Selasa, 5 Mei 2026

IDI: Ganja Medis Bisa Jadi Alternatif, tapi Bukan yang Terbaik

Meski terdapat obat ganja yang telah diberikan persetujuan penggunaannya, belum ada bukti obat ganja lebih baik.

Tayang:

WARTAKOTALIVE, JAKARTA - Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Profesor Zubairi Djoerban mengatakan, meski ganja medis legal di sejumlah negara, bukan berarti sepenuhnya aman digunakan.

Jika penggunaan tidak ketat, katanya, bisa terjadi penyalahgunaan yang menyebabkan konsekuensi kesehatan.

"Banyak sekali studi tentang ganja. Beberapa bisa menjadi obat, namun masih banyak juga yang belum diketahui tentang tanaman ini, dan bagaimana ia berinteraksi dengan obat lain serta tubuh manusia," cuitnya di Twitter.

Baca juga: Misi Damai Jokowi ke Rusia Tak Direspons Positif Vladimir Putin, Indonesia Tak Perlu Kecil Hati

Di Amerika Serikat misalnya, FDA atau BPOM milik AS telah menyetujui satu obat ganja nabati (Epidiolex), yang mengandung cannabidiol murni (CBD) dari tanaman ganja.

Obat ini digunakan untuk mengobati kejang serta kelainan genetik langka.

FDA juga telah menyetujui dua obat sintetis tetrahydrocannabinol (THC).

Baca juga: Menteri PANRB Pengganti Tjahjo Kumolo Diprediksi Kader PDIP Lagi, Ini Alasannya

Obat-obatan ini digunakan untuk mengobati mual pada pasien kanker yang menjalani kemoterapi (antimuntah), dan untuk meningkatkan nafsu makan pada pasien HIV/AIDS.

Meski terdapat obat ganja yang telah diberikan persetujuan penggunaannya, belum ada bukti obat ganja lebih baik, termasuk untuk nyeri kanker dan epilepsi.

"Ganja medis bisa menjadi pilihan atau alternatif, tapi bukan yang terbaik."

Baca juga: Empat Kader PDIP Ini Dinilai Berpotensi Jadi Menteri PANRB, Ada Ahok dan Ganjar

"Sebab, belum ada juga penyakit yang obat primernya adalah ganja," ungkap Zubairi.

Penggunaan ganja medis harus diawasi dengan sangat ketat oleh dokter yang meresepkannya, lantaran dapat menimbulkan efek samping.

Dosis yang dibutuhkan untuk tujuan medis biasanya jauh lebih rendah daripada untuk rekreasi.

Baca juga: Waketum PKB: Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya Dibangun untuk Menang, Bukan Hanya Bisa Mencalonkan

"Yang jelas, saat pengobatan, pasien tidak boleh mengemudi."

"Kemudian THC & CBD ini tidak boleh dipakai sama sekali perempuan hamil & menyusui," beber dokter di RS Kramat Jati ini.

Sejauh ini, para ilmuwan tidak punya cukup bukti untuk menyatakan konsumsi dengan cara tertentu lebih aman dari yang lain. Merokok ganja tentu merusak paru dan sistem kardiovaskular layaknya tembakau.

Baca juga: Disindir Efendi Simbolon KIB Tak Punya Figur Capres, Politisi Partai Golkar: Ojo Kesusu

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved