Minggu, 10 Mei 2026

Perang Hamas vs Israel

Waspada, Perang Hamas-Israel Picu Kenaikan Harga Harga BBM dan Beras, Rakyat Indonesia akan Tercekik

Perang Hamas-Israel bakal memicu kenaikan harga BBM dan beras dalam waktu dekat. Ini harus diwaspadai.

Tayang:
Editor: Valentino Verry
Tiktok non_tema
Ilustrasi - Perang Israel-Palestina akan memicu kenaikan harga BBM dan beras dalam waktu dekat. Hal ini akan mencekik ekonomi rakyat Indonesia. 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Saat ini tengah terjadi perang antara Israel dengan tentara Hamas (Palestina), masyarakat dunia pun ketar-ketir.

Mengingat perang Rusia-Ukraina sendiri belum beres, dan memicu krisis pangan global.

Ternyata, krisis ekonomi ini bisa makin parah karena adanya perang Israel-Palestina tesebut.

Baca juga: AS Curigai Putin Dukung Hamas, Israel Kerahkan 360.000 Tentara untuk Ratakan Jalur Gaza

Sejumlah pengamat ekonomi Indonesia memprediksi, ekonomi nasional bakal makin tertekan, meski Indonesia tak punya hubungan ekonomi langsung dengan Israel dan Palestina.

Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengungkapkan, konflik tersebut akan memberikan dampak serta mendisrupsi pasar keuangan di Indonesia.

Untuk dampak langsung dari perang Israel-Hamas kepada perekonomian Indonesia sebenarnya sangat terbatas, terutama karena hubungan dagang dan investasi Indonesia yang terbatas kepada kedua negara tersebut.

"Berdasarkan pengalaman di tahun-tahun sebelumnya, konflik Israel-Palestina memang akan mendorong risk-off sentiment di pasar keuangan global, namun sentimen ini cenderung bersifat temporer," ucap Josua kepada Tribunnews, Selasa (10/10/2023).

Baca juga: Alumni Yahudi Harvard Dukung Palestina: Israel Menerapkan Rezim Apartheid Terhadap Warga Palestina

Namun demikian, dampak yang mungkin lebih mempengaruhi Indonesia secara umum adalah dampaknya kepada harga minyak global.

Bila beberapa negara Timur Tengah memutuskan untuk ikut dalam konflik ini, maka mereka berpotensi melakukan pemotongan produksi minyak global dalam rangka membiayai perang.

"Dampak ini yang kemudian berpotensi mendisrupsi pasar keuangan Indonesia, APBN, serta pertumbuhan ekonomi Indonesia," ucap Josua.

"Hal ini diperparah oleh tren harga komoditas lainnya, yang tidak ikut mengalami peningkatan," sambungnya.

Kondisi tersebut, lanjut Josua, berpotensi membebani belanja negara, apalagi dengan kondisi Rupiah yang masih tertekan.

Baca juga: Hamas dan Hizbullah Keroyok Israel, Joe Biden: Tenang, Kami Pasok Semua yang Mereka Butuhkan!

Seiring dengan bensin di Indonesia yang masih disubsidi negara, dampaknya kepada inflasi cenderung terbatas kecuali pemerintah berencana untuk melepaskan subsidi energi secara umum.

Selain dari potensi kenaikan harga minyak, risiko lainnya kepada Indonesia cenderung sangat terbatas, apalagi kepada sistem keuangan Indonesia.

Dari sisi global, seiring dengan kedua negara tersebut yang bukan merupakan sumber pangan global atau energi, dampak konflik ini cenderung terbatas, kecuali bila beberapa negara Timur Tengah memutuskan untuk ikut serta dalam konflik ini.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved