapi oleh aktivis Islam Liberal yang juga pendukung Ganjar, Islah Bahwari.

Baca juga: Tepis Isu Ara Merapat ke Kubu Prabowo, Brando: Dia Siapkan 2,5 Juta Kaos demi Menangkan Ganjar

Islah Bahwari menyalahkan para pendukung Jokowi yang selama ini terlalu memuji Jokowi

Dia mengibaratkan, para pendukung fanatik itu sudah menganggap Jokowi seperti setengah berhala.

Sehingga, mereka kecewa ketika tindakan Jokowi tidak sesuai apa yang mereka kehendaki.

"Kita yang salah. Selama ini melihat Jokowi seperti setengah berhala. Tanpa kita sadari, setengahnya lagi ternyata dipendam Jokowi. Di akhir masanya, setengah yang ada di kita mulai dirampas perlahan oleh Jokowi," tulis Islah Bahwari dikutip pada Rabu (11/10/2023)

Gibran dipertimbangkan jadi cawapres Prabowo

Sebelumnya, Sekretaris Jendral atau Sekjen Partai Gerindra Ahmad Muzani menyatakan, nama-nama yang masuk dalam radar calon wakil presiden pendamping Prabowo Subianto akan dibawa ke meja rapat Koalisi Indonesia Maju (KIM). 

Termasuk juga Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka.

Hal itu disampaikan oleh Sekretaris Jenderal Partai Gerindra Ahmad Muzani usai menghadiri deklarasi relawan Perisai Prabowo di Gedung Djoeang 45, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (9/10/2023).

Baca juga: Tak Mau Kalah dari Kaesang, Gibran Temui Relawan Akhir Pekan Ini Tentukan Arah Dukungan Pilpres 2024

Sebagai informasi, dukungan agar putra sulung Presiden Joko Widodo alias Jokowi itu menjadi cawapres terus mengalir dari berbagai elemen.

Belum lama ini, datang dari DPC Gerindra Tangerang Selatan dan relawan Solidaritas Ulama Muda Jokowi (Samawi) mengusulkan Gibran untuk menjadi cawapres Prabowo. 

"Tentu saja supaya keputusan ini menjadi keputusan bersama termasuk nama Mas Gibran dan nama-nama lain, nanti oleh Pak Prabowo akan diajukan di atas meja untuk dibicarakan bersama-sama," ujar Muzani. 

Baca juga: Ternyata Ini Alasan Gerindra Tangsel Usulkan Gibran sebagai Cawapres Pasangan Prabowo Subianto

"Kami menganggap bahwa semua nama yang dimajukan oleh tokoh komponen bahkan partai Koalisi, adalah orang-orang yang berniat beri pengabdian terbaik kepada bangsa dan negaranya," lanjut Muzani. 

Muzani juga memastikan, Prabowo Subianto telah mencatat usulan agar Gibran menjadi cawapresnya, termasuk juga masukan nama-nama lain.

"Terhadap pikiran, pandangan dan pendapat Samawi tersebut Pak Prabowo catat, hargai, dan simak dengan saksama atas aspirasi tersebut sebagaimana juga aspirasi yang berkembang dari berbagai macam komponen lainnya," imbuhnya 

Gibran Jadi Cawapres, PDIP Marah Besar pada Jokowi

Prabowo Subianto bersama mitra Koalisi Indonesia Maju (KIM) saat ini sedang cemas.

Mereka menunggu majelis hakim Mahkamah Konstitusi (MK) memutuskan soal batasan usia capres-cawapres.

JIka disetujui, maka besar kemungkinan Prabowo Subianto dan mitra KIM langsung meminang Wali Kota Solo Gibran Rakabuming menjadi cawapres.

Baca juga: PKN Berpendapat Jika Presiden Jokowi Tak Akan Setuju Gibran Maju Jadi Bacawapres

Jika terwujud, ini menjadi tamparan keras buat PDIP, sebab pemilih Ganjar Pranowo pasti terbelah.

Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto minta masyarakat untuk sedikit bersabar soal Gibran.

"Kita tunggu dari MK," katanya di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa, (10/9/2023).

Menurut Airlangga, nama cawapres Prabowo akan segera dirapatkan oleh para ketua umum partai pendukung.

Untuk diketahui partai yang telah menyatakan dukungan kepada Prabowo di antaranya Gerindra, Golkar, Demokrat, PAN, PBB, Partai Gelora, dan Partai Garuda.

Baca juga: Gibran, Erick Thohir, Airlangga Hartarto, dan Khofifah Masuk Radar Bakal Cawapres Prabowo Subianto

"As soon as possible," katanya.

Sementara itu, terkait pertemuan antar Sekjen Partai Koalisi Indonesia Maju semalam, kata Airlangga belum membahas mengenai Cawapres. Rapat hanya membahas program dan visi-misi Capres.

"Kita membahas mengenai program visi-misi Capres," pungkasnya.

Sebelumnya Menteri Komunikasi dan Informatika Budi Arie Setiadi mengatakan, dirinya mendengar isu bahwa Mahkamah Konstitusi (MK) akan memutuskan perkara gugatan batas usia Capres-Cawapres pada pekan ini.

"Katanya Minggu ini, isunya Minggu ini. Minggu ini," katanya di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin, (9/10/2023).

Budi Arie enggan menjelaskan lebih jauh mengenai isu tersebut.

Ia mengaku enggan bergosip mengenai isu yang belum jelas kebenarannya tersebut.

"Sudahlah engga usah kamu pancing-pancing," katanya.

Sementara itu terkait adanya dorongan agar Gibran menjadi Cawapres, kata Budi merupakan aspirasi relawan Projo di daerah.

"Ya kan itu aspirasi dari teman-teman daerah," katanya.

Budi memastikan bahwa dorongan agar Gibran menjadi Cawapres benar adanya dan bukan rekayasa.

Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri akan marah besar terhadap Jokowi jika benar Gibran menjadi cawapres Prabowo.
Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri akan marah besar terhadap Jokowi jika benar Gibran menjadi cawapres Prabowo. (HO)

Oleh karenanya ia meminta para relawan Projo untuk menunggu hasil keputusan MK mengenai batas usia Capres Cawapres, karena majunya Gibran terkendala aturan batas usia.

"Engga ada rekayasa. Memang itu begitu aja. Tunggu MK itu dong. Katanya sih katanya, Minggu ini (putusan) MK," pungkasnya.

Direktur Eksekutif Institute for Democracy and Strategic Affairs, Ahmad Khoirul Umam menilai 'perang bubat' antara PDIP dengan kubu Prabowo Subianto bisa terjadi bila Gibran menjadi calon wakil presiden (cawapres).

Menurut Umam, saat ini kubu Prabowo sedang menunggu keputusan MK terkait batasan usia capres dan cawapres.

Dia menyebut bila MK mengabulkan gugatan batas usia capres dan cawapres, maka hampir pasti Gibran akan dipinang Prabowo.

"Pencawapresan Gibran bisa menciptakan 'perang bubat' antara kubu Prabowo dengan PDIP yang lagi-lagi akan merasa dikhianati, dilangkahi dan diabaikan oleh keluarga Jokowi (Joko Widodo)," kata Umam.

Perang Bubat yang juga disebut Pasunda Bubat adalah pertempuran antara bala sentana Raja Sunda dan angkatan perang Majapahit yang berlangsung di alun-alun Bubat, kawasan utara Trowulan, ibu kota Majapahit, pada tahun 1279 Saka atau 1357 Masehi.

Umam memprediksi, PDIP akan mengevaluasi total keanggotaan Jokowi, Gibran, dan Bobby Nasution bila Gibran menjadi cawapres Prabowo.

"Jika Gibran menjadi cawapres Prabowo, besar kemungkinan PDIP akan melakukan evaluasi total terhadap status relasi dan keanggotaan Gibran, Boby, dan juga Jokowi sendiri di PDIP," ujarnya.

Baca juga: Eddy Hartono Sempat Nguping saat Firli Bahuri-SYL Ngobrol di GOR Badminton, Ini yang Dibicarakan

Dia menjelaskan ada sisi positif untuk Koalisi Indonesia Maju (KIM) bila Gibran menjadi cawapres Prabowo.

Umam mengatakan hal tersebut bisa menjadi titik temu antara Golkar dan Partai Amanat Nasional (PAN) di tengah tarik menarik antara Golkar dan PAN yang mendorong Erick Thohir sebagai cawapres.

"Sisi positif dari pencawapresan Gibran, hadirnya putra sulung Jokowi itu memang dianggap bisa menjadi titik temu dari proses negosiasi yang alot di internal Koalisi Indonesia Maju," ujarnya.

Namun, dia berpendapat suara pendukung Ganjar Pranowo akan tergerus khususnya di basis PDIP bila Gibran jadi cawapres Prabowo.

"Pencawapresan Gibran juga bisa menjadi mesin politik untuk menggerus suara pendukung Ganjar Pranowo di basis-basis wilayah yang dikuasai PDIP," ucap Umam.

Baca berita Wartakotalive.com lainnya di Google News

Sebagian artikel ini telah tayang di TribunJatim.com 

Sumber: WartaKota
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved