Pembelajaran Tatap Muka
Dinas Pendidikan DKI tak Khawatir Bocah TK dan PAUD Terpapar Varian Omicron saat Ikuti PTM
Dinas Pendidikan DKI Jakarta akhirnya buka suara terkait kebijakan yang menggelar PTM terbatas untuk semua jenjang pendidikan.
Penulis: Yolanda Putri Dewanti | Editor: Valentino Verry
Menurutnya, pengawasan protokol kesehatan (prokes) juga akan diperketat lagi.
"Untuk pengawasan juga di sekolah pun juga sama, di perketat lagi," tambahnya.
Kendati demikian, kata dia, untuk mengantisipasi adanya virus Covid-19 pihak sekolah akan berupaya seoptimal mungkin demi sekolah tetap aman dan nyaman.
Baca juga: Charly Van Houten Dapat Tugas Gaet Suara Milenial untuk Membesarkan PAN di Jawa Barat
"Kan virus itu bukan hanya di sekolah saja, di lingkungan masyarakat itu berbahaya juga,” katanya.
“Artinya kita tetap berupaya semaksimal mungkin mengondisikan sekolah tetap aman, belajar nyaman, belajar juga sesuai dengan tujuan kurikulum mudah-mudahan bisa yang kemarin tertinggal itu cepat dikejar dalam PTM yang 100 persen ini, serta tetap mengedepankan kesehatan keselamatan," tuturnya.
Dilansir dari Kompas.com, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) merekomendasikan anak berusia di bawah 6 tahun tak mengikuti pembelajaran tatap muka.
Rekomendasi itu disampaikan IDAI merespons Pemprov DKI Jakarta yang memulai sekolah tatap muka 100 persen.
"Untuk kategori anak usia dibawah 6 tahun, sekolah pembelajaran tatap muka belum dianjurkan sampai dinyatakan tidak ada kasus baru Covid-19 atau tidak ada peningkatan kasus baru," demikian rekomendasi IDAI yang ditandatangani Ketua Umum IDAI Piprim Basarah Yanuarso, Minggu (2/1/2022).
Baca juga: Kronologi Kecelakaan Yang Tewaskan Raychan Adji, Mobil Operasional Persikabo Tak Bisa Hindari Truk
Untuk anak berusia di bawah enam tahun yang belum bisa mengikuti sekolah tatap muka, IDAI merekomendasikan pembelajaran sinkronisasi dan asinkronisasi dengan metode daring dan mengaktifkan keterlibatan orang tua di rumah.
Pola pembelajaran juga disarankan banyak melakukan kegiatan di ruang terbuka untuk mengeksplorasi kreativitas anak.
"Misalnya, melakukan permainan daerah di rumah, dan melakukan pembelajaran outdoor mandiri di tempat terbuka masing-masing keluarga dengan modul yang diarahkan sekolah seperti aktivitas berkebun, eksplorasi alam dan sebagainya," demikian lanjut rekomendasi IDAI.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/sdn-01-kalideres.jpg)