Catatan Ilham Bintang

Tentang Parodi Polisi Fashion Week, dari Putri Chandrawathi sampai Andi Rian Djayadi

Penampilan Putri Chandrawathi dan Brigjen Pol Andi Rian Djayadi dengan atas, pakaian, dan jam tangan mewah memunculkan istilah Polisi Fashion Week.

Editor: Suprapto
Capture video
Penampilan Putri Chandrawathi dan Brigjen Pol Andi Rian Djayadi dengan atas, pakaian, dan jam tangan mewah memunculkan istilah Polisi Fashion Week. Foto: Putri Candrawathi bersama suami, Irjen Pol Ferdy Sambo, saat rekonstruksi pembunuhan Brigadir J. 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA-- Judul itu bukan dari saya tapi mengutip konten media sosial yang memarodikan hedonisme di lingkungan Polri.

Itulah salah satu ekor dari kasus "Polisi Tembak Polisi" yang terjadi 8 Juli lalu. Hingga dua bulan sejak kasus yang menggegerkan publik itu terjadi, motifnya masih simpang siur.

Polisi tampaknya mengalami kesulitan menemukan motif utama pembunuhan Brigadir Yosua, ajudan Irjen Pol Ferdy Sambo.


Pada awal peristiwa, isu pelecehan seksual sebagai motif memang menyeruak. Dalam perkembangan kemudian, hasil pemeriksaan polisi mengesampingkan motif itu.

Menkopolhukam Mohammad Mahfud MD menyebut motif perbuatan asusila namun terlalu dewasa untuk disebar ke publik. Dalam Rapat Dengar Pendapat ( RDP) dengan Komisi III, Kapolri Listyo Sigit Prabowo lebih memastikan lagi.

Tidak ada pelecehan. Juga tidak ada tembak-tembakan antar ajudan di TKP ( Tempat Kejadian Perkara) seperti dalam skenario publikasi.

Padahal, Pelaku utama serta para pendukung dan pelaku "obstruction of Justice" telah ditindak. Ditahan dan dipecat dari jabatan fungsional di institusi pengayom masyarakat itu. Namun, belakangan, kasus berkembang semakin tidak karu-karuan.

Baca juga: Terkait Kasus Ferdy Sambo, Mantan Wakapolri Oegroseno Sebut Anak Buah Boleh Tolak Perintah Atasan

Pelecehan dan pemerkosaan atas Putri Candrawathi sebagai motif pembunuhan muncul lagi. Ditimbulkan oleh Komnas Ham dan Komnas Perempuan.

Entah seperti apa metodologi pemeriksaan dua lembaga itu yang menganulir hasil pemeriksaan penyidik resmi polisi.

Padahal, publik mengikuti kerja Komnas Ham dan Komnas Perempuan pada sebulan pertama kejadian. Justru yang kita tahu mereka kesulitan mengakses tersangka para pelaku utama.

Setelah polisi hampir rampung memberkas hasil penyidikan untuk diajukan ke pengadilan, tiba-tiba dua lembaga swadaya masyarakat itu menyalip di tikungan dengan kesimpulan sumir.

Disebut sumir, karena temuannya tetap saja minta didalami oleh polisi. Tidak heran jika banyak yang meragukan kerja Komnas Ham dan Komnas Perempuan tersebut.

Ada netizen yang menyebut di balik itu seperti ada agenda tersembunyi untuk meringankan ancaman hukuman mati bagi para pelaku. Terutama suami-istri Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi.

Baca juga: Dugaan Perselingkuhan Kuwat Maruf dengan Putri Candrawathi, Ini Kata Kabareskrim

Ada juga sinyalemen "temuan" Komnas HAM, menyimpan agenda untuk mengalihkan perhatian publik dari kegaduhan kenaikan BBM yang kini memantik aksi unjuk rasa mahasiswa dan buruh di mana- mana.

Masyarakat luas memang menganggap tidak cukup alasan bagi pemerintah menaikkan harga BBM.

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved