Perawat

Selama Pandemi Sedikitnya 711 Perawat Gugur, PPNI Minta Pemerintah Tetapkan Hari Perawat Nasional

PPNI kata dia, saat ini masih terus perjuangkan kesejahteraan terutama bagi perawat swasta yang masih banyak belum terlindungi kesejahteraannya.

Istimewa
Ketua Umum PPNI Dr Harif Fadhillah, S.Kp, SH, M.Kep, MH saat jumpa pers dalam rangka HUT PPNI, Kamis (17/03/2022) di Graha PPNI, Jakarta Selatan, siang tadi. 

WARTAKOTALIVE.COM -- Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) pada Kamis (17/03/2022) hari ini merayakan hari jadinya yang ke 48.

Di usianya yang tidak tergolong muda ini, PPNI mengaku tetap memperjuangkan anggotanya (perawat) di seluruh Indonesia, untuk mendapatkan kesejahteraan yang layak.

Ketua Umum PPNI Dr Harif Fadhillah menjelaskan sejak tahun 2000 hingga masa kepemimpinannya PPNI telah meminta kepada pemerintah untuk menetapkan hari jadi PPNI sebagai hari besar nasional yakni Hari Perawat Nasional.

"Kami mengidentikkan hari ini sebagai Hari Nasional bagi Perawat, dan kami telah mengusulkannya sejak tahun 2000 silam. Namun belum diwujudkan oleh pemerintah," kata Harif Fadhillah saat jumpa pers dalam rangka HUT PPNI, Kamis (17/03/2022) di Graha PPNI, Jakarta Selatan.

Selama ini, tambah Harif, PPNI telah melakukan perjuangan dalam tiga hal.

Pertama berjuang kepada anggota dalam hal ini ikut menyelesaikan persoalan yang ada di tengah-tengah anggotanya. 

Baca juga: PPNI Laporkan Ada 160 Tenaga Kesehatan Terinfeksi Covid-19 pada Periode 1 Januari-11 Februari 2022

Kedua, bertanggungjawab terhadap profesi bagaimana PPNI meningkatkan profesionalisme perawat Indonesia. Yakni bagaimana membangun standar, kode etik, kompetensi hingga penataan pendidikan perawat sedemikian rupa. 

Ketiga, kata dia, tanggungjawab PPNI kepada masyarakat, dimana perawat terlibat dalam masalah sosial yang ada terutama masalah kesehatan.

Dalam hal ini ada dua jalan yakni bagaimana PPNI bertanggungjawab kepada masyarakat dalam hal terkait kesehatan.

Baca juga: PPNI Minta Pemerintah Lindungi Perawat dari Intimidasi Fisik Maupun Verbal

Ia menontohkan Kantor PPNI menjadi pusat komunikasi masyarakat kesehatan dan hotline service untuk konsultasi. 

"Itulah tiga hal yang menjadi perhatian PPNI untuk mendukung program pemerintah dalam mengedukasi masyarakat," papar Harif. 

Pihaknya kata Arif juga bekerjasama dengan stakeholder selain pemerintah, diantaranya sejumlah organisasi kemasyarakatan. 

Baca juga: Perawat RS Siloam Sriwijaya Dianiaya Keluarga Pasien, Ini Tanggapan PPNI

Menyikapi kondisi saat ini dimana masa pandemi Covid-19 bertransisi menjadi endemi, Harif mengatakan pihaknya akan tetap mempersiapkan dengan terus menjaga perilaku anggotanya dan masyarakat untuk tetap taat prokes.

"Mendengar ini kita cukup senang, namun kita harus tetap menjaga perilaku kita dimasa endemi," ucapnya. 

Baca juga: ENAM Perawat Meninggal Terpapar Covid-19, PPNI Minta Keamanan Saat Layani Pasien Ditingkatkan

Menjawab pertanyaan wartawan tentang banyaknya perawat yang meninggal akibat Covid-19, Harif memaparkan, hingga saat ini berdasarkan laporan yang ada sudah 711 orang perawat yang meninggal dunia, selama penanganan Covid. 

PPNI kata dia, saat ini masih terus perjuangkan kesejahteraan terutama bagi perawat swasta yang masih banyak belum terlindungi kesejahteraannya.

"Hingga saat ini kami tetap memperjuangkan kesejahteraan perawat swasta. Ini harapan yang kita sampaikan kepada pemerintah. Bukan hanya mendapatkan upah minimum provinsi dan kabupaten, ini sasaran kita," katanya.

Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved