Sabtu, 11 April 2026

Berita Video

VIDEO Museum Taman Prasasti : TPU Modern Pertama di Dunia

Museum Taman Prasasti merupakan bangunan cagar budaya yang berkonsep terbuka (outdoor). tempat tersebut merupakan TPU modern pertama di dunia.

Penulis: Nuri Yatul Hikmah | Editor: Fredderix Luttex

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA PUSATMuseum Taman Prasasti merupakan bangunan cagar budaya yang berkonsep terbuka (outdoor). Di dalamnya terdapat ribuan makam bangsawan Belanda dan warga negara asing lain yang gugur di Batavia.

Makam-makam tersebut bergaya kolonialisme, neo-getik, dan Hindu Jawa.

Berlokasi di samping Kantor Walikota Administrasi Jakarta Pusat, Jalan Tanah Abang I, Petejo Selatan, Kecamatan Gambir, Jakarta Pusat, bangunan ini merupakan aset sejarah yang telah berdiri sejak abad ke-17.

Sementara bangunan utamanya dibangun pada 1844.

Yudi (33) yang merupakan pemandu wisata di Museum Prasasti ini menceritakan, mulanya taman ini merupakan area pemakaman umum yang bernama Kebon Jahe Kober dan memiliki luas 5,5 hektar.

"Tempat ini awalnya pemakaman khusus untuk warga negara asing yang tinggal di Batavia. Awalnya bernama TPU Kebon Jahe Kober dan mulai dipergunakan pada 28 September 1795," ujar Yudi saat ditemui di lokasi, Sabtu (14/10/2022).

Baca juga: Wisata Jakarta: Museum Taman Prasasti di Tanah Abang Merupakan TPU Modern Pertama di Dunia

Pria berkaos putih itu juga menambahkan, tempat tersebut merupakan TPU modern pertama di dunia.

"Tempat ini juga menjadi pemakaman umum terbesar di masanya, dan berjalan sampai tahun 1974," ujar Yudi.

Yudi mejelaskan, berakhirnya TPU Kebon Jahe Kober adalah saat diresmikan menjadi milik Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta.

Baca juga: Mengenang Rasulullah Lewat Museum Sejarah Islam di Bekasi, Banyak Replika Barang Menakjubkan

Ia menambahkan, saat itu semua jenazahnya diangkat dan dipindahkan ke Taman Kusir, Pantai Pulo, serta ada yang dibawa ke Belanda.

Sementara batu-batu nisannya, ditata ulang dan diatur sedemikian rupa.

Tempat tersebut pun berubah menjadi Museum Prasasti dan diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin pada 9 Juli 1977.

Namun, kata Yudi, lahan tersebut mengalami penyusutan karrna perkembangan kota DKI Jakarta, sehingga luasnya menjadi 1,3 hektar saja.

Baca juga: Meriahnya Atraksi Kesenian Debus dan Tari Rampak Bedug di Museum Perumusan Naskah Proklamasi

"Ada 20 koleksi unggulan yang bisa kami jelaskan kepada pengunjung, seperti Olivia de Rafles, Soe Hok Gie, Layden, dan masih banyak lagi," jelasnya.

Pantauan Wartakotalive.com di lokasi, prasasti-prasasti makam tersebut memiliki bentuk yang berbeda-beda.

Sumber: WartaKota
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved