Kamis, 14 Mei 2026

Lifestyle

Ketika Sampah Plastik Tak Lagi Menjadi Limbah

Sampah plastik sulit diurai oleh alam, namun sampah plastik bisa dikelola untuk menjadi bahan bakar minyak. 

Tayang:
Editor: LilisSetyaningsih
istimewa/dok. Chandra Asri
Masyarakat mengambil sampah yang berserakan di tepi laut untuk dioleh menjadi bahan bakar lewat Program Sagari 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA -- Sampah plastik masih menjadi persoalan lingkungan.

Hal ini karena plastik sulit diurai oleh alam.

Walaupun sulit diurai oleh alam, namun sampah plastik bisa dikelola untuk menjadi bahan bakar minyak. 

Hal ini dilakukan  PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (Chandra Asri), lewat Program Sagari.

Program ini berawal dari mengambil sampah dari masyarakat, mengolah di IPST (Industri pengolahan sampah terpadu) Asari lalu menjadi bahan bakar minyak. 

Baca juga: Komunitas Sea Savers Ajarkan Warga Cilincing Mengelola Sampah Plastik dengan Kreatif

Baca juga: Warga Pesisir di Cilincing Diajarkan Cara Kelola Sampah Plastik dengan Kreatif

Bahan bakar minyak yang didapat bisa digunakan untuk menyalakan mesin kendaraan bermotor, memasak, atau menjadi solar untuk mesin perahu nelayan. 

Nama Sagara diambil dari Bahasa Sansekerta yang  berarti laut.

Wawan Mulyana selaku Community Relations Manager PT Chandra Asri Petrochemical Tbk mengatakan, Program Sagara, adalah sebuah program yang diinisiasi oleh Chandra Asri untuk mengedukasi dan mendorong kebiasaan memilah sampah dari sumbernya.

Chandra Asri melibatkan masyarakat serta nelayan di sekitar pantai Anyer untuk memilah sampah rumah tangga dan juga mengangkut sampah plastik yang mereka temukan saat melaut.

Baca juga: Kurangi Sampah Plastik Saat Belanja Online dengan Mencermati Labelnya

Baca juga: Inspeksi Pelaksanaan Pekan Gerakan Jakarta Sadar Sampah, Anies Baswedan Apresiasi Kekompakan Warga

Sampah yang terkumpul dikonversikan menjadi tabungan untuk kebutuhan masyarakat sehari-hari melalui kerjasama Chandra Asri dengan Bank Sampah Digital, sebuah Social Enterprise Pengelola Sampah Kering.

Sedangkan sampah plastik lainnya yang tergolong low-value dikirim ke IPST Asari untuk dipilah kembali sesuai jenisnya, kemudian dicacah dan diolah dengan mesin pirolisis menjadi bahan bakar jenis Bensin Plas, Minyak Tanah Plas dan Solar Plas.

"Lewat program ini sampah bernilai ekonomi rendah seperti sampah kantong kresek yang tidak diminati pengepul karena berat jenisnya yang ringan pun tetap dapat bermanfaat dan memberikan nilai tambah," kata Wawan. 

Sampah ini juga bisa berasal dari jauh yang terbawa air laut.

"Kita berikan bantuan perahu motor untuk mengangkut sampah di pesisir yang kalau musim angin darat, itu laut membawa banyak sampah yang sebetulnya datangnya bukan dari warga sini, tapi dari Jakarta dan Lampung," paparnya.

Wawan menegaskan, Program Sagara tidak hanya mengurangi jumlah sampah tapi juga berharap ada value ke masyarakat. 

"Program ini bekerjasama dengan bank sampah digital yang nantinya bisa jadi tabungan mereka setiap kali setor sampah," imbuhnya. 

Direktur Legal, External Affairs & Circular Economy Chandra Asri Edi Rivai, mengatakan permasalahan sampah dapat diatasi dengan keterlibatan berbagai pihak.

Baca juga: Soal Sampah Laut, Peneliti BRIN Sebut 80 Persen Sampah Plastik Diloloskan dari Sungai ke Laut

Program Sagari dan IPST Asari ini merupakan satu rangkaian pengelolaan sampah terintegrasi (end-to-end plastic waste management) yang tak terpisahkan.

Mulai dari pemisahan, pengumpulan hingga pengolahan sampah menjadi produk bernilai yang dapat dimanfaatkan kembali oleh masyarakat.

Sejak awal program pada September 2021 hingga saat ini, Program Sagara berhasil memberikan dampak positif antara lain 10 ton sampah daur ulang terkelola yang mana 3,7 ton di antaranya adalah sampah plastik.

Sebanyak 222 kepala keluarga atau 812 orang telah menerima manfaat dari program tersebut.

Baca juga: Lakukan Audit, Yayasan di Bali Sebut Sejumlah Perusahaan Ini Penyumbang Sampah Plastik Terbesar

Bersama kelompok masyarakat KSM Sehati Maju Bersama, Chandra Asri mengelola IPST Asari yang mampu menampung hingga 8.000 kg sampah plastik perbulan dan mengolahnya dalam mesin pirolisis dengan kapasitas 100kg/batch.

Selain berasal dari program Sagara, bahan baku sampah plastik yang dipasok ke IPST Asari juga berasal dari sampah rumah tangga warga sekitar dan sampah perkantoran dari Site Office Chandra Asri.

Hingga Mei 2022, fasilitas IPST Asari telah berhasil mengalihkan 12.816 kg sampah plastik dari TPA dan mengubahnya menjadi 4.936 liter BBM Plas melalui proses pirolisis.

Selain itu, 10 lapangan kerja tercipta serta sebanyak 2.898 orang telah menerima manfaat dari keberadaan fasilitas pengolahan sampah ini.

Baca juga: Pemulung Masih jadi Tumpuan Besar Pengelolaan Sampah Plastik di Indonesia, IPCIC Umumkan Pemenang

Bahkan menurut Wawan, lewat tabungan sampah ini ada warga yang berharap dapat mengumpulkan dana umroh. 

“Berbagai inisiatif keberlanjutan yang dilakukan oleh Chandra Asri ini merupakan bentuk dukungan kami terhadap Pemerintah yang telah menetapkan target nasional pengurangan sampah sebanyak 30 persen dan penanganan sampah sebanyak 70 persen pada tahun 2025 serta pengurangan 70 persen sampah plastik laut pada tahun 2025,” tutur Edi Rivai.

Sumber: WartaKota
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved