Waisak
Menilik Makna Persembahan di Altar Saat Perayaan Waisak
Menurut Ferry Oranto, Ketua Pengurus vihara Silaparamita, aktivitas itu merupakan pemaknaan simbol dalam rangkaian prosesi perayaan Waisak.
Penulis: Rendy Rutama |
Laporan Wartakotalive.com, Rendy Rutama Putra
WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Jelang perayaan puncak Hari Raya Waisak 2022 Masehi, di Vihara Silaparamita yang terletak di Jalan Raya Cipinang Jaya No. 1 Jakarta Timur, tampak aktivitas pemuda di vihara itu menggelar prosesi, dengan membawa barang bawaan untuk kemudian disajikan di atas altar seperti air, buah-buahan, bunga, lilin, dupa, dan manisan.
Menurut Ferry Oranto, Ketua Pengurus vihara Silaparamita, aktivitas itu merupakan pemaknaan simbol dalam rangkaian prosesi perayaan Waisak.
"Itu termasuk prosesi iring-iringan persembahan Puja Bakti Trisuci Waisak, dan bagian dari runtutan acara perayaan nanti," ujar Ferry saat ditemui Wartakotalive.com di lokasi, Minggu (15/5/2022).
Ia menjelaskan, setiap barang yang dibawa pemuda Vihara tersebut, tentunya memiliki ragam arti atau makna yang beragam.
Arti makna tersebut, lahir sudah rutin turun temurun dipercaya dan terus dipertahankan, dan merupakan bagian dari simbol yang kerap di sajikan dalam acara serupa ini.
Baca juga: Wisata Religi di Vihara Buddha Dharma, Ada Patung Sleeping Buddha Terbesar di Indonesia
"Sudah kita persiapkan dari kemarin malam terkait barang tersebut, dan tentunya itu semua memiliki makna yang beragam," ujar Ferry.
Dia pun menjelaskan makna dari simbol yang dibawa pemuda menuju ke atas altar tersebut.
1. Lilin
Lilin dilambangkan sebagai penerang dan simbol pemberani, sebab dirasa dapat mengorbankan dirinya untuk penerangan orang lain hingga tubuhnya perlahan meleleh hancur.
2. Air
Air memiliki sifat kerap mencari tempat yang lebih rendah.
"Dari hal ini membuat umat Buddha juga seyogya nya harus rendah hati dan gemar menolong orang lain," kata Ferry.
3. Dupa
Hal ini merupakan jenis wangian yang dipersembahkan dengan melambangkan nama baik itu tidak akan bisa melawan arah angin, tetapi kepercayaan umat Buddha, yakni senantiasa harus banyak berbuat kebaikan.
4. Bunga
Bunga dirasa terlihat begitu indah, dan harum wanginya, akan tetapi lambat lau akan layu.
"Hal itu dikaitkan sama seperti badan jasmani seseorang, siapapun dia, agamanya seperti apa, tinggal di mana, dan memiliki jabatan atau tidak, tetap saja badan jasmani perlahan akan hancur," terang Ferry.
5. Buah
Buah-buahan dalam hal ini merupakan manisan, yang berarti hanya merupakan pelengkap di atas altar.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/altar-vihara-silaparamita-vihara-silaparamita.jpg)