Hari Raya Idulfitri

Tradisi Lebaran di Papua Bukti Kokohnya Toleransi Beragama dan Kedamaian

Setiap suku bahkan secara geneologis memiliki hubungan kekerabatan sehingga bangunan hubungan kerja sama terus terjaga erat.

tangkapan layar
Akademisi dari Universitas Indonesia Dr. Ngatawi Al-Zastrow saat webinar bertajuk ‘Eid Traditions in Papua and Religious Tolerance’ yang dikutip dari YouTube INC TV pada Kamis (12/5/2022). 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA -- Tradisi Lebaran atau Hari Raya Idulfitri di Papua membuktikan bahwa kokohnya toleransi beragama dan kedamaian di Tanah Air.

Bangsa Indonesia bahkan dianggap harus belajar dari Papua yang penuh dengan keberagaman namun tetap menjunjung toleransi.

Akademisi dari Universitas Indonesia Dr Ngatawi Al-Zastrow mengibaratkan, Papua bagaikan gadis cantik yang masih lugu.

Karena itu, semua orang ingin menguasai dan menikmati, perlu untuk diberi pemahaman.

Menurutnya, toleransi pada Idulfitri di Papua tergambar pada Pawai Hadrat, suatu upacara masyarakat Kabupaten Kaimana, Provinsi Papua Barat.

Pawai ini dimeriahkan dengan tetabuhan kendang, tifa, rebana untuk mengiring shalawat.

Baca juga: Tema Ceramah Idul Fitri di Istiqlal Terkait Keberagaman, Persatuan, & Kerukunan Antar Umat Beragama

Warga yang mengikuti pawai akan menari bersama sambil berkeliling silaturahmi.

Selain di Kaimana, tradisi pawai Hadrat juga dilaksanakan di Jayapura.

Baca juga: Safari Ramadhan di Kota Medan, Ganjar Kaitkan Toleransi dengan Kebhinekaan

Meski tradisi ini untuk merayakan hari besar Islam, namun banyak melibakan umat non muslim di dalamnya, sehingga menjadi momentum membangun toleransi dan moderasi.

“Masyarakat Papua tidak hanya memiliki kekayaan alam yang melimpah tetapi juga kekayaan budaya dan tradisi yang jika dikembangkan bisa dijadikan modal membangun kesejahteraan warganya,” kata Ngatawi saat webinar bertajuk ‘Eid Traditions in Papua and Religious Tolerance’ yang dikutip dari YouTube INC TV pada Kamis (12/5/2022).

Ngatwi juga mengajak agar khalayak dapat berguru dan belajar dari warisan tradisi, nilai-nilai yang sudah diwariskan oleh para leluhur.

Kata dia, sudah begitu banyak intan permata berlian yang diwariskan para leluhur tetapi lupa dan tidak tahu karena masyarakat tidak pernah mengasah dan menggalinya.

Baca juga: Selama Libur Lebaran, Pantai Karawang Dikunjungi 82 Ribu Orang

“Mari kita gali, kita asah, supaya intan permata berlian kebudayaan yang diwariskan oleh para leluhur itu bisa menjadi pedoman dan sesuatu yang mahal dan bermanfaat dalam kehidupan kita. Berhentilah berebut sebutir pisang sambil menyia-nyiakan butiran permata yang diwariskan kepada kita,” ujar mantan Ketua Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini.

Pada kesempatan yang sama, Koordinator Mahasiswa Papua di Jabodetabek, Moytuer Boymasa menilai Papua secara umum mementingkan persaudaraan antarumat beragama, suku, dan unsur-unsur lain yang ada di tanah Papua.

Baca juga: 2022 Tahun Toleransi, Menteri Agama: Mari Terus Rajut Persaudaraan dan Bangkit Bersama

Halaman
12
Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved