Bisnis
Respon Isu Resesi 2023, Ini yang Akan Terjadi Pada Indonesia
Merespon persoalan isu resesi yang akan terjadi di tahun 2023, ini yang akan terjadi pada sektor migas dan ekonomi secara makro.
WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Merespon persoalan isu resesi yang akan terjadi di tahun 2023, Direktur Eksekutif Energy Watch Mamit Setiawan mengatakan, pada tahun 2023 nanti, Mamit optimis Indonesia masih tetap akan berada di dalam pertumbuhan ekonomi yang positif.
Menurutnya, ada empat poin yang mendukung hal tersebut, yaitu pertama, Indonesia memiliki sumber daya alam (SDA) yang besar.
"Dengan berlimpahnya SDA yang dimiliki, maka diyakini hal tersebut sebagai salah satu bentuk masyarakat Indonesia untuk tetap bertahan dalam kondisi apapun," ungkap Mamit dalam acara tahunan yang diadakan PT Alam Alsahara Indonesia yang mengusung tema Facing and Responding to Possible 2023 Recession in the Oil and Gas Industry, Kamis (15/12/2022).
Kedua, lanjut Mamit, sumber daya manusia (SDM) yang optimal. Ia berpendapat bahwa SDM sudah mampu untuk mengurangi dampak-dampak yang terjadi akibat resesi 2023.
“Contohnya saat Covid-19, kita masih bisa bertahan. Untuk itu, saya kira 2023 kita juga sudah siap,” ungkapnya.
Kemudian ketiga, Mamit mengatakan, masyarakat Indonesia kompak dan saling bergotong-royong. Dengan adanya sikap gotong-royong yang sudah tercermin pada masyarakat Indonesia menandakan bahwa masyarakat Indonesia bisa membantu satu sama lain dan sama-sama mengatasi atau mengurangi dampak tersebut.
"Keempat, industri perekonomian masih tetap berjalan. UMKM masih menjadi penopang utama dalam hal perekonomian nasional yang terus berjalan," ucapnya.
Selain itu, menurut Mamit, sektor migas juga masih menjadi salah satu industri yang memberikan multiplier effect (efek berganda) yang besar, tidak hanya bagi negara tetapi juga bagi masyarakat.
Target 2030 Satu juta barel dan 12 BSCFD
Mamit juga menyebut bahwa pemerintah melalui SKK Migas sudah mempunyai target 1 juta barel per hari (BOPD) dan gas 12 miliar kaki kubik per hari (BSCFD) di tahun 2030.
“SKK Migas sudah menyatakan bahwa kegiatan di hulu migas pada tahun depan terus berjalan, bahkan tidak ada pengurangan sama sekali dan akan sangat masif," sebutnya.
Mamit menambahkan, dengan bertambahnya kebutuhan rig, dengan demikian akan ada kebutuhan, seperti untuk service company dan manpower.
“Oleh karena itu dukungan dari teman-teman yang hadir dalam kegiatan ini untuk mencapai target adalah suatu hal yang mutlak,” imbaunya.
Mamit juga menjabarkan langkah-langkah yang perlu diperkuat di sektor migas untuk menghadapi dampak resesi 2023 adalah efisiensi, meningkatkan layanan kepada klien sehingga mereka tidak berpaling dan tetap menggunakan produk Indonesia, jaminan produk berkualitas dengan harga terjangkau, dan perlu adanya dukungan dari Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS).
“Kalau misalkan service company sudah membantu tetapi kegiatan KKKS-nya berkurang, SKK Migas juga mengurangi kegiatannya, maka hal ini akan berdampak juga terhadap kegiatan operasional,” kata Mamit.
Maka dari itu, Mamit menyarankan agar adanya sinergi antar stakeholder guna menunjang berjalannya kegiatan operasional dengan baik.
Resesi 2023 dalam pandangan ekonom
Sementara, Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro dalam kesempatan yang sama menyebutkan definisi resesi bisa diartikan jika suatu negara atau wilayah tumbuh negatif secara beruturut-turut selama kuartal tertentu.
Berdasarkan definisi tersebut maka ia menilai pada tahun 2020 di kuartal 2 dan 3 Indonesia telah mengalami resesi. Karena pada kuartal 2 dan kuartal 3 tersebut Indonesia menunjukkan trend negatif.
"Lantas, perbedaan resesi pada tahun 2020 dan yang akan datang pada 2023 terletak pada dua fundamental yang berbeda. Pada 2020, jika dilihat dari aspek ekonomi makro, sisi ekonomi dan produksi terkena dampaknya. Hal itu disebabkan karena adanya pandemi Covid-19 yang mengakibatkan adanya pembatasan dari segala sektor dalam skala besar, seperti pembatasan aktivitas masyarakat. Sehingga menjadi wajar kalau pertumbuhannya pada saat itu negatif.” jelasnya.
Di 2023, menurut Komaidi, faktor pemberatnya adalah konflik Ukraina dan Rusia yang belum usai. Faktor utamanya ada di Rusia yang menjadi jangkar energi dari wilayah Uni Eropa. Tetapi dari aspek sisi ekonomi makro, Indonesia sudah lebih baik dari tahun sebelumnya.
“Rusia itu memasok sekitar 14 negara di Uni Eropa. Mereka bergantung dengan Rusia. Inilah yang mungkin menjadi sinyal bahwa 2023 menjadi gelap,” jelasnya.
Namun, lanjut Komaidi, di sektor migas ada satu hal yang perlu diperhatikan, yaitu perlunya peningkatan kegiatan eksplorasi agar defisit yang mungkin akan muncul bisa ditutup.
Saat ini kegiatan eksplorasi hanya sekitar 8 persen - 9 persen dibandingkan dengan kegiatan eksploitasi yang mencapai sekitar 90 persen.
"Terlebih dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2023, target lifting minyak mentah ke posisi 660.000 barel per hari. Sedangkan SKK Migas pada 2030 mempunyai target satu juta barel per hari,' ucapnya.
Oleh karena itu, Komaidi menyarankan agar proses perizinan atau mekanisme usaha di hulu migas dipermudah. Menurutnya, saat ini saja dari masa eksplorasi sampai eksploitasi harus melewati 373 izin dan melibatkan 13-16 kementerian atau lembaga.
"Mungkin 2-3 tahun baru selesai (perizinannya). Nah ini kan berkaitan dengan risiko investasi temen-temen Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS). Indikatornya banyak publikasi yang menyebutkan bahwa risiko investasi di Indonesia paling besar, fiskalnya paling bermasalah dibandingkan dengan negara-negara lain, dan Internal Rate of Return (IRR) nya juga paling kecil di kawasan. Ini yang perlu jadi catatan,” jelasnya.
Sebagai informasi, Alam Alsahara Indonesia mengadakan acara tahunan dengan mengusung tema Facing and Responding to Possible 2023 Recession in the Oil and Gas Industry, Kamis (15/12/2022).
Acara yang menghadirkan pembicara yaitu Direktur Eksekutif Energy Watch, Mamit Setiawan dan Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro, dihadiri oleh perwakilan dari 50 perusahaan minyak dan gas (migas).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/PT-Alam-Alsahara-Indonesia-mengadakan-acara-tahunan.jpg)