Bisnis
Respon Isu Resesi 2023, Ini yang Akan Terjadi Pada Indonesia
Merespon persoalan isu resesi yang akan terjadi di tahun 2023, ini yang akan terjadi pada sektor migas dan ekonomi secara makro.
Maka dari itu, Mamit menyarankan agar adanya sinergi antar stakeholder guna menunjang berjalannya kegiatan operasional dengan baik.
Resesi 2023 dalam pandangan ekonom
Sementara, Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro dalam kesempatan yang sama menyebutkan definisi resesi bisa diartikan jika suatu negara atau wilayah tumbuh negatif secara beruturut-turut selama kuartal tertentu.
Berdasarkan definisi tersebut maka ia menilai pada tahun 2020 di kuartal 2 dan 3 Indonesia telah mengalami resesi. Karena pada kuartal 2 dan kuartal 3 tersebut Indonesia menunjukkan trend negatif.
"Lantas, perbedaan resesi pada tahun 2020 dan yang akan datang pada 2023 terletak pada dua fundamental yang berbeda. Pada 2020, jika dilihat dari aspek ekonomi makro, sisi ekonomi dan produksi terkena dampaknya. Hal itu disebabkan karena adanya pandemi Covid-19 yang mengakibatkan adanya pembatasan dari segala sektor dalam skala besar, seperti pembatasan aktivitas masyarakat. Sehingga menjadi wajar kalau pertumbuhannya pada saat itu negatif.” jelasnya.
Di 2023, menurut Komaidi, faktor pemberatnya adalah konflik Ukraina dan Rusia yang belum usai. Faktor utamanya ada di Rusia yang menjadi jangkar energi dari wilayah Uni Eropa. Tetapi dari aspek sisi ekonomi makro, Indonesia sudah lebih baik dari tahun sebelumnya.
“Rusia itu memasok sekitar 14 negara di Uni Eropa. Mereka bergantung dengan Rusia. Inilah yang mungkin menjadi sinyal bahwa 2023 menjadi gelap,” jelasnya.
Namun, lanjut Komaidi, di sektor migas ada satu hal yang perlu diperhatikan, yaitu perlunya peningkatan kegiatan eksplorasi agar defisit yang mungkin akan muncul bisa ditutup.
Saat ini kegiatan eksplorasi hanya sekitar 8 persen - 9 persen dibandingkan dengan kegiatan eksploitasi yang mencapai sekitar 90 persen.
"Terlebih dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2023, target lifting minyak mentah ke posisi 660.000 barel per hari. Sedangkan SKK Migas pada 2030 mempunyai target satu juta barel per hari,' ucapnya.
Oleh karena itu, Komaidi menyarankan agar proses perizinan atau mekanisme usaha di hulu migas dipermudah. Menurutnya, saat ini saja dari masa eksplorasi sampai eksploitasi harus melewati 373 izin dan melibatkan 13-16 kementerian atau lembaga.
"Mungkin 2-3 tahun baru selesai (perizinannya). Nah ini kan berkaitan dengan risiko investasi temen-temen Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS). Indikatornya banyak publikasi yang menyebutkan bahwa risiko investasi di Indonesia paling besar, fiskalnya paling bermasalah dibandingkan dengan negara-negara lain, dan Internal Rate of Return (IRR) nya juga paling kecil di kawasan. Ini yang perlu jadi catatan,” jelasnya.
Sebagai informasi, Alam Alsahara Indonesia mengadakan acara tahunan dengan mengusung tema Facing and Responding to Possible 2023 Recession in the Oil and Gas Industry, Kamis (15/12/2022).
Acara yang menghadirkan pembicara yaitu Direktur Eksekutif Energy Watch, Mamit Setiawan dan Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro, dihadiri oleh perwakilan dari 50 perusahaan minyak dan gas (migas).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/PT-Alam-Alsahara-Indonesia-mengadakan-acara-tahunan.jpg)